Frank Lampard Terlahir Kaya, Disayang Media Meski Tersandung Kasus Video Porno

Frank Lampard Terlahir Kaya, Disayang Media Meski Tersandung Kasus Video Porno 1

Kekalahan Chelsea 1-3 atas Manchester City di lanjutan Liga Inggris, Senin 4 Januari 2021 membuat fan The Blues meradang. Tagar Lampard Out pun bergema di media sosial, Twitter. Posisi Frank Lampard sebagai pelatih pun mulai digoyang.

Fan layak berang dengan kondisi Chelsea saat ini. Dari 6 pertandingan terakhir Chelsea di semua kompetisi, anak asuh Frank Lampard itu hanya mampu meraih satu kemenangan saja. Lampard bahkan menjadi pelatih dengan catatan paling buruk semenjak Chelsea dikuasai oleh Roman Abramovich.

Lampard dari 55 pertandingan hanya mampu catatkan 1,67 poin per pertandingan. Angka ini berada di urutan paling buncit di antara pelatih-pelatih Chelsea lain. Angka rataan poin per pertandingan Lampard sangat kecil bahkan dibanding Andre Villas Boas yang hanya mendampingi The Bluese sebanyak 27 pertandingan.

Bahkan nilai Lampard itu sangat jauh dibanding dengan Avram Grant yang hanya melatih Chelsea di 32 pertandingan namun memiliki poin per pertandingan sebesar 2,31.

Posisi Lampard saat ini sama seperti pelatih tim London lain, Arsenal, Mikel Arteta beberapa pekan lalu. Arsenal yang juga mengalami hasil buruk menjadi bulan-bulanan dari media Inggris. Untuk urusan hal seperti ini, media Inggris memang dikenal sangat kejam.

Media Inggris akan mengelupasi aktor dari lapangan hijau jika mereka meraih hasil buruk. Sejumlah mantan pesepak bola Inggris atau non Inggris pernah menjadi sasaran target dari media Inggris, sebut saja David Beckham di Piala Dunia 1998 atau Phil Neville pada perhelatan Euro 2000.

David Beckham yang mendapat kartu merah saat melawan Argentina dituding menjadi penyebab tim Tiga Singa tersingkir di Piala Dunia 1998. Semua sisi tentang Beckham diangkat oleh media Inggris. Bahkan sampai hubungan pribadinya dengan Victoria Beckham juga diangkat dan dianggap jadi penyebab Beckham gagal bermain maksimal di Prancis 1998.

Di kasus teranyar, Mikel Arteta, media Inggris menjadi lebih senang jika pelatih atau pemain yang melakukan kesalahan berasal dari non Inggris. Dalam beberapa pekan terakhir, Arteta jadi headline sejumlah media olahraga Inggris dan dianggap tak layak terus melatih Arsenal.

Media-media seperti Daily Mail, the Sun, Mirror, hingga The Guardian serentak menyebut Arteta harusnya dipecat oleh manajemen Arsenal. Hal sama juga dialami oleh Ole Gunnar Solskjaer sebelum Manchester United meraih 10 kemenangan beruntun. Hal berbeda justru dialami Frank Lampard.

Lampard bagi media Inggris adalah sosok yang harus ‘dilindungi’. Ia memiliki privilege dan dimaklumi saat gagal membuat Chelsea bermain baik dan konsisten. Meski faktanya, Lampard tak mampu meski sudah menghabiskan dana Chelsea sebesar 222 juta poundsterling untuk datangkan pemain di musim panas lalu.

Karier Lampard terlepas dari kemampuan hebatnya sebagai seorang gelandang memang dihiasi dengan praktek-prakek tak sedap. Ia misalnya mendapat privilege saat bergabung ke tim akademi West Ham pada 1994. Maklum saja, pamannya, Harry Redknapp adalah salah satu tokoh sepak bola Inggris.

Kebetulan saat itu, Harry menjadi pelatih West Ham dan ayah Frank sebagai asistennya. “Nepotisme selalu ditujukan pada gelandang muda ini. Ini adalah pukulan yang kejam pada kariernya sebelum ia pergi meninggalkan West Ham,” tulis Thesefootballtimes.co

Sosok Lampard memang tipikal pria berlatar keluarga bangsawan Inggris. Ia sopan, memilki wajah rupawan, dan berasal dari keluarga kaya. Maka tak mengherankan saat tiba-tiba ia promosi ke tim utama West Ham, sejumlah orang mencibir dirinya. Mereka yang tak suka dengan Lampard mengatakan mengapa pihak klub lebih suka kepada Lampard dibanding dengan Scott Canham, pemain akademi West Ham yang torehkan banyak gol.

Lampard adalah anak dari Frank Lampard Senior dan Pat Lampard. Ia lahir di Romford, London, Inggris dan sempat menimba ilmu di Brentwood School, salah satu sekolah elit di Inggris yang memiliki biaya sangat mahal. Meski berasal dari keluarga kaya, Lampard memang memiliki otak cemerlang.

Maklum saja, sang ibu, Pat adalah seorang pustakawan terkenal di Inggris. Tak mengherankan saat ia bersekolah di Brentwood School, Lampard sempat mendapat nilai A untuk mata pelajaran Bahasa Latin. Nilai-nilai Lampard di sekolah memang sangat bagus.

Beranjak dewasa, meski berasal dari keluarga ‘ningrat’ di Inggris, sisi liar Lampard pun mulai jadi sorotan. Pada 2000, ia bersama Rio Ferdinand dan Kieron Dyer tersandung kasus video porno. Saat tengah liburan di Siprus, ketiga pemain ini merekam adegan seks dengan seorang pekerja seks komersil.

Media Inggris memang sempat heboh, namun porsi kritikan kepada Lampard tak sehebat yang ditujukan kepada Ferdinand ataupun Dyer. Skandal seks ini kemudian dikenal publik Inggris dengan sebutan ‘Sex, Footballers and Videotape’.

Satu tahun kemudian, ia kembali berulah dengan pesta minuma keras. Ia pun mendapat hukuman pemotongan gaji dari klub yang dibelanya, Chelsea. Beberapa bulan setelah kasus pesta minuman keras, Lampard kembali tersandung kasus yakni dugaan pelecehan seksual seorang turis asal Amerika Serikat di Hotel Heathrow.

Manajer hotel di tempat kasus itu terjadi sempat mengatakan bahwa apa yang dilakukan Lampard sangat menjijikan dan tak dapat dibenarkan. Namun lagi-lagi porsi media untuk menghantam Lampard tak sehebat dan sekeras yang dialami David Beckham usai Piala Dunia 1998.

Sejumlah cerita miring tentang kehidupan pribadi Lampard pun sempat jadi sorotan banyak pihak. Ia diduga selingkug dengan wanita lain pada 2007 saat sudah bertunangan dengan Elen Rives.

Harian News of the World menangkap gelandang Inggris itu berakrab-akrab dengan seorang perempuan cantik berambut gelap bertampang Eropa Timur di sebuah kasino mewah di Las Vegas.Dari sekadar ngobrol, mereka sempat terlihat masuk kamar hotel bintang lima selama beberapa jam dan keluar lagi pada dinihari. Padahal saat itu Lampard dan Elen sudah memiliki anak.

Meski begitu, media Inggris tak banyak mengungkit cerita kelam Lampard saat ia menapaki karier sebagai pelatih di Chelsea pada 2019. Padahal ia masih terlalu ‘hijau’ untuk bisa melatih klub sebesar The Blues. Rekam jejaknya sebagai pelatih hanya menangani tim sekelas Derby County.

Lampard di awal kedatangannya di Chelsea sempat disambut sebagai pelatih muda berbakat yang bisa membawa kejayaan di Stamford Bridge layakknya seorang Jose Mourinho. Padahal menurut eks pemain Mancheter United, Roy Keane, Lampard belum memiliki mental kuat sebagai pelatih hebat.

“Dia baru dalam hal ini (sebagai pelatih). Dia berumur 42 tahun. Klopp datang dari Dortmund dan memenangkan banyak gelar di sana. Dia melawan semua manajer terbaik saat ini, Ancelotti, Mourinho, Guardiola. Lampard tidak akan mampu mendapatkan waktu seperti yang Klopp dapatkan” kata Roy Keane setelah Chelsea kalah 1-3 dari Manchester City.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.