ETLE VS Kaum Akal-Akalan

ETLE VS Kaum Akal-Akalan 1

Bagi warga plus enam dua yang suka nyelipin uang gocapan di dalam plastik STNK ada kabar mengejutkan nih buat klean-klean, karena mulai dilantiknya Bapak Kapolri baru kita Jenderal Listyo Sigit Prabowo, polisi tidak akan lagi menilang di jalan guys. Melainkan nantinya surat tilang itu sendiri yang akan datang ke rumah kita lewat Pos Indonesia. Jadi tidak ada lagi kata ‘uang damai’ dengan cara kasih surprise petugas Polisi Lalu Lintas (Polantas) lewat uang biru-biru di selipan STNK lagi atau apapun caranya. Setidaknya kalian tidak akan lagi waspada ketika berkendara melihat polisi berkumpul di jalan, tapi bagi klean yang tidak pernah online shopping menggunakan jasa pengiriman Pos Indonesia harus mulai muhasabah diri kalau tiba-tiba ada kurir Pos Indonesia teriak ‘Paket!’ di depan rumah klean.

Pria yang baru saja dilantik jadi Kapolri oleh Presiden Joko Widodo ini mengatakan, ia akan mengedepankan mekanisme penegakan hukum berbasis elektronik di bidang lalu lintas. Penegakan hukum lalu lintas berbasis elektronik itu salah satunya melalui Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Mekanisme tersebut memang sudah lama ada di Indonesia sejak tahun 2018 tapi baru berlaku di beberapa jalan protokol di kota-kota tertentu saja seperti, DKI Jakarta, Surabaya, dan D.I. Yogyakarta. Kedepannya mekanisme ini akan dikembangkan di tiap daerah di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Maling selalu lebih pintar dari Polisi,” kata-kata ini memang sangat populer dikalangan masyarakat umum. Meskipun kita bukan maling tapi kata-kata itu rasanya sangat pas untuk disematkan kepada orang-orang selalu punya akal menyalahi aturan hukum. Tapi eh tapi untuk ETLE ini, kalau kalian hanya baru kepikiran mengakalinya dengan mengganti dengan plat nomor palsu, klean harus hati-hati karena jika kalian sampai melakukan itu klean harus siap-siap plat nomor palsu klean auto dicatatkan ke dalam database DPO. Iya DPO, bukan Dewan Perwakilan Omel-omel-nya Bintang Emon ya, Tapi Daftar Pencarian Orang. Karena jika ditemukan mobil atau motor dengan plat nomor sekian tapi tidak sama ciri-cirinya dengan data yang ada di STNK klean akan diindikasikan membawa mobil atau motor curian. Jadi daripada mengakal-akali peraturan yang ada lebih baik kita mulai mempertimbangkan naik kendaraan umum.

Nantinya ketika klean sudah menerima surat tilang yang dikirimkan Pos Indonesia ke alamat , klean tidak bisa mengelak lagi atau beralasan “Rambunya gak keliatan pak.” Karena disana ada jelas waktu, tanggal, foto, bahkan videonya pun ada. Jadi yang perlu klean lakukan hanyalah membayar denda maksimal yang tertera pada surat tilang tersebut lewat Bank BRI dalam bentuk Briva (BRI Virtual Account). Kenapa denda maksimal? ya karena kasus pelanggaran klean akan disidangkan di kemudian hari, jika denda final klean lebih rendah dari apa yang telah dibayarkan uang klean akan dikembalikan oleh pihak pengadilan negeri. Sudah dipastikan para calo yang ada di pengadilan negeri pun harus beralih profesi jika mekanisme ini sudah berlaku di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan begitu silaturahmi yang terjadi antara polantas dan masyarakat pun akan berkurang, karena polantas nantinya hanya akan fokus pada bagian pengaturan Lalu-Lintas. Ya, nantinya kita akan lebih sering melihat Polisi melambai-lambaikan tangannya di persimpangan Traffic Light atau ujung kemacetan ketimbang Polisi yang memegang pulpen dan buku tilang. Bukan hanya perilaku polantas saja yang akan berubah, klean akan lebih waspada ketika berada di bawah kamera ETLE, terutama kegiatan menggaruk bagian sekitar telinga karena jika terlihat dari tangkapan layar seolah klean sedang menelepon bisa terkena pasal 106 ayat 1 tentang “pengemudi wajib mengendarai kendaraan dengan penuh konsentrasi.”

Di sisi lain kita juga akan bersedih hati karena salah satu segmen di acara TV, yaitu lapan enam pasti akan hilang. Sebenarnya salah satu segmen itu adalah cita-cita saya agar bisa masuk TV. Iya, segmen dimana ada polantas ganteng dan Polwan cantik menegur langsung pengendara yang melanggar rambu Lalu lintas atau marka jalan dan memberikan surat tilang langsung. Bukan hanya dapat kesempatan untuk masuk TV tapi juga kita bisa bertemu dengan Polantas kece ini langsung dan berselfie-ria adalah kesempatan yang sangat jarang orang biasa dapatkan untuk jadi bahan pansos.

Budaya akan selalu berubah mengikuti perubahan zaman dan inilah pijakan kita untuk merubah budaya lirik kanan-kiri untuk mencari kesempatan melanggar ketika berkendara. Yok! “Utamakan Keselamatan Bukan Kesempatan.”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sofyan Sauri