Fresh Graduate FKIP ketiban rezeki


Apakabar fresh graduate FKIP? Semoga masih tetap waras ya, hehe. Gak ada yang lebih nikmat daripada kewarasan ditengah terombang- ambingnya karier.

FKIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang lulusannya bergelar sarjana pendidikan memang dicetak sebagai calon tenaga pendidik. Tapi kini, lingkungan kerja seolah menutup mata dan gak mau menyambutnya dengan antusias. 

Fresh Graduate FKIP ketiban rezeki 1

Wacana pengadaan jutaan guru sebagai ASN hanya penenang sejenak. Melambungkan harapan bagi mahasiswa FKIP dan guru honorer, kemudian dijatuhkan begitu saja. Membungkam dengan senyuman, namun ujungnya menuntut keikhlasan.

Banyaknya formasi yang dibuka statusnya bukanlah pekerjaan tetap yang bisa dilakuin hingga rambut beruban, melainkan kontrak. Setiap tahunnya perlu tanda tangan. Itupun kalau bisa. Kan, gak tau kebijakan kedepannya akan seperti apa. Tunggu saja ya, meminimalisir kecewa (lagi).

Formasi 1 juta guru ini diprioritaskan bagi mereka yang sudah honorer. Tidak sembarang honorer, melainkan yang sudah terdaftar didapodik. Disamping itu juga diperuntukkan bagi mereka yang sudah bersertifikasi sebagai pendidik. Fresh graduate minggir ya!

Iya, fresh graduate FKIP tahun ini belum bisa mengikuti seleksi ASN. Kalau mau ya harus menjadi honorer dulu. Terdaftar di dapodik kemudian bisa ikut seleksi ASN berstatus PPPK. Itupun kalau ada formasinya lagi. Tapi, kalau gak mau nunggu sampai terdaftar didapodik. Gak papa ada cara lain kok. Yaitu lanjutin Pendidikan Profesi Guru (PPG) biar dapat sertifikasi pendidik.

Sertifikasi pendidik ini ditempuh selama 1 tahun atau 2 semester. Menurut jpnn.com biaya yang harus dikeluarkan persemesternya sebesar 7.5- 9.5 juta rupiah. Lumayan ya? Iya, tapi tenang aja ada jalur PPG bersubsidi kok, asal memenuhi syarat aja.

Sayangnya, kemungkinan besar tahun ini belum dibuka PPG untuk prajabatan a.k.a fresh graduate. Hanya dibuka PPG daljab (dalam jabatan) yang tentunya tidak bisa diikuti oleh fresh graduate.

Benar- benar ya jadi fresh graduate FKIP lagi ketiban rezeki. Mau ikut CPNS guru gak ada, seluruhnya diganti menjadi PPPK. Mau ikut PPPK gak bisa, syaratnya harus terdaftar dapodik atau sudah sertifikasi pendidik. Mau PPG prajab kemungkinan tahun ini gak dibuka. Mau jadi honorer tapi gak semua sekolah mau menerima. Mau jadi guru di yayasan tapi gak segampang itu juga. Hmm benar- benar rezeki anak soleh(ah).

Terlihat pesimis sekali ya. Tapi bukan disitu poinnya. Sebagai fresh graduated FKIP yang sudah menempuh kuliah selama 4 tahun dibidang pendidikan rasanya punya tanggung jawab besar untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh. Salah satunya dengan berprofesi sebagai guru. Namun, ketika perjalanan sebagai guru sekarang ini terasa dipersulit, jangan salahkan ya kalau akhirnya harus memilih jalan lain. Karena tidak semua fresh graduate FKIP sekuat itu imannya untuk bisa menganggap bekerja adalah hanya ibadah.

Memang guru bukan satu- satunya profesi yang bisa dilakukan bagi lulusan FKIP, bisa saja melamar pekerjaan dibidang lain, bisa saja membuka usaha sendiri, bisa saja melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, bisa saja ilmu itu dipakai dalam kehidupan sehari- hari, gak ada yang sia- sia kok. Banyak cara untuk mengimplementasikan ilmu, tinggal mana yang akan diambil. Lagi- lagi kembali pada pribadi masing- masing dan gak ada yang salah dari kebijakan pemerintah dengan hanya mengadakan PPPK guru.

PPPK guru dibalik sambatnya fresh graduate FKIP ternyata punya keuntungan juga kok. Pertama, PPPK guru ini kan ditujukan untuk para tenaga honorer yang usianya maksimal 1 tahun sebelum usia pensiun atau bisa disebut tanpa batas usia ya. Ini berarti membuka peluang yang begitu besar bagi para guru yang sudah mengabdi bertahun- tahun untuk “dianggap”. Agar bisa mendapat kehidupan yang lebih layak karena gak semua guru honorer itu sekaya gen gledek.

Kedua, PPPK guru ini sistemnya kontrak, dimana setiap tahun bisa diperpanjang. Tidak asal tanda tangan lantas kontrak diperpanjang. Tidak. Disini harus melewati diklat dulu. Itu artinya ada proses untuk terus upgrade keilmuannnya. Tidak ada alasan untuk malas dengan dalih “gak dipecat kok”. Iya sih masuk akal jika hal ini dapat mendorong tenaga pendidik untuk terus meningkatkan kualitasnya.  

Ketiga, PPPK guru tahun ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan generasi muda dengan mendahulukan yang lebih tua. Iya, sebuah tata krama yang kompak ditaati oleh generasi muda FKIP ini perlu diacungi jempol. Jarang- jarang kan kompak seperti ini, hehe.

Dibalik pro kontra nya PPPK guru ternyata cukup berhasil menggembleng fresh graduate FKIP untuk tunduk dan legowo dengan keputusan (apapun). “Ya, sudah, sudah, keputusan sudah diambil”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Diahir

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap