Gelora Jihad Kerajaan Islam Pertama Jawa


Gelora Jihad Kerajaan Islam Pertama Jawa 1

Lelaki muda itu, yang baru berusia 17 tahun, berdiri gagah di dek kapal. Ia tatap lautan biru yang membentang luas di depannya. Pakaian yang melekat di tubuhnya berkibar ditiup angin laut utara Jawa, pakaian kebesaran seorang panglima tertinggi armada kerajaan Demak. Dialah Raden Surya, atau lebih masyhur dengan nama Pati Unus.

“Apabila Demak ingin tetap hidup, jangan biarkan orang-orang Portugis menguasai daerah-daerah kita. Sekarang Malaka sudah jatuh ke tangannya. Niscayalah mereka esok hari akan menggempur Demak, Aceh dan Palembang. Karena itu kita harus bersatu dan bersama-sama menyerang Portugis di Malaka!” seru Pati Unus membakar semangat pasukannya.(1)

Dengan membawa sekitar 100 armada kapal Jung, Pati Unus melepas jangkar dan mengarungi laut utara Jawa menuju Malaka demi menggempur Portugis. Di belakangnya, 5000 pasukan siap sedia dengan semangat penaklukan. Nanti di Palembang, pasukan bantuan sebanyak 7000 orang akan memperkuat barisan jihad Pati Unus. Gemuruh semangat di dadanya semakin menggelora, seiring butiran tasbih yang ia putar satu-satu, sambil mengeja dzikir, Laa ilaaha illallah.(2)

Masjid Agung Demak. sumber: id.pinterest.com/Muezza
Masjid Agung Demak. sumber: id.pinterest.com/Muezza

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, dengan pendirinya Raden Patah. Dia merupakan putra raja terakhir trah Majapahit, Prabu Brawijaya V. Raden Patah yang bernama kecil Jin Bun dibuang ke Palembang bersama sang ibu berdarah Tionghoa asal Campa (Kamboja). Setelah mencapai usia belasan, ia bersama adiknya hijrah ke tanah Jawa untuk belajar pada beberapa ulama.(3)

Mereka pun menetap di Ampel Denta, Surabaya, di bawah asuhan Sunan Ampel. Setelah beberapa tahun belajar agama, ia mendapat ijazah dari sang guru untuk mendirikan pesantren. Raden Patah pun membuka hutan Glagahwangi dan menjadikannya pusat penyebaran islam. Pesantren yang didirikan Raden Patah berkembang pesat dengan tingginya antusiasme penduduk untuk belajar agama. Perkembangan tersebut mengkhawatirkan Majapahit, hingga Prabu Prawijaya menjadikan Raden Patah sebagai pemimpin di Glagahwangi.

sumber: kabardemak.wordpress.com
sumber: kabardemak.wordpress.com

Berbekal restu dan bantuan para ulama yang merupakan anggota majelis Walisongo, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak dengan ibukota Bintoro. Kemajuan di segala bidang membuat kesultanan ini harus berupaya mempertahankan kekuatan politis maupun ekonomi. Sehingga saat Malaka jatuh ke tangan Portugis, Raden Patah mengutus putranya yang masih belasan tahun, Pati Unus, untuk merebut kembali pelabuhan penting itu, hingga ia syahid dan kemudian masyhur dengan sebutan Pangeran Sebrang Lor.(4)

Pati Unus  merupakan putra Raden Patah dengan istri pertamanya. Saat masa remajanya, ia diangkat menjadi Panglima Gabungan Armada Islam membawahi Banten, Demak dan Cirebon. Nama aslinya adalah Raden Surya. Namun dari catatan Tome Pires, dia merupakan putra penguasa Jepara, Arya Timur, yang kemudian menggantikan sang ayah memimpin daerah tersebut.

Penyebaran Islam di tanah Jawa mulai berkembang pesat sejak era Walisongo di abad 14. Lalu diperkuat dengan berdirinya kerajaan Demak saat kekuasaan Majapahit melemah. Di tahun 1476, Kesultanan Demak Bintara membentuk suatu organisasi berjuluk Bayangkare Islah (Angkatan Pelopor Perbaikan). Tujuannya untuk menggiatkan usaha pendidikan dan pengajaran Islam yang teratur.(5)

Pesatnya perkembangan Islam di Jawa dipengaruhi oleh kebijaksanaan para wali dalam menyiarkan agama. Mereka memasukan anasir-anasir pendidikan agama dalam segala cabang budaya nasional. Hal itu tentu lebih mudah diterima masyarakat karena dekatnya kebudayaan dengan keseharian.

Zaman Mataram (1575-1757) merupakan masa keemasan pendidikan Islam di tanah Jawa. Sistem yang teratur dalam pemerintahan adalah penentunya. Namun di tahun 1755, kolonial  mulai berupaya melumpuhkan pengaruh Islam dengan adanya Perjanjian Gianti.

sumber: wisatapopuler.com
sumber: wisatapopuler.com

Cahaya Islam di Jawa, juga Indonesia pada umumnya, terutama sejak kedatangan Belanda, perlahan mulai redup. Namun di abad 18 dan 19, Islam tanah air mulai terang benderang lagi bersamaan dengan berdirinya pesantren-pesantren rintisan karya ulama-ulama yang baru pulang dari Mekkah. Seperti contoh pesantren Tebuireng, dengan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendirinya. Dalam muatan pendidikan agama yang diajarkan, termaktub persoalan politik yang kemudian menggerakkan umat Islam untuk merebut kemerdekaan.

REFERENSI

  • HM, Muh. Sidiq. Ekspedisi Jihad Pati Unus Melawan Hegemoni Portugis di Malaka. Diambil dari https://islamtoday.id/ulas-nusa/20190929124600-3283/ekspedisi-jihad-pati-unus-melawan-hegemoni-portugis-di-malaka/ diakses 9 Januari 2021
  • Ibid.
  • Yogyanto, R. Nurcahyo. Peran Raden Patah Dalam Mengembangkan Agama Islam di Demak Tahun 1478-1518. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pgri Yogyakarta
  • Susilo, Agus & Ratna Wulansari. “Peran Raden Fatah Dalam Islamisasi di Kesultanan Demak Tahun 1478–1518”. Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, Vol. 19 No. 1, Juni 2019  (70-83)  
  • Yunus, Prof. H. Mahmud. 1983. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kopi pagi

   

Seeker of Cosmic Revolution IG: @khurun.ngin

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap