Fenomena Label Halal, Demi Agama Atau Cuan ?

Fenomena Label Halal, Demi Agama Atau Cuan ? 1

Masyarakat masa kini terutama yang tinggal di perkotaan tentu sudah tidak asing lagi dengan budaya dan perilaku konsumsi. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya mereka melakukan kegiatan belanja barang. Dimulai dari barang primer alias barang kebutuhan pokok hingga barang tersier yakni barang yang menjadi pelengkap ketika barang primer dan sekunder sudah terpenuhi.

Tidak hanya itu, tidak jarang masyarakat modern melakukan pembelian suatu barang hanya karena iklan atau kemasannya saja. Ini yang kemudian menyebabkan kegiatan produksi berjalan mulus dan menargetkan masyarakat sebagai subjek konsumen atas barang tersebut. 

Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan produsen untuk mampu menggait para konsumen sebanyak-banyaknya. Upaya yang dilakukan misalnya yakni meningkatkan promosi dan memperbaiki strategi marketing. Keberhasilan praktik kegiatan yang mengandalkan modal dan sumber daya ini tidak bisa terlepas dari faktor kepentingan.

Satu sisi kegiatan ini memang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun sebenarnya masyarakatlah yang menjadi subjek sasaran untuk memenuhi kepentingan sang pemilik modal tersebut. Maka tidak jarang  dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali terjebak dalam tampilan iklan, kemasan, atau label promo untuk kemudian terbujuk membeli produk barang tertentu padahal barang yang dibeli tersebut tidak diperlukan dan bahkan tidak  dibutuhkan. Di sinilah letak maksud kata kepentingan yang telah disebutkan sebelumnya.

Sasaran dan tujuan yang utama dalam hal ini adalah apabila semakin banyak orang yang rela mengeluarkan uangnya untuk membeli suatu produk, maka akan semakin banyak pula cuan yang didapatkan. Cuan di sinilah yang kemudian menjadi faktor kepentingan tersebut. Sebelum berharap memperoleh cuan dalam jumlah yang besar, para pemilik modal biasanya menerapkan berbagai macam strategi dan beberapa diantaranya telah disebutkan di atas. Namun tidak hanya itu saja, terdapat upaya lain yang dilakukan.

Adapun upaya lain yang dilakukan adalah mari coba kita sebut saja salah satunya adalah label halal yang sangat sering kita jumpai dalam berbagai kemasan suatu produk. Label halal ini umumnya diidentikkan sebagai syarat suatu produk berasal dari bahan baku dan proses pengelolaannya sesuai dengan standar syariah. Misalnya saja suatu produk tersebut bahan bakunya tidak mengandung unsur hewan babi. Namun label halal tentunya tidak hanya sebatas sampai di situ saja. Masih diperlukan berbagai persyaratan lain agar kemudian berhasil mendapatkan sertifikasi halal di suatu produk.

Nah, lantas bagaimana dengan munculnya kasus pelabelan halal yang sebenarnya adalah palsu ?

Ini adalah persoalan lain yang perlu untuk mendapat kajian bersama. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba menjawabnya dengan sudut pandang lain. Fenomena ini bisa dikaji salah satunya misalnya dengan kacamata sosiologi. Penggunaan label halal namun tidak sesuai dengan kaidah agama dan peraturan yang berlaku adalah sama saja dengan mengkomoditaskan agama demi sebuah kepentingan. Fungsi agama sebagaimana yang dikatakan oleh Habermas yakni menjadi kontrol sosial kemudian bergeser nilai dan fungsinya menjadi sebuah alat komoditas. Nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi seruan agar sesuai dengan pedoman hidup manusia berubah menjadi alat jual beli alias alat yang bisa dipertukarkan. 

Dari kasus ini lalu kemudian dapat kita refleksikan bersama bahwa label halal di sini tidak lagi menjamin sesuai dengan syariah dan simbol keamanan kita bersama dalam mengonsumsi sebuah produk, namun pemaknaan label halal ini menjadi bergeser dan dipinjam dengan asal-asalan hanya demi kepentingan sepihak yakni memperoleh cuan. 

Oleh karena itu, kita semuanya harus belajar dan terus berusaha untuk menjadi konsumen yang cerdas. Dalam hal ini berbagai upaya dapat kita lakukan agar kita tidak mudah tertipu dan menjadi pribadi yang lebih hati-hati lagi dalam membeli dan mengonsumsi suatu produk. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan cara mengetahui produk tersebut halal atau tidak melalui aplikasi yang bernama “Halal MUI”. Melalui aplikasi ini kita semua dapat dengan cepat dan  mudah mengecek kehalalan suatu produk. 

Selamat dan semangat belajar menjadi konsumen cerdas. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nourma Dewi Fatmawati