Galau Perihal Buah Hati? Ini Solusinya!


Galau Perihal Buah Hati? Ini Solusinya! 1

Ada kekhawatiran serius yang terlipat dalam batin Ibrahim as, demikian dapat kita lihat dari pertanyaan Ibrahim as kepada anak-anaknya, “Ma ya’buduna nih ba’di (apa yang kalian sembah sepeninggal aku?)”

Ibrahim as rupanya menerawang jauh ke masa yang akan datang selepas dirinya pergi menemui Tuhannya. Menerawang jauh ke suatu masa di mana buah hatinya telah menjadi orang dan semua pertanggungjawaban tetap membelit dirinya setelah ia mati tertimbun tanah. Keresahan Ibrahim, bukan pada apa yang buah hatinya alami selepas dirinya tiada. Bukan pada apa uang mereka makan. Bukan pada kerja yang menambah lumbung pendapatan mereka. Namun, pada apa yang mereka sembah (ya’buduna) .

Terma “ya’buduna” dalam bahasa Ibrahim tak hanya memiliki makna menyembah dalam artian aktivitas rutin seorang manusia bersujud pada tuhannya (fardiyah). namun lebihndari itu, ibadah diam artinlain semua aktifitas kehidupan memiliki hubungan dengan penciptanya. Ibadahnyang dimaksud adalah kesadaran (idrak) individual akan hubungannya dengan Sang Khaliq. Di ruang-ruang komunal maupun individual kita hubungkan denganNya. Menghadirkan Zat Tuhan ke dalam seluruh aktivitas kehidupan. Ibrahim merisaukan anak keturunannya terjebak dalam perilaku yang menjauhkan mereka dengan Tuhannya selepas dirinya tiada.

Kekhawatiran Ibrahim mestinya terjadi pula pada diri kita. Kekhawatiran yang sama mengenai apa yang anak-anak kita “sembah” setelah kita tiada mestinya menjadi cemeti untuk melewatkan upaya kita mendisik mereka dengan baik. Mengupayakan mereka agar terhindar dari segala bentuk perilaku negatif. Kita sebagai orang tua galau akan nasib masa depan buah hati kita menjadi penting, dengan itu kita berupaya preventif…

LIPI dan BNN melakukan riset narkoba pada awal tahun 2019, hasilnya sangat mencengangkan, bayangkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkotika. Angka itu setara dengan 3,2 persen dari populasi kelompok tersebut.

Selain narkoba dan HIV/AIDS, seks bebas kini menjadi masalah utama remaja di Indonesia. Ini merupakan masalah serius karena jumlah remaja tergolong besar
Komnas Perlindungan Anak (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, “62,7% remaja di Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah.” Ya, tepatlah bila dikatakan Indonesia memasuki masa darurat seks bebas.

tentu menjadi sebuah pertanyaan besar bagi pemerintah. Apa yang melatarbelakangi peningkatan kehamilan remaja yang diperkirakan mencapai lebih dari 500 kehamilan setiap tahunnya. Setelah ditelusuri secara komprehensif,

Semua karena “anak cucu” yang lahir setelah kita. Yang kita lakukan saat ini, pada intinya adalah menabur warna untuk masa depan anak cucu kita. Nabi Saw menolak keinginan Ali menikahi putri Lahab, bukan karena putrinya, Fatimah akan dimadu. Alasan tersebut tidak menjadi penentu terkuat penolakan Nabi, meskipun hal tersebut dapat dibenarkan dengan kegelisahan Fatimah yang juga Nabi rasakan. Bukan pula karena putri Lahab seorang perempuan yang berperangai buruk mengikuti jejak ayahnya. Tidak. Melainkan karena generasi pendahulunya, yaitu Abu Lahab memiliki track record yang buruk terhadap Islam, terhadap dakwah Nabi. Memandang generasi sebelumnya itu penting, begitu kira-kira.

Untuk itu, tanamlah bibit-bibit pohon kemuliaan yang kelak pada zamannya generasi penerus kita berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon yang kita tanam hari ini. Sebab, Ibrahim as sangat mengkhawatirkan generasi penerusnya setelah dirinya berpulang menghadap penciptanya. Ibrahim berkata, sebagaimana Allah firmankan dalam Alquran, “ma ta’buduna min ba’di” (apa yang engkau sembah setelah diriku mati?!). Kegelisan Ibrahim bukan tidak punya alasan, apalagi ketika diukur dengan ganasnya cobaan dan fitnah yang melayang-layang di atas atmosfir zamannya.

Namun sayang, kegelisahan kita memandang generasi setelah kita berbeda bahkan sangat berbeda dengan kegelisahan Ibrahim. Jika Ibrahim mengkhawatirkan ibadah generasi penerusnya, kita malah mengkhawatirkan “pekerjaan” anak cucu kita. Begitu khawatir anak cucu tidak makan, jatuh miskin, atau hidup sebatang kara setelah kita mati tertimbun tanah. Akhirnya, perlakuan kita terhadap anak-anak kita menjadi berbeda pula. Ibrahim menempa batin anak-anaknya dengan pendidikan agama agar hidupnya berkualitas di mata Allah Swt, kita menuntun anak-anak kita mencari pendidikan yang berimplikasi pada materi dan profanisme (agar mudah cari kerja) yang pada selanjutnya moralitas diukur oleh kertas. Pada detak masa setelahnya, kita perlahan namun pasti menyumbangkan “generasi sampah” masa depan.

Yang terakhir dan yang tak kalah pentingnya adalah, syubbanu al yaum rijalu al ghad (generasi saat ini adalah penerus hari esok). Para founding father kita, para guru-guru kita telah mewariskan sejarah emasnya kepada kita, dan kini tibalah pada giliran kita. Kitalah yang harus melanjutkan estafet perjuangan mereka hari ini. Berilah sejarah yang sama pada generasi setelah kita. Tanamkan bibit buah yang sama, yang ranumnya kelak dituai oleh generasi-generasi baru, selepas kita bertandang menghadap Sang Pencipta.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap