Geprek 6000, Strategi Bertahan Hidup di Masa Pandemi


Geprek 6000, Strategi Bertahan Hidup di Masa Pandemi 1

Tulisan geprek 6000 cukup banyak bermunculan di sepanjang jalanan kota Denpasar. Ketika melintasi beberapa stand yang menjual ayam geprek seharga 6000 rupiah ini, terlihat tidak sedikit yang mengantri untuk membeli makanan ini.

Dengan seharga 6000 rupiah sudah mendapatkan nasi, ayam, dan sambal biasa untuk ayam geprek yang rasanya cukup pedas. Harga yang cukup murah untuk jenis makanan ini. Dengan harga seperti itu cukup mengundang banyak pembeli untuk makanan ini.

Ayam geprek 6000 bukanlah satu-satunya jenis makanan yang berinovasi dalam menurunkan harga. Saya juga pernah menemukan di tempat jual sarapan yang menjual nasi padang seharga 5000 rupiah dengan lauk ayam dan 6000 rupiah dengan lauk rending sapi.

Penurunan harga ini banyak dilakukan oleh pelaku usaha. Kadang saya berpikir para pedagang ini dapat untung berapa dengan menjual harga segitu. Pasti sangat tipis sekali keuntungan yang akan didapatkan.

Strategi penurunan harga seperti ini terpaksa dilakukan oleh kebanyakan pelaku usaha. Bukannya mereka tidak mau mendapatkan untung yang besar. Yang terpenting sekarang bagaimana dagangan mereka cepat laku. Dan lebih bersyukur lagi apabila dagangan yang ditawarkan bisa habis.

Hal ini terjadi karena imbas dari pandemi Covid-19. Pandemi yang sudah berlangsung selama setahun lebih. Dan belum ada tanda-tanda yang pasti menunjukkan pandemi ini berakhir. Masih panjang perjuangan untuk melewati masa pandemi ini.

Pandemi benar-benar mengubah segalanya. Semua aspek terkena dampak dari pandemi ini. Sektor ekonomi benar-benar terasa sangat melemah. Daya beli orang sekarang sangat kecil. Jangankan untuk terpikir untuk membeli kebutuhan sekunder, untuk kebutuhan primer saja sudah sangat kesusahan.

Begitu juga yang terjadi di Denpasar dan kota-kota besar lainnya. Denpasar, Bali, yang sangat menggantungkan perekonomiannya ke sektor pariwisita. Penurunan wisatawan yang sangat drastis membuat banyak masyarakat Denpasar terkena dampak dan bahkan sampai kehilangan pekerjaan.

Bagaimana tidak kehilangan pekerjaan, banyak pelaku usaha di sektor wisata ini terpaksa menutup usahanya. Diantaranya hotel, restoran, biro travel, boat penyeberangan, tour guide, dan penjual aksesoris.

Bali memang bukan baru pertama kali mengalami penurunan wisata yang sangat drastis seperti ini. Akan tetapi, masa pandemi ini terlalu lama. Semua tidak begitu siap untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini.

Semua yang terkena dampak pandemi ini kemudian banyak yang beralih menjadi pedagang. Banyak sekali bermunculan pedagang baru dengan berlomba-lomba meberikan harga yang cukup terjangkau masyarakat saat ini.

Berdagang dengan harga miring merupakan strategi bertahan hidup saat ini. Memang bukanlah keuntungan besar yang terutama untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Asalkan sudah ada penghasilan dan kebutuhan yang terutama dapat terpenuhi.

Tidak hanya pelaku usaha kecil yang bertahan dengan cara seperti ini. Pelaku usaha yang sudah besar juga melakukan hal yang sama. Bahkan mereka sampai turun ke lapangan. Gengsi tidak begitu penting lagi untuk kondisi saat ini.

Berjuang bertahan hidup, begitulah yang dipikirkan kebanyakan orang saat ini. Kita hanya bisa berdoa dan berharap kondisi pandemi ini dapat berlalu. Yang terutama juga, tetap jaga kesehatan dalam masa berjuang saat ini.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ian Bangun

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap