Fresh Graduate Era Pandemi : Bisa Apa?


Fresh Graduate Era Pandemi : Bisa Apa? 1

Tak terasa, masa pandemi sudah berjalan setahun lamanya. Banyak cerita suka, maupun duka dari masa yang sangat menguji kesabaran ini. Sudah tak terhitung berapa banyak rencana yang gagal dikarenakan pandemi ini. Masa pandemi ini seperti menyusahkan sekali bagi banyak orang. Banyak diantara mereka yang hilang pekerjaan akibat kebijakan pengurangan pegawai perusahaan. Alhasil, mereka menganggur dan berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan kembali, demi untuk terus menyambung hidup.

Dari segi bidang akademik, pandemi ini juga berdampak besar sekali. Kuliah tatap muka terpaksa ditiadakan, dan diganti dengan kuliah online yang cukup membosankan. Banyak ilmu yang tak terserap begitu baik, karena kuliah di kampus dan kuliah di rumah rasanya sangatlah berbeda. Belum lagi kendala jaringan internet yang terkadang menyulitkan saat perkuliahan online.

Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika kita tidak mempunyai relasi yang cukup. Jika kita mempunyai relasi pun, bukan jaminan kita akan cepat mendapat pekerjaan. Kecuali, jika kita punya “orang dalam” di suatu perusahaan. Entah kerabat, atau hanya sekadar teman dekat. Jika mencari pekerjaan di keadaan normal saja sudah susah, bagaimana saat keadaan pandemi? Makin susah pastinya.

Saya baru saja lulus Diploma 3 pada bulan september lalu. Terhitung, sudah 5 bulan saya menganggur dan itu membuat saya stress, dan jenuh. Berpuluh-puluh CV sudah saya apply di portal job ternama, seperti Glints ID, Karir.com, Jobstreet, dan kawan-kawannya. Saya hanya 1 kali dapat undangan interview online, dan itu pun hanya gugur di tengah jalan, tidak lanjut ke tahap selanjutnya. Sisanya hanya omong kosong. Untuk menyiasati kegabutan saya, saya biasanya ngojol (ojek online), dan terkadang menulis sesuatu, seperti artikel, sajak, puisi dan kawan-kawannya. Setiap pagi, saya selalu ngecek inbox email saya, berharap ada kabar baik yang datang tentang lamaran pekerjaan saya. 

5 bulan dengan rutinitas yang monoton, jujur membuat saya jenuh. Tapi ya mau bagaimana lagi, keadaan seperti ini. Mau ngapa-ngapain pun salah. Seperti ungkapan “Maju Kena Mundur Kena”. Kita dipaksa dengan keadaan yang seperti ini. Kata “Sabar” pun jadi makanan sehari hari, sembari cemas menunggu kepastian dari HRD.

Tak mudah menjadi Fresh Graduate era Pandemi saat ini. Lowongan pekerjaan sebenarnya banyak, namun yang jadi persoalan, mereka hanya membutuhkan sedikit dari kami. Sementara yang apply pekerjaan, sangatlah banyak. Belum lagi kami harus bersaing dengan karyawan yang terkena dampak dari kebijakan pengurangan pegawai. Tentunya, saingan kita semakin banyak. Dan jika dibandingkan dengan mereka, secara pengalaman kerja kami kalah.

Pernah satu waktu saya membuka LinkedIn, di sana terdapat lowongan pekerjaan yang baru saja diposting 5 menit yang lalu. Namun, saat saya lihat jumlah pelamarnya sudah menyentuh angka puluhan. Itu membuktikan, banyak di luar sana yang butuh pekerjaan, dan banyak juga pengangguran. Jika ada yang menanyakan kepada saya “Mau ngapain ke depannya? Apa ada rencana?” saya pun bingung menjawabnya. Karena fokus saya saat ini adalah mencari pekerjaan, sembari mengembangkan tulisan-tulisan saya agar lebih baik lagi.

Kini, saat rasa jenuh sudah tak tertahankan lagi, saya hanya bisa berdoa dan terus berusaha. Berdoa supaya badai ini cepat berlalu. Walau rasanya, doa-doa saya entah kemana perginya. Terus berusaha mencari pekerjaan, walau rasanya sudah mentok dan tak tau harus cari kemana lagi.

Karena bagaimana pun juga, tak ada yang lebih indah dari senyuman ibunda saat kita memberikan uang hasil dari gajian pertama.– Saya Sendiri

Untuk Fresh Graduate era Pandemi, tetap semangat. Karena hanya semangat yang dapat kamu lakukan. Tak ada cara lain, selain terus menyemangati diri sendiri, diselingi doa dan usaha.

Semoga kebahagiaan selalu menaungi kita! 🙂

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Zaki

   

Penulis amatir.

Berusaha untuk tidak jadi bokap-bokap biasa.

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap