Filsafat: Diskursus yang Seharusnya Masih Berlangsung


Filsafat: Diskursus yang Seharusnya Masih Berlangsung 1

Dahulu, di Yunani ada sekelompok Sufisthaisme. Mereka beranggapan tiap-tiap aturan kemasyarakatan, agama dan budipekerti itu metodenya adalah rasionalitas akal (logika). Metodenya, dengan mencocok-cocokkan fakta yang terjadi. Mereka mengira, kebaikan adalah apa yang dilihat baik, dan keburukan itu apa yang terlihat buruk. Termasuk kebenaran, ia adalah apa yang dianggap benar oleh pribadi masing-masing orang.

Mereka tidak memiliki dasar argumentasi (atau barometer yang kuat) untuk memandang kebaikan, keburukan, dan kebenaran. Menurutnya, tiap-tiap diri memiliki argumentasi masing-masing untuk menilai kebenaran, kebaikan, dan keburukan. Logika semacam ini terus berkembang hingga saat ini.

Kemudian, Aristoteles (Aristufan) dan Socrates (Suqrath) membantah anggapan tersebut. Kedua pemikir itu (terlebih Socrates) mengambil jalan atas kecocokan logika dan menjelaskan hakikat (kebenaran) dengan metode padu dan mendiskusikan dengan murid-muridnya. Sehingga menemukan dari diri mereka (murid Socrates) dan menyingkap esensi kebaikan. Dari murid-murid (baik Aristoteles maupun Socrates) banyak menulis buku tentang ilmu manthiq (ilmu logika).

Lalu, di tengah-tengah ulama Muslim muncul ahli dan pakar ilmu logika seperti Abdullah bin Muqaffa’, juru tulis Abi Ja’far Al-Manshur. Dan muncul pula di bidang filsafat seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusydi. (Lihat, Ilmu al-Manthiq, karya Muhamad Nur al-Ibrahimi, dalam Kalimah Mujmalah fi Nasyati al-Manthiqi wa Tathawwurihi).

Bahkan, secara khusus Imam Al-Ghazali menulis kitab Mizanu al-Amal, yang isinya memuat penjelasan-penjelasan terkait ilmu filsafat agama, serta menjelaskan sesuatu yang datang pada ilmu ilmu agama, mulai dari latar belakangnya hingga tujuan.

Ada lagi tokoh Muslim bernama Mulla Sadra. Beliau dikenal sebagai tokoh Muslim penganut paham rasionalisme, sebuah paham yang bersandar pada kekuatan otak. Tokoh Muslim Kontemporer ini berpendapat, bahwa kebenaran sejati adalah kebenaran logika. Gagasan beliau yang terkenal adalah ittihadu al-aqil wa al-ma’qul (unifikasi pemikir dan objek yang dipikir).

Pemikiran Mulla yang banyak diadopsi dari filsafat Aristoteles ini banyak mendapatkan serangan dari para filosof yang lain terlebih dari Neo Platonis. Sepertinya Mulla Sadra ini abai dan terkesan menganaktirikan kebenaran ilahi (wahyu). Rupanya Mulla telah begeser dari menuhankan Allah ke menuhankan akal (logika).

Gerakannya yang lihai memainkan otaknya, kemudian menuangkan konsep harakatu al-jawhariyah (gerakan perubahan jati diri). Dari sana, tentu kaca mata saya memandang Mulla, telah mensakralkan makhluk seligus memprofankan wujud yang sakral. Banyak ulama Muslim lainnya menumpik keras paham Mulla.

