Filsafat : Sarana menjadi bijak

Filsafat : Sarana menjadi bijak

Sahabat digstraksi yang tercinta, apa kabar? Semoga tetap berada dalam nuansa yang dalam menjalani hidup. Topik mita kali ini adalah sebagai usaha menggapai kebijaksanaan, langsung saja cekidot.

Filasafat ditinjau dari segi etimologis berasal dari “philos” yaitu cinta dan “shopos” kebijaksanaan. Sehingga orang yg menekuni disebut yg berarti orang yang mencintai kebijaksanaan, implementasinya adalah seorang dimaknai orang yg selalu haus akan kebijaksanaan dan pengetahuan sehingga senantiasa berusaha mewujudkan atau meraih kebijaksanaan yg tentunya kembali kpd masing2 individu, kebenaran seperti apa yang ingin ia cari.

Istilah philosopia dengan maknanya tadi, pertama kali di didakwahkan oleh yunani kuno yaitu pythagoras (582-496 SM) ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang philosophia yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan, ia tidak mendakwahkan dirinya “sang pemilik kebijaksanaan” karena menurut pythagoras hanya tuhanlah yang memiliki kebijaksanaan atau hikmah dan manusia harus puas tugasnya sebagai pencari dan pencinta kebijaksanaan

Baca juga  Perkuliahan Tak Kunjung Tatap Muka : Positif atau Negatif?

Sementara itu harold titus mengemukakan salah satu definisi adalah “group of system of thoughts” adalah seperangkat teori atau sistem pemikiran. Dari ungkapan2 ini kita dapat hubungkan adalah sebuah prosedural berfikir yang dilakukan oleh seseorang guna memanifestasikan tujuannya yaitu mencari kebijaksanaan serta pengetahuan. Dan yang perlu digaris bawahi ini cuma sekelumit dari definisi tentang karena bertolak pada hal prosedur berfikir berbeda beda bergantung pada “stock of knowldge” masing2

Baca juga  Ibnu Sina & Falsafah Jiwa

Dalam memandang sebagai prosedural berfikir tentunya sangat berhubungan penting dengan kehidupan yang kita jalani, sehingga jika kita mencermati ungkapan “aku berfikir maka aku ada” ini merupakan pengembangan dalam menggunakan otak sebagai alat berfikir dan ditopang oleh dalam menujukkan eksistensi kita sebagai manusia memang adalah berfikir “al insanu haywanun natiq” dan tentu saja tidak terlalu ekstrem mendakwahkan bahwa kita adalah pemilik kebenaran sejati.

Ada satu yang sementara ini diketahui pernah dilontarkan oleh socrates yaitu “true knowledge exists in knowing that you know nothing” kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa kamu tidak tahu apa apa. Asalkan disampaikan dengan kejujuran, makna yg bisa kita tangkap adalah mengakui ketidaktahuan kita adalah bukti kita telah bijaksana dan merupakan gerbang untuk terus menggali kebijaksanaan dan kebenaran lainnya.

Baca juga  Profesi Akuntansi Berpotensi Tergantikan oleh Teknologi

Kita bisa mengibaratkan itu seperti halnya handphone, jika dipakai ke hal2 yg berkonotasi manfaat, maka menghasilkan manfaat, jika diarahkan ke hal2 yg konotasinya negatif maka menghasilkan hal2 yg negatif atau ekstrim pula, dengan demikian seorang dengan upaya serta “kehausannya” dalam mendapatkan kebijaksanaan harus bersikap pula. Tentu saja tetap bertitik tolak pada “stock of knowledge” masing2 dalam memaknai kebijaksanaan dan kebenaran.

Selamat beraktivitas, salam kebijaksanaan

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muh Awaluddin A.