Fenomena Hustle Culture Generasi Milenial Apakah Toxic

Fenomena Hustle Culture Generasi Milenial Apakah Toxic

Kamu termasuk orang yang selalu menggebu – gebu ketika melihat time line sosial tentang seseorang yang sukses atau crazy rich yang selalu tampilmevvah dan viral ? sah – sah saja sih , menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan mencapai cita – cita.

Tapi jangan sampai membandingkan diri kita dengan yang lain , lalu memaksakan diri untuk bekerja keras diluar kapasitas kita ya. Mengambil beberapa pekerjaan , side job yang terkadang dipaksakan demi terlihat sibuk hingga melupakan kesehatan dan sosial.

Nah ini yang disebut , yang dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebuah gila kerja , orang bekerja secara kompulsif , mengorankan waktu tidur atau istirahat mereka dan fungsi sosial seperti teman dan . Mau itu weekdays bahkan weekend they never stop grinding.

Mungkin kamu mempunyai teman yang ketika diajak hangout sekedar bahkan di akhir pekan selalu beralasan ada kerjaan lah , ada proyek lah tidak punya waktu sedikit pun untuk sekedar ‘bermain’. Mereka merasa bersalah apabila waktunya tidak dipakai untuk bekerja.

Baca juga  Milenial atau "Kaum Capek"?

Apakah salah ? Sebenarnya tidak salah , hanya saja perlu kita sadari bahwa kita ini manusia bukan robot. Hustle culture ini bisa mengganggu life balance kita dan bisa saja menjadi waktu yang dapat merusak kehidupan seseorang.

Lalu apa saja efek negative dari hustle culture ini ? Let’s Check out

1. Overwork

Para peneliti telah mengungkapkan bahwa kebanyakan waktu bekerja menyebabkan pangaruh buruk bagi kesehatan dan mental. seperti hipertensi , penyakit jantung , diabetes , infeksi kronis , bahkan . Contohnya di negara , hal ini menyebabkan kematian dini yang disebut Karoshi, kematian karena terlalu banyak pekerjaan bukan sesuatu yang unik di jepang . Faktanya 1 dai 5 orang meninggal karena terlalu banyak bekerja.

Baca juga  Toxic Parents Bikin Tertekan, Suka Dibandingkan dengan Anak Tetangga

2. Multi tasking

Selain memaksa seseorang untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama , Hustle cultre ini memaksa seseorang untuk menyelesaikan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan atau multi tasking. dalam jangka waktu lama , multi tasking ini dapat menyebabkan seseorang kurang fokus sehingga kinerja dan kualitas pekerjaannya menurun.

3. Burn Out

pekerjaan yang tinggi , dan management stres yang buruk hustle culture bisa menyebabkan fenomena burn out . Yang ditandai dengan kemampuan bekerja yang berkurang , berpandangan negatif terhadap pekerjaan atau teman kerja dan sering merasa bersalah.

4. Kehilangan Life Balance

Huslter cenderung terlalu tenggelam dalam pekerjaan , dari ke pagi hidupnya selalu berkutat dengan deadline. Sehingga tidak ada waktu untuk teman , pasangan dan keluarga. Padahal menghabiskan waktu bersama teman , pasangan atau keluarga dapat mengurangi stress akibat beban pekerjaan. Sedangkan kebahagian berpengaruh terhadap kreativitas dan energi positif.

Baca juga  Survive dalam Lingkaran Toxic Parents, Kamu Sanggup ?
  Gambar oleh Anrita1705 dari Pixabay
  Gambar oleh Anrita1705 dari Pixabay

Work life balance adalah jalan bagaimana melakukan prioritas kerja beriringan dengan prioritas kehidupan diluar pekerjaan kita seperti kesehatan, kesenangan pribadi dan keluarga.

Hustle culture ini memang ada negative effectnya akan tetapi kabar baiknya budaya ini mendorong kita termotivasi untuk semangat meraih . Agar tidak terjebak dalam buayan hustle culture ini, kita perlu bekerja , tidak salah kerja keras namun kerja cerdas akan lebih baik. Mulailah membuat prioritas dalam kehidupan kita , sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien. Jangan sampai pekerjaan kita atau kita mengorbankan fisik dan kita. 

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ivan