Feminisme Laki-laki dalam Afeksi Objek Catcalling

Feminisme Laki-laki dalam Afeksi Objek Catcalling

Siapa yang tidak risih jika dirayu, dipanggil, oleh orang-orang tidak jelas yang bahkan kita tidak ketahui mereka itu siapa. Diperlakukan secara tidak pantas, mulai dari menyinggung perasaan hingga berujung pada kontak fisik yang walaupun minim tapi tetap bisa membuat risih, sering kali terjadi pada lingkungan sekitar yang kerap kali pelakunya adalah segerombolan orang, dan yang menjadi korbannya adalah satu atau dua orang. Apa tindakan yang sering gak bikin nyaman itu? Iya, catcalling. Dan tidak asing lagi karena sering kali terjadi di lingkungan masyarakat.

Ilustrasi Catcalling oleh Beberapa Perempuan kepada Seorang Laki-laki
Ilustrasi Catcalling oleh Beberapa Perempuan kepada Seorang Laki-laki

Bukan tanpa batasan, catcalling sendiri memang sering dilakukan oleh sekumpulan laki-laki kepada satu atau beberapa perempuan yang kadang lewat di dekat mereka. Tapi, gimana kalau pelaku catcalling ini perempuan?

Feminisme pada dasarnya berlaku disini. Namun, oknum yang sok tahu dan kurang intelektualnya sering kali membuat geram dengan berlindung dibalik kata ‘feminisme’ itu sendiri. Beberapa perempuan sering kali ada di zona nyaman dengan terus menjadi pihak yang dilindungi, tanpa mau melindungi atau memperhatikan kaum laki-laki. Kalau udah kaya gini, sudah bisa dipastikan bahwa mereka adalah kaum hawa minoritas yang tak ayal memandang semua laki-laki itu sama jahatnya dan tidak mau untuk mengkaji makna feminisme yang sebenarnya.

Baca juga  Yosano Akiko: Penulis Kontroversial dan Feminis Awal dalam Sejarah Jepang

Sepintas catcalling memang bukan suatu pelecehan yang buktinya maupun dampaknya bisa terlihat jelas seperti pelecehan seksual ataupun pelecehan yang berhubungan dengan fisik. Tapi, korban dari catcalling pasti punya traumanya tersendiri. Rasa minder, trauma pada faktor tertentu, takut pada segerombolan orang, ataupun takut jika berjalan sendirian adalah hal-hal yang sering dialami korban setelah menjadi korban dari catcalling.

Beberapa laki-laki mungkin cuek dengan tindakan catcalling, karena ada yang menganggapnya biasa, mental nya udah tahan banting, (maaf sebelumnya) sedang memakai earphone, ataupun yang memang dari sananya memang cuek.

Lantas, kalau kaya gitu catcalling tidak apa dong tetap ada biar laki-laki bisa lebih tahan banting? Kan kodrat laki-laki itu harus kuat. Dan lagi, laki-laki itukan sifat dasarnya cuek setengah mati. Hey girls, kamu kira laki-laki juga gak punya perasaan? Kamu kira mereka Superman yang gak boleh nangis dan berkeluh kesah? Lantas apa arti feminisme bagi kamu? Feminisme itu penyetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Sejarah adanya feminisme pun karena semua manusia, apapun jenis kelaminnya, itu punya hak yang sama. Feminisme bukan cuman berlaku untuk melindungi perempuan, bukan. Itu tentang penyetaraan hak. Oke, sampai sini paham kan kalo feminisme bukan spesialisasi atau alat untuk melindungi kaum perempuan supaya bisa bertindak semaunya.

Baca juga  Apakah perempuan terlahir untuk dikotak-kotak-kan? atau ada yang salah dengan budaya kita?

Kita semua tau kalau laki-laki pasti lebih kuat daripada perempuan. Bahkan, satu laki-laki yang jadi korban catcalling ini bisa jadi mampu untuk membalas para perempuan yang melecehkannya secara verbal. Namun, konteksnya disini mau dibalas seperti apa? Verbal juga? Kita semua juga tahu kalau perempuan lebih pintar bersilat lidah dan membalas argumen daripada laki-laki, walaupun tidak semua laki-laki bisa dengan mudah kalah dengan perempuan dalam hal adu mulut. Yaudah, kalau gitu balas aja pake fisik. Kembali ke statement awal, kalau laki-laki secara fisik kebanyakan lebih kuat daripada perempuan. Kalau sudah jadi tindakan kriminal karena kekerasan, jelas siapa yang disalahkan atas kasus seperti ini. Iya, laki-laki yang salah karena lebih unggul dalam hal adu fisik. Kan, laki-laki lagi deh yang salah.

Baca juga  Wajah Feminisme Dalam Perdamaian Dunia
Ilustrasi Laki-laki bertengkar Fisik dengan Perempuan
Ilustrasi Laki-laki bertengkar Fisik dengan Perempuan

Laki-laki sebagai pihak yang lebih kuat dalam hal fisik belum tentu menjadi pihak yang bisa dijadikan pemeran antagonis ketika berbicara mengenai feminisme itu sendiri. Menyamaratakan semua laki-laki itu tidak beradab, bukanlah suatu hal yang bijak jika membahas mengenai adanya catcalling dalam lingkungan masyarakat.

Disinilah feminisme berperan dengan tepat jika disesuaikan dengan alur ceritanya. Sekali lagi, feminisme bukan suatu gerakan ataupun alat untuk ‘melindungi’ perempuan, tapi sebuah ideologi, gerakan penyetaraan sosial, politik, ekonomi, maupun hak pribadi yang sama bagi perempuan maupun laki-laki. Pengertian dan pandangan akan feminisme yang dapat digunakan sebagai alat menyalahkan bahkan merendahkan laki-laki, itu total salah. So, catcalling tidak dibenarkan sama sekali dalam penerapannya di dunia nyata, baik pelakunya perempuan maupun laki-laki. Karna si korban, tanpa memandang jenis kelamin, dia pasti memiliki trauma dan kerugian sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Putri Ay