Guru Butuh Fasilitas Yang Layak


Masa-masa sekolah tentu meninggalkan kenangan-kenangan hangat. Mulai dari belajar berteman, menimba ilmu dari guru, sampai mengenali berbagai karakter manusia yang membuka perspektif kita terhadap kehidupan.

Kenangan-kenangan tersebut tak lepas dari peran para guru. Siapa yang tidak terharu mengingat sosok guru yang telah ikhlas mengabdi untuk menciptakan generasi yang cemerlang.

Maka tak heran jika ada lagu dan hari spesial di Indonesia untuk mengapresiasi pengorbanan para guru.

Akan tetapi, pengorbanan hendaknya diiringi dengan kualitas. Banyak guru-guru di Indonesia yang pengorbanannya besar, namun tidak selalu disertai dengan kualitas yang baik.

Dari tahun 2012 hingga 2015, sebanyak 1,3 juta dari total 1,6 juta guru yang mengikuti Unit Kompetensi Guru (UKG) tidak mencapai nilai minimum.

UKG sendiri adalah ujian yang mengukur kompetensi mengelola pembelajaran dan pemahaman atas mata pelajaran yang diampu (Shintia, 2020).

Buruknya hasil UKG di atas memang harus menjadi evaluasi bagi para guru. Namun buruknya hasil tersebut bukan sepenuhnya salah guru, melainkan kurangnya sarana dan prasarana untuk mendukung kinerja guru.

Sarana yang dibutuhkan oleh guru antara lain rumah yang layak, buku-buku yang berkualitas, serta teknologi pendukung (laptop, internet, dsb.).

Sedangkan prasarana yang dibutuhkan oleh guru antara lain pendidikan yang bermutu, transportasi ke sekolah, dan upah besar.

Jika kita amati kondisi guru-guru di Indonesia, masih banyak dari mereka yang belum memiliki sarana dan prasarana tersebut.

Dengan demikian, amat sulit untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar jika negara belum memenuhi sarana dan prasarana yang layak untuk para guru.

Berikut penulis akan menjelaskan beberapa sarana dan prasarana penting yang belum dirasakan secara menyeluruh oleh tenaga pengajar pendidikan di Indonesia:

Upah/ Gaji

Gaji guru di Indonesia sendiri bervariasi, mulai dari gaji di bawah 1 juta rupiah sampai gaji yang melebihi 10 juta rupiah tiap bulan.

Untuk guru PNS, besar kecil gajinya ditentukan oleh berbagai faktor seperti standar pemerintah daerah, tingkat pendidikan guru dan lamanya masa kerja.

Saat ini provinsi di Indonesia yang memiliki standar UMR guru PNS tertinggi adalah DKI Jakarta. Adapun kenaikan pangkat/golongan guru PNS yang biasanya bisa didapat setelah mengabdi minimal 4 tahun sejak pelantikan PNS.

Kenaikan pangkat/golongan tersebut bisa diperoleh dengan baiknya kinerja guru dan kenaikan tingkat pendidikan, hal tersebut akan menaikkan gaji sekaligus.

Selain guru PNS, ada pula guru swasta. Gaji guru swasta pun bervariasi, beberapa faktor yang mempengaruhi adalah status sekolah, kinerja guru, dsb. Ada beberapa sekolah swasta bergengsi di Indonesia yang menggaji guru sebesar gaji PNS berpangkat tinggi.

Sebaliknnya ada  pula sekolah swasta yang hanya mampu menggaji guru sebesar 4 juta rupiah atau bahkan kurang.

Terakhir ada guru honorer yang notabene merupakan golongan guru paling memprihatinkan di Indonesia. Biasanya guru honorer di sekolah negeri hanya menerima gaji sebesar Rp 100.000 sampai Rp 500.00 tiap bulan.

Bahkan jumlah tersebut bisa berkurang untuk sekolah negeri di daerah terpencil. Ironi ini memang sudah mejadi lagu lama, sebab gaji guru honorer tidak ditanggung oleh pemerintah, melainkan ditanggung penuh oleh sekolah.

Mutu Pendidikan Guru

Sebenarnya di negeri ini masih banyak guru yang berusaha keras untuk membentuk generasi yang cemerlang.

Maka apabila kompetensi guru-guru tersebut belum memadai, itu bukan sepenuhnya salah guru melainkan salah sistem pendidikan guru juga.

Seperti yang kita ketahui, bidang ilmu pendidikan dan bidang ilmu murni itu dipisahkan dalam perguruan tinggi.

Sebagai contoh, jurusan matematika murni dan pendidikan matematika dipisahkan, jurusan kimia murni dan pendidikan kimia dipisahkan, dsb.

Pemisahan seperti itu tidak masalah jika tujuannya adalah untuk membuat pendidikan guru yang lebih fokus terhadap metode pengajaran.

Namun pada realitanya, pemisahan jurusan ilmu murni dengan jurusan pendidikan di Indonesia malah menciptakan kesenjangan ilmu.

Sebab bidang ilmu yang diajarkan dalan jurusan pendidikan (contoh: Pendidikan Matematika) tidak mendalam seperti jurusan ilmu murninya (jurusan matematika).

Padahal guru sangat berhak untuk mendalami bidang ilmunya layaknya seorang ilmuwan.

Infrastruktur dan Transportasi ke Sekolah

Berapa kali kita mendengar berita tentang perjuangan guru berangkat ke sekolah? Ada seorang guru honorer yang terpaksa berangkat dan pulang jalan kaki menyusui hutan selama bertahun-tahun.

Ada pula guru pelosok yang harus menyeberangi sungai setiap hari lewat jembatan dengan struktur tidak layak.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kesejahteraan guru itu perlu dukungan dari infrastruktur seperti pembuatan jalan yang bagus, transportasi umum, dsb.

Tempat Hunian Guru

Tidak kalah memprihatinkan, masih banyak guru di Indonesia yang belum memiliki hunian layak.

Mulai dari rumah semi permanen guru di Palembang yang sangat memprihatinkan, sampai perumahan guru di Desa Gili Indah yang tidak layak huni.

Lantas bagaimana para guru itu bisa mengembangkan kompetensinya jikalau rumahnya saja tak nyaman ditinggali

Sekian opini penulis mengenai pentingnya menyediakan fasilitas yang layak untuk guru. Semoga tulisan ini bisa menjadi evaluasi bersama untuk tidak hanya menuntut kualitas dari pihak tanpa memenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya.

Referensi: Revina, Shintia. 2020. “Mengapa Kualitas Guru di Indonesia Masih Rendah?”, https://magdalene.co/story/mengapa-kualitas-guru-di-indonesia-masih-renda