Perjalanan konsep filsafat dan segala derivasinya dari waktu ke waktu terus mendapatkan tamparan keras. Syekh Ahmad bin Muhamad al-Dimyathi dalam Al-Waraqat menyatakan, “Kullu mujtahid fi al-furu’i mushibun.” (setiap yang berijtihad dalam masalah furu’ (hukum fiqih) itu adalah kebenaran. Lebih lanjut, “Wala yajuzu an yuqala kullu mujtahid fi al-ushuli al-kalamiyati mushibun lianna dzalika yuadzdza ila tashwibi ahli al-dhalalati min al-nashara wa al-majusi wa al-kuffari wa al mulhaddin.” (tidak boleh berpendapat bahwa setiap yang berijtihad dalam masalah ushul (aqidah) itu benar, karena demikian itu sama halnya dengan membenarkan kesesatan, seperti keimanan seseorang yang menuhankan benda, penyembah api (Majusi), kekafiran, dan kaum atheis). Di mana terkadang, hal tersebut banyak dilakukan filosof yang membenarkan semua keyakinan dengan bersandar pada relativisme kebenaran.

Syekh Muhamad al-Dasuqi di dalam Ummu al-Barahin berkata, “Menjauhlah dengan sungguh-sungguh agar berhati-hati mengadopsi pendapat (kitab) ahli filsafat dalam urusan tauhid (ushulu al-din). Termasuk pula berhubungan dengan penulis buku-buku filsafat. Mereka orang-orang setengah gila. Bahkan, pendapatnya adalah rusak, dan (kadangkala tergelincir) pada kekafiran yang amat murni. Aqidah mereka tertutupi dan amat samar sekali kefatalannya, serta kotor.”

Lebih ekstrem lagi, dalam kitab I’tiqadu al-Aimmati al-Arba’ah karya al-Duktur Muhamad bin Abdi al-Rahman al-Khamis. Di sana disebutkan, bahwa iman itu tak hanya membenarkan dengan hati dan lisan, akan tetapi pula mengingkari ahli kalam (pakar tauhid) dari kalangan jahmiyah dan lainnya. Termasuk pula mengingkari (menjauh) dari mengadopsi paham filsafat Yunani dan mazhab-mazhab kalam (tauhid yang telah terkontaminasi ilmu filsafat).

Sementara sikap yang ditampilkan oleh Imam Al-Ghazali cukup unik. Beliau menampakkan wajah yang begitu toleran menggambarkan betapa sesama golongan yang menyembah Allah dan mentauhidkanNya adalah haram diteteskan darahnya. Namun, cukup keras pukulannya terhadap ahli filsafat. Berikut kalimatnya, “Al-mu’tazilatu wa al-musyabbihatu wa al-firaqu kulluha siwa al-falasifati wa hum al-ladzina yashdiquna wala yajuzu al-kizdbu.” (Paham Muktazilah, Musyabbihah, dan semua kelompok selain filsafat, mereka adalah benar dan tidak boleh didustakan.) Lebih lanjut Al-Ghazali menyatakan, “Sesungguhnya mengalirkan darah dan melenyapkan harta orang-orang yang sholat dan yang berucap Laa ilaaha illallah adalah fatal.” (Lihat, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad).

Bahkan, dunia filsafat pernah geger ulah Imam Al-Ghazali. Beliau begitu lugas menabuh genderang perang terbuka lewat karyanya, Tahafutu al-Falasifah. Begitu keras beliau menelanjangi kebobrokan para filosof. Tak terima dengan argumentasi Al-Ghazali tersebut, Ibnu Rusydi (Averos) memberi bantahan lewat karyanya berjudul Tahafutu al-Tahafut (hancurnya sang penghancur).

Benturan antar filosof, khususnya di kalangan Muslim nampaknya telah berakhir. Diskusi ilmiah perihal filsafat seperti mengalami mati suri yang cukup panjang. Sebagai ganti dari era diskusi, muncul era persekusi. Malah kadang, filsafat hanya digunakan sebagai gaya-gayaan yang memantik banyak dirkursus kontroversial. Pada akhirnya, filsafat bukan jalan yang berkelok menuju kebenaran sejati. Lebih tragis, ia menjadi ruang gelap yang membingungkan.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments