Ghosting: Fenomena Romantisasi Kisah Anak Muda Berujung Sakit Hati

Ghosting: Fenomena Romantisasi Kisah Anak Muda Berujung Sakit Hati 1

Apa tuh ghosting? Ha—hantu 👻 canda hantu. Siapa pembaca Digstraksi yang sering kena ghosting sama gebetan, calon pacar, atau pacar sendiri? Kalau ada, berarti kita senasib. Jadi, ghosting merupakan istilah kekinian anak muda yang terjadi ditengah balada kisah percintaan atau pertemanan. Ghosting diartikan sebagai hilangnya kontak seseorang secara tiba-tiba tanpa penjelasan sama sekali. Tidak ada chat maupun panggilan telepon. Seakan keberadaan seseorang itu sirna bak ditelan bumi. Betul, hidup serasa hampa tanpa kehadiran dia.

Bagi kalian yang belum pernah dighosting, selamat anda adalah orang yang beruntung!

Mari kita bedah: kenapa sih orang-orang gemar ghosting? Apa yang melatarbelakangi seseorang kerap melakukan ghosting?

Dilansir dari Psychology Today, fenomena ghosting ini disebabkan karena adanya perasaan ketidaknyamanan ketika berinteraksi. Setelah itu, mereka Namun, disisi lain, seseorang yang melakukan tindakan ghosting tidak merasa demikian, ia hanya menghindar saja tanpa mau memberi kabar. Ghosting tidak hanya dilakukan bagi pasangan saja ya, namun hubungan pertemanan rentan akan fenomena ghosting.

Dilihat dari perspektif sosiologis, kurangnya intensitas terkait hubungan sosial yang timbal balik akan memicu putusnya hubungan dengan orang lain. Semakin seringnya ghosting dilakukan, maka kepekaan seseorang akan luntur. Disisi lain, ketika kita dighosting pasti kerap kali kita akan membalas dengan hal yang sama.

Based on interview dengan teman-teman penulis, kebanyakan orang yang ghosting memiliki 1001 alasan yang bermacam-macam: 

“Ah.. Maaf ya, aku udah membuka pesan kamu. Tapi aku lupa untuk membalasnya,”

“Aku ghosting karena aku bingung mau balas apa,”

“Gak sengaja baca pesan kamu tapi aku lagi di jalan, trus ku jawab dalam hati,”

“…..karena gak penting atau aku gak mood,”

Yah, masih banyak sekali alasan yang dilontarkan si tukang ghosting.

Oke, lanjut ke pemaparan: Bagaimana sih rasanya jadi korban ghosting?

Tindakan ghosting tentunya sangat tidak mengenakkan bagi sebagian orang. Akibatnya, terdapat perasaan tidak dihargai dan dibuang begitu saja. Selain itu, terkadang ghosting dapat menjadi pengalaman yang traumatis. Bayangkan ketika teman atau seseorang yang kamu percaya tiba-tiba hilang kontak dan melepaskan diri dari kita. Kalau kata Cita Citata, sakitnya tuh disini! *tunjuk hati yang rapuh*. Pengalaman dighosting juga membawa perasaan dipermainkan, menyakitkan, sekaligus berujung mengecewakan. Diabaikan itu menjengkelkan dan menyiksa batin.

Trus, tips n trick bagaimana terhindar dari ghosting?

  • ​Jangan mudah percaya dengan omongan maupun janji-janji itu.
  • Lebih baik mengawasi perilakunya agar kedepannya kamu tidak merasa sakit hati.
  • Konsep ghosting tidak menunjukkan warning signs. Namun, sebagai manusia yang peka pasti kita lambat laun akan sadar bahwa orang terdekat menghindar atau mulai berjarak diluar kebiasaannya, kan?
  • Istilah komunikasi adalah koentji adalah benar kenyataannya. Jika teman atau pasangan mulai merasa jenuh dengan obrolan, maka jangan sungkan untuk proaktif dengan cara memulai topik baru dengan menanyakan keadaannya.
  • Perhatikan bagaimana cara ia memperlakukan orang lain.

Itulah tips tips yang mungkin akan membantu kalian. Jadi, yuk mulai untuk mengurangi melakukan tindakan ghosting. Mungkin kamu merasa capek, namun ada seseorang yang menunggu pesanmu sampai ngantuk-ngantuk.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Winda Nurmalita