Filosofi Tahu : Cerita Lain Di Balik Tahu


Filosofi Tahu : Cerita Lain Di Balik Tahu 1

Tahu, si putih lembut selembut sutra (ini bukan iklan ya) yang nikmat dinikmati dikala hujan sedang menerpa. Umumnya, tahu dinikmati dengan cara digoreng, direbus ataupun dipepes. Tahu terbuat dari kedelai yang dihaluskan, diperas, ditindas, dikuras, sehingga diambil sari kedelai yang bernama susu kedelai. Susu kedelai ini akan diproses, sehingga menjadi tahu yang seutuhnya.

Sesungguhnya, susu kedelai merupakan ibu dari tahu dan kembang tahu. Susu kedelai merupakan single mom, yang ketika ditanyakan “dimana bapaknya tahu?” ia selalu menjawab “ya mana saya tahu, saya kan susu kedelai”.

Susu kedelai, kembang tahu, dan tahu adalah 1 keturunan dari kacang kedelai. Yang membedakannya hanya wujud, dan cara penyajiannya saja. Jika susu kedelai diminum, sedangkan tahu dan kembang tahu dimakan. Gak mungkin dong, kalo tahu dan kembang tahu diminum dan susu kedelai dimakan, hehe.

Kembang tahu merupakan kakak dari tahu. Kembang tahu terbentuk dari endapan yang terdapat di permukaan rebusan kedelai dalam pembuatan tahu. Umumnya, kembang tahu dinikmati dengan siraman air jahe yang masih panas. Kembang tahu sangat cocok dinikmati saat cuaca sedang dingin, apalagi saat hujan tengah melanda. Uhhh.. hangatnya merasuk ke dalam sukma.

Berbicara tentang tahu, apakah pernah terlintas di benak kalian tentang perasaan si tahu? “Loh kok tahu?” Iya, tahu. Bukankah tahu adalah sesuatu yang sering kamu gunakan, ‘kan? Hampir setiap hari, pasti kalian menggunakan tahu dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya saja saat seseorang menanyakan alamat.

“Permisi pak, apa bapak TAHU alamat ini?”

“Oh saya tidak TAHU pak. Saya baru di sini.”

Ataupun saat sedang bersama si doi. Saat ingin merayu si doi dengan memakai kata-kata nan indah, bak puisi si Rangga, kalian menggunakan tahu, ‘kan?

“Aku mau ngomong sama kamu deh.”

“Ngomong apa, sayang?”

“Kamu TAHU, sedetik saja kumelupakanmu, berjam-jam aku merindukanmu.”

“Aahhh sayang..”

Gimana?

Mulai senyum-senyum kan?

Haha. Saya berikan contoh lagi penggunaan tahu dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja saat kalian kesal dengan seseorang. Kalian juga menggunakan TAHU, percayalah. Kalo gak percaya, saya kasih contohnya deh.

“Heh sini lo!”

“Ada apa ya, pak?”

“Lo kan baru di sini. TAHU diri dong. Jangan seenaknya aja ambil keputusan. Lo pikir lo siapa, hah?!!”

“Iya maaf, pak. Saya mengaku salah.”

Gimana?

Benerkan? Ya bener dong. Masih mau lagi? Nih saya kasih lagi contohnya. Tahu juga digunakan saat kalian tertangkap basah melakukan sesuatu. “Ah masa iya?” Iya. Udah liat dulu aja.

“Ah mumpung gak ada dia. Makan ah Brownies-nya.”

“Wei! Ngapain lo?”

“Eh. Nggak. Gak ngapa-ngapain.”

“Nah, keTAHUan kan lo. Pantes Brownies gue abis.”

Gimana?

Bener kan? Hehe. Sekarang udah percaya ‘kan? Tahu sangatlah erat kaitannya dengan kehidupan kalian sehari-hari. Tahu bukan hanya sekedar makanan, tahu adalah pendukung untuk berbagai persoalan kalian yang sudah saya jelaskan tadi di atas. Bayangkan, jika tahu ini dapat berbicara. Pasti ia akan protes dengan kalian, yang seringkali membawa tahu dalam persoalan kalian.

“Heh kok gue? Gue kan gak salah apa-apa.” Mungkin tahu akan mengatakan seperti itu, dan balik melawan kalian. Tentunya tahu takkan mengharapkan ini. Jika bisa memilih, mungkin ia akan menjadi manusia. Daripada terus-terusan namanya disebut-sebut, dan hanya berakhir menjadi tahu goreng, tahu bacem, tahu isi dan mentok-mentoknya jadi pepes tahu di warteg bahari. Mungkin juga, ia mengharapkan menjadi sesuatu yang lain, seperti jadi anggota dewan, PNS, HRD atau bahkan Penulis.

Sungguh malang nasib tahu, di balik rasanya yang nikmat, teksturnya yang lembut, dan kulit yang putih, ternyata tersimpan kisah pilu yang teramat. Kisah yang akan membuat orang semakin menaruh simpati terhadap tahu. Kisah yang mungkin tak banyak orang yang mendengar. Kalian mungkin takkan sadar, tapi itulah yang terjadi. Tahu hanya jadi bulan-bulanan kalian, ya selain kalian makan.

Mulai saat ini, tolonglah hargai tahu. Anggap mereka seperti saudara, sahabat, atau teman kalian.

Mungkin ini sepele, tapi itu sangat berdampak besar dalam dunia perTAHUan. Hehe.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Muhammad Zaki

   

Penulis amatir.

Berusaha untuk tidak jadi bokap-bokap biasa.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments