Femicide di Honduras, Tempat Paling Berbahaya bagi Perempuan

Femicide di Honduras, Tempat Paling Berbahaya bagi Perempuan 1

Kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu masalah sosial yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia dan semenjak pandemi kekerasan terhadap perempuan terus mengalami peningkatan. Namun dari berbagai temat di berbagai belahan dunia, Amerika Tengah tercatat sebagai kawasan yang paling berbahaya bagi perempuan, dimana negara seperti El Salvador, Guatemala dan Honduras menduduki peringkat sebagai sejumlah negara dimana angka pembunuhan terhadap perempuan tertinggi.

Dari ketiga negara tersebut Honduras merupakan yang terparah, dimana dalam kurun waktu setahun terakhir ini setiap 36 jam satu perempuan dibunuh di Honduras. Namun apakah yang sebenarnya menyebabkan femicide atau pemnunuhan terhadap perempuan ini begitu tinggi di Honduras, berikut ini akan dibebeberkan beberapa penyebabnya.

Budaya “Machismo”  yang Mengakar Kuat

Protes dilakukan di Tegucigalpa, ibu kota Honduras untuk menentang kekerasan terhadap perempuan
Protes dilakukan di Tegucigalpa, ibu kota Honduras untuk menentang kekerasan terhadap perempuan

Salah satu penyebab tingginya kekerasan perempuan di Honduras adalah adanya budaya machismo yang telah lama mengakar kuat. Machismo berasal dari kata spanyol dan portugis “macho” yang artinya laki-laki, tetapi machismo sendiri lebih kepada anggapan mengenai maskulinitas yang berlebihan. Hal ini dapat digambarkan di masyarakat Honduras dimana terdapat relasi kuasa yang sangat timpang antara laki-laki dan perempuan.

Dalam masyarakat seperti ini perempuan hanya dipandang sebagai objek semata, dimana laki-laki dapat berbuat sesuka hati. Kekerasan dalam rumah tangga bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para istri disana, dimana tidak hanya kekerasan verbal namun kekerasan fisik yang bahkan sampai berujung nyawa juga tidak jarang terjadi. Sementara dalam dunia kerja perempuan kerap kali diremehkan dan di diskriminasi sehingga membuat banyak perempuan tidak nyaman bekerja di lingkungan yang  di dominasi laki-laki.

Budaya machismo juga telah merenggut kepercayaan publik terhadap keadilan hukum di negara tersebut. Ini dikarenakan 95% kasus dari pelaku kekerasan terhadap wanita dibiarkan begitu saja tanpa ada sanksi serius yang menimpa para pelakunya. Hal ini membuat banyak perempuan yang merasa putus asa dalam melihat nasib mereka ke depan, dimana polisi sangat sedikit memberikan perlindungan terhadap keamanan wanita dan anak-anak.

Geng Kriminal Bersenjata yang Sering Menyasar Perempuan 

Barrio 18, salah satu geng kriminal bersenjata paling ditakuti di Honduras
Barrio 18, salah satu geng kriminal bersenjata paling ditakuti di Honduras

Keberadaan geng kriminal bersenjata juga turut memperparah kondisi keamanan di Honduras. Terutama karena banyak dari geng tersebut yang menjadikan wanita sebagai sasarannya. Keterlibatan wanita dalam geng kriminal bukanlah hal yang baru, dikarenakan kekasihnya yang merupakan anggota sering memaksa wanita tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas  ilegal seperti penyelundupan narkoba atau sebagai informan.

Selain itu karena adanya larangan untuk sesama lelaki membonceng dalam satu motor karena dikaitkan dengan penembakan oleh geng bersenjata, maka perempuan lantas dilibatkan sebagai pengemudi motor. Keadaan ini tentunya membuat para perempuan tersebut berada disituasi sulit, dimana jika mereka terlibat maka akan ada kemungkinan mereka akan ditangkap oleh aparat polisi, tetapi jika menolak mereka akan diancam untuk dibunuh beserta dengan keluarganya. Ancaman ini bukanlah omong kosong belaka, dikarenakan sebgaian femicide atau pembunuhan terhadap wanita dilakukan oleh geng kriminal bersenjata.

Penjara yang sepenuhnya di kuasai oleh narapidana
Penjara yang sepenuhnya di kuasai oleh narapidana

Femicide yang dilakukan terhadap para perempuan tersebut juga dilakukan secara terang-terangan, tidak hanya di malam hari tetapi juga di siang hari. Mayat perempuan tidak hanya sering ditemukan di tanah kosong yang jauh dari pemukiman, tetapi juga pinggir-pinggir jalan di tengah kota. Pada tahun 2021 ini saja , sudah terjadi 174 pembunuhan terhadap perempuan, yang terjadi antara bulan Januari-Juli, angka yang mengkhawatirkan bagi setiap wanita disana. Kehadiran negara yang sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini justru hampir tidak dirasakan warganya.

Dikarenakan aparat kepolisian tidak memiliki kuasa yang besar menghadapi para geng bersenjata , bahkan tanpa adanya bantuan dari tentara, pihak kepolisian tidak berani menyentuh para kriminal tersebut. Bahkan setelah ditangkap dan dipenjara sekalipun banyak penjara yang hustru menjadi surga bari para kriminal tersebut, dan bukan tidak mungkin para pemimpin gang bersenjata tersebut dapat tetap mengontrol pergerakan anggotanya dari balik jeruji besi. Inilah yang kemudian membuat banyak dari keluarga korban merasa percuma saja melaporkan kondisi yang mereka alami kepada pihak yang berwenang, karena keadilan tidak akan berpihak pada mereka.

Ketakutan dan rasa tidak aman yang menghantui setiap wanita di kawasan Amerika Tengah atas berbagai kekerasan yang mereka terima, akhirnya menimbulkan gelombang imigrasi besar-besaran ke negara yang lebih aman seperti Meksiko atau Amerika Serikat, walaupun tentu saja langkah tersebut juga tidak mudah. Sementara sebagian perempuan lainnya yang tinggal memutuskan untuk melawan dengan berbagai cara, mulai dari musik hingga membentuk organisasi kemanusiaan yang bertujuan untuk mencegah adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Wicked Minds