Gajah Mada: Inisiator Pembunuhan Jayanagara?

Gajah Mada: Inisiator Pembunuhan Jayanagara? 1

BERDASARKAN Serat Pararaton, Jayanagara yang dikenal dengan nama Raden Kalagemet merupakan putra Dyah Wijaya dan Dara Petak dari Negeri Dharmasraya (Sumatera). Ketika menjadi raja Majapahit, Jayanagara tidak memiliki putra. Karena khawatir tahta akan jatuh di luar keturunannya, Jayanagara melarang kedua adik tirinya yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat untuk menikah dengan ksatria lain. Bahkan Jayanagara ingin menikahi kedua adik tirinya tersebut.

Kabar perihal Jayanagara yang ingin menikahi Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat itu disampaikan oleh Ra Tanca pada Gajah Mada. Selain itu, Ra Tanca pula menceritakan bahwa Jayanagara pula telah mengganggu istrinya. Namun sikap dingin, Gajah Mada tidak memedulikan laporan Ra Tanca.

Suatu hari, Ra Tanca yang merupakan tabib istana itu dipanggil masuk oleh Gajah Mada ke istana. Tujuan Gajah Mada, agar Ra Tanca mengobati sakit bengkak (sakit bisul) Jayanagara. Di dalam kesempatan itu, Ra Tanca berhasil membunuh Jayanagara di tempat tidur dengan ditusuk taji. Sontak, Gajah Mada yang mengetahui proses pembunuhan Jayanagara tersebut bergegas menikamkan keris ke tubuh Ra Tanca. Peristiwa berdarah yang menimpa Jayanagara dan Ra Tanca di dalam istana Majapahit tersebut terjadi pada tahun 1328.

Di kalangan para sejarawan, wafatnya Jayanagara di tangan tabib Ra Tanca menimbulkan pertanyaan. Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara hanya karena raja Majapahit tersebut telah mengganggu istrinya? Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara karena semula turut mendukung pemberontakan Ra Kuti dari balik layar? Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara karena inisiasinya sendiri? Dari ketiga pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang berdasarkan suatu analisa logis dan obyektif.

***

Tersebutkan bahwa Ra Tanca yang merupakan tabib istana Majapahit pernah mengobati Ra Kuti sewaktu terluka ketika berperang melawan pasukan Bhayangkara. Dari sinilah muncul suatu pendapat bahwa Ra Tanca turut mendukung pemberontakan Ra Kuti terhadap kekuasaan Jayanagara.

Semasa Jayanagara kembali ke istana Majapahit dari Desa Bedander paska penumpasan pemberontakan Ra Kuti, Ra Tanca masih diakui sebagai tabib. Melihat realitas tersebut, dapat diperkirakan bahwa Ra Tanca merupakan tabib satu-satunya di Majapahit. Sehingga, Ra Tanca mendapatkan ampunan dari Jayanagara.

Dalam perkembangan selanjutnya, Ra Tanca mengetahui bahwa Jayanagara telah menggoda istrinya. Bermula dari sinilah, Ra Tanca berhasrat membunuh Jayanagara sewaktu gering. Karenanya ketika Ra Tanca diminta oleh pihak istana untuk mengobati Jayanagara, bukannya menyembuhkan penyakit sang raja, melainkan membunuhnya.

Tetapi, naas bagi Ra Tanca. Sesudah Jayanagara tewas, perbuatan jahat Ra Tanca diconangi oleh Gajah Mada. Sebagai orang kesayangan Jayanagara, Gajah Mada sontak menghunus keris. Menikamkan keris itu ke tubuh Ra Tanca. Maka tewaslah Ra Tanca di ruangan tidur Jayanagara.

Kisah tentang Ra Ta Tanca yang membunuh Jayanagara dan Gajah Mada (Gajah Mada) yang membunuh Ra Tanca diungkap di dalam Serat Pararaton, bagian 8, sebagai berikut:

Raja Jayanagara memiliki dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri. Pada waktu itu tak ada ksatria di Majapahit, setiap ksatria yang tampak lalu dilenyapkan, jangan-jangan ada yang mengingini adiknya itu. Itulah sebabnya maka ksatria-ksatria bersembunyi tidak keluar.

Istri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh Raja Jayanagara. Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan Jayanagara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur. Jayanaga itusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati di tempat tidur itu. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.

***

Sebagian sejarawan meragukan kalau kematian Jayanagara karena inisiasi murni dari Ra Tanca. Selain tidak ada data-data sejarah yang menguatkan, alasan Ra Tanca membunuh Jayanagara hanya karena istrinya digoda oleh raja Majapahit tersebut juga kurang kuat. Maka amatlah logis kalau sebagian sejarawan memerkirakan bahwa Ra Tanca membunuh Jayanagara karena suatu perintah dari pejabat penting di Majapahit.

Muncul suatu asumsi bahwa dalang pembunuhan Jayanagara yang dilakukan oleh Ra Tanca adalah Gajah Mada. Mengingat Gajah Mada sontak membunuh Ra Tanca agar tabib istana tersebut tidak membocorkan rahasia perihal siapakah pihak yang memerintah di hadapan pengadil negara.

Faktor lain yang menguatkan kebenaran asumsi bahwa dalang pembunuhan Jayanagara oleh Ra Tanca adalah Gajah Mada, karena mantan pimpinan Bhayangkara tersebut tidak menyetujui keinginan Jayanagara untuk menikahi kedua adik tirinya – Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.

Bisa jadi pula, Gajah Mada memerintahkan  Ra Tanca untuk membunuh Jayanagara karena amanat dari Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Kedua putri Dyah Wijaya yang dilarang Jayanagara untuk menikah dengan ksatria lain agar tahta Majapahit tetap berada di bawah garis keturunannya.

Terdapat asumsi lain bahwa Gajah Mada memerintah Ra Tanca untuk membunuh Jayanagara karena Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat yang merupakan putra Dyah Wijaya dari Gayatri tersebut masih keturunan Kertanagara sebagaimana dirinya. Mengingat Gajah Mada yang merupakan putra Gajah Pagon juga masih cucu Kertanagara yang lahir dari selir.

Asumsi lainnya pula bahwa Gajah Mada meminta Ra Tanca untuk membunuh Jayanagara karena rasa kecewanya. Mengingat sesudah berhasil menyelamatkan Jayanagara dan Majapahit dari ancaman (pemberontakan) Ra Kuti dan kelompoknya, Gajah Mada hanya dinobatkan sebagai patih Kahuripan. Bukan patih Amangkubhumi Majapahit.

Akan tetapi asumsi-asumsi di muka tetap berpulang sebagai asumsi. Mengingat asumsi-asumsi tersebut hanya berdasarkan Serat Pararaton yang ditulis di zaman pertengahan dan diyakini oleh sebagian sejarawan sebagai karya fiksi. Sementara Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan karya-karya sastra lainnya yang muncul pada zaman Hayam Wuruk tersebut tidak memberikan penjelasan. 

Sekali lagi ditandaskan bahwa dikarenakan tidak ada bukti-bukti sejarah yang kuat, maka kematian Jayanagara masih misterius sampai sekarang. Sehingga banyak ahli sejarah belum mengetahui dengan pasti penyebab kematian Jayanagara. Satu hal yang mereka ketahui bahwa sesudah meninggal, Jayanagara didarmakan di Candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Pendapat ini berdasarkan Serat Pararaon.

Sedangkan menurut Kakawin Nagarakretagama, Jayanagara dicandikan di pura berlambang arca Wisnuparama. Jayanagara pula dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amoghasiddhi. Karena Jayanagara meninggal tanpa memiliki keturunan, maka tahta Majapahit jatuh pada adiknya, yakni Dyah Gitarja (Tribhuwana Wijaya Tunggadewi).***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sri Wintala Achmad