Ganti Menteri, Ganti Kurikulum Baru

Ganti Menteri, Ganti Kurikulum Baru

Di masa pandemi yang sudah hampir 2tahun khususnya di dunia Pendidikan memberikan tamparan yang sangat keras khususnya pembelajaran lewat daring membuat pembelajaran yang kurang efisien terhadap peserta didik dirumah. Karena kurangnya penguat sinyal yang begitu lemahnya, karena setiap peserta didik belum tentu memiliki sarana dan prasarana yang mempuni. Meskipun kementerian sudah memberikan kouta gratis tapi sangat kurang efisien hanya membuang anggaran saja. Harusnya kementerian harus berkolaborasi dengan pemda untuk memberikan fasilitas wifi setiap titik untuk pembelajaran terasa aman tidak ada embel-embel apapun. Para guru harus menyesuaikan karena dengan pembelajaran daring mereka juga harus pengembangan dan peningkatkan (Upgrade) untuk memberikan pembelajaran yang menarik, tapi sangat disayangkan apresiasi tidak ada yang menarik dari kementerian sekalipun.

Sudah bukan hal biasa di Indonesia menuai banyak problem yang terjadi khususnya di dunia Pendidikan, karena setiap pergantian kabinet pasti menimbulkan suatu hal yang baru entah itu ganti atau macam-macamnya. Kenapa harus seperti itu? Karena untuk memunculkan suatu produk entah itu laku atau engga. Karena setiap 5 tahun sekali pasti kurikulum di rubah karena mungkin menyesuaikan dengan yang terjadi, ahh seharusnya dibuat aja evaluasi untuk menyesuaikan muatan-muatan yang mutakhir. Kenapa sih kementerian itu selalu membuat aneh-aneh saja. Engga tahu bagaimana guru-guru mengajar, mendidik dari pagi sampai malam terus menerus tiada henti. Apalagi kalo peserta didik mendapat nilai 8 atau 9 itu bisa menghibur diri, tapi kalo mendapat nilai jelek guru yang merasa salah pak Menteri. Tolong pak Menteri jangan membuat kebijakan yang aneh-aneh yang menimbulkan suatu yang membuat kita semakin membingungkan terhadap birokrasi yang berbelit-belit.

Kurikulum berubah semua harus dari nol lagi, kenapa tidak di tingkatkan atau dikembangkan saja Kurikulum 2013 itu? Ironis sekali Pendidikan seakan-akan jadi alat politisasi yang membuat para guru-guru harus menyesuaikan lagi terus-menerus. Jangan jadikan Pendidikan sebagai alat kekuasaan. Saya harap Pendidikan sebagai wadah untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa bukan mengkerdilkan anak-anak bangsa.

Mas Menteri, andaikan kami bisa bersuara dengan lantang jangan mengganti-ganti kurikulum, meskipun kurikulum yang mau diluncurkan fleksibelitas bagi guru hanya saja coba dilihat dari segi ruang lingkup yang terdapat di Indonesia. Apakah Pendidikan sudah merata yang terdapat di daerah terpencil? Apakah kementerian siap untuk memberikan pelatihan secara terus-menerus agar kesiapan para guru-guru senior maupun junior yang terdapat di Indonesia, jangan sampai Pendidikan ini hanya sebagai alat untuk politisasi aja untuk para penguasa. Pendidikan harus indipenden dari segi politik karena untuk membesarkan para pemuda-pemudi generasi Indonesia, jangan main-mainkan Pendidikan yang ada di Indonesia apalagi seenaknya mengganti kurikulum. Tolong mas Menteri di pertimbangkan kembali untuk bagaimananya dan evaluasi terlebih dengan analisis yang kuat.

Penyediaan sarana dan prasarana sudah mempuni belum dari setiap sekolah yang terdapat di Indonesia, harus benar-benar di perhitungan untuk analisisnya tidak semena-mena menerbitkan kurikulm saja dikira seperti goreng telur langsung matang aja. Tidak seperti itu mas Menteri harap dikaji ulang. Karena setiap pergantian Menteri Pendidikan pasti iseng mengganti ini itu dan lain-lainnya. Kenapa harus kurikulum yang di otak-atik sih. Harusnya peningkatan kinerja guru yang lebih di utamakan, pengembangan serta pengabdian kemasyarakat.

Tabiat orang Indonesia selalu maunya mengganti tidak memikir panjang dampak kedepannya, melainkan disatu sisi pasti ada yang terlibat di lapangan yang mungkin sangat susah untuk pelaksanaanya yaitu guru. Selalu memberikan beban yang tak terduga karena seorang guru sudah begitu lelah dengan pergantian kurikulum lagi, terus-menerus circlenya seperti itu. Mendidik emang harus dilakukan dengan hati nurani. Apakah kementerian memberikan hati nurani terhadap guru-guru? Mungkin saya akan menjawab tidak ada rasa kepeduliaan terhadap guru.

Ironi sekali Pendidikan ini selalu menjadi guyonan setiap pergantian kabinet apalagi Menteri Pendidikan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Maisa Suwarsono