Hadiah Lomba ini Menjamin Masa Depan, Kok Bisa?


Hadiah Lomba ini Menjamin Masa Depan, Kok Bisa? 1

Ayok buruan! Lomba ini gak ada standar bakunya, semua standar ditentukan oleh masing- masing peserta dan masing- masing orang yang melihatnya. Penilaian akhir lomba ini tidak ada, lha gimana. Sedangkan jurinya gak bisa ditentuin, siapa aja berhak jadi juri tanpa terkecuali. Lantas, bagaimana mekanismenya?

Mekanisme lomba ini cukup dengan “menampilkan” diri sebaik mungkin didepan orang lain. Mau itu didunia nyata maupun di dunia maya. Bebas. Asalkan jangan ada cacat sedikitpun.

Setelah tampil, semua peserta harus terima penilaian dari juri. Peserta tidak berhak untuk membatasi apapun dari juri, semua penilaian ada ditangan juri. Peserta cukup diam, mengabaikan, ataupun memberi sanggahan.

Semales apapun peserta untuk mendengarkan juri, namanya juri, mau seenggak peduli apapun peserta, mereka bakal tetap berkomentar sesuka hatinya. Pastinya setiap peserta akan dihadapkan dengan empat tipe juri yang selalu ada dalam setiap lomba, si tipe menghargai, si tipe omongan pedas, si tipe detail banget, dan si tipe pemberi kritik yang membangun.

Si tipe menghargai ini emang selalu yang diharapkan oleh tiap peserta, karena dia bikin adem ayem. Beda dengan si tipe omonngan pedas yang menganggap enteng setiap ucapannya padahal ia sedang menusuk peserta. Setiap omongannya berasa meruntuhkan semua usaha peserta dan tak jarang membuat mental break dance.

Lalu si tipe detail banget, ini nih yang tingkat perhatiannya super tinggi, sampai hal sepele dan gak berguna pun bakal dia omongin. Pokoknya “mbak mundur dikit mbak nyinyirmu kelewatan”. Yang terakhir, tipe paling ideal adalah si tipe pemberi kritik yang membangun, tak hanya menyebutkan kekurangan peserta tapi juga memberikan alternative solusi yang dapat peserta lakukan untuk bisa meningkatkan dirinya.

Mendaftarkan diri sudah, mendengarkan masukan juri udah, tinggal ditentuin nih siapa pemenangnya.

“Hayo siapa?” tanya salah satu peserta.

“pasti aku”, gumam peserta

“aku lah, kamu mah apa atuh?”, ucap peserta lainnya

“ya jelas aku lah dari mana- mana mah bagusan aku dari pada kalian”, ucap peserta lainnya lagi.

Begitu kurang lebih riuhnya suasana lomba yang sebenarnya belum berakhir. Mereka mendebatkan sesuatu yang gak penting. Peserta gak ada yang sadar bahwa diawal kan sudah dijelaskan bahwa lomba ini GAK ADA PENILAIAN AKHIR ya otomatis pemenang gak bisa ditentukan secara umum. Lho gimana, namanya lomba kan pasti ada pemenangnya!

Semuanya menang menurut standarnya masing- masing peserta. Kalo peserta merasa menang ya dia menang, kalo peserta merasa kalah ya dia kalah. Lalu apa gunanya juri dong?

Juri itu CUMA menilai, bukan menentukan. Mereka memberikan penilaian tanpa paksaan dan semau mereka tanpa ada standar yang baku. Apa yang mereka nilai ya itu yang mereka pandang dari peserta. Penilaian baik atau buruknya peserta itu mutlak pada standar yang ditentukan oleh masing- masing juri. Mau sebaik apapun peserta kalo seorang juri melihat dari sisi kurangnya, ya penilaiannya bakal tetap buruk. Ya begitulah lomba ini.

Sadar atau tidak, sebenarnya aku, kamu, dan kita semua telah mendaftar bahkan mengikuti lomba ini selama bertahun- tahun.

Iya lomba itu adalah kehidupan yang sedang kita jalani. Dimana kita bisa berperan sebagai peserta dan ataupun juri. Kita berperan sebagai peserta dimata orang lain dan berperan sebagai juri untuk orang lain. Hal itu gak bisa ditolak karena secara otomatis peran itu berjalan.

Manakala kita berperan sebagai peserta kita akan berusaha menunjukkan diri sebaik mungkin didepan orang lain. Segala cara diupayakan agar terlihat lebih unggul dari orang lain. Ya walaupun gak lebih unggul, minimal akan berusaha untuk menampilkan diri terbaik versi kita. Tak jarang juga akan meniru- niru orang lain. Ya itu sudah hal biasa.

Beda lagi ketika di sosial media, apa yang ingin kita tunjukkan wajib yang baik- baiknya aja. Ketika lihat dari orang lainpun seolah kehidupan mereka sempurna tanpa cacat. Sering kali iri dibuatnya kan? Padahal aslinya beuhhhh gak tau juga sih, hehe.

Lain lagi kita berperan sebagai juri, kadang mulut ini memang susah banget buat dikontrol. Ngomong seenaknya. Sebenarnya kita memberikan penilaian tanpa diminta, bahkan mungkin gak berguna. Tapi tak sadar kita terus melakukannya.

Kalau penilaiannnya baik mungkin itu bakal menyenangkan orang lain, membantu orang lain untuk bertumbuh. Tapi coba kalo penilaian yang kita berikan jelek, Cuma nyinyir, gak ada masukan yang positif, apa yang terjadi pada orang lain? Mungkin banget buat mereka sakit hati, insecure, putus asa dan bahkan terbesit bundir. Siapa yang tau?

Setiap orang punya standar diri mereka masing- masing, baik itu tingkat kebahagiaan, tingkat kesulitan, tingkat kejenuhan, dan lainnya. Makanya hati- hati kalo jadi juri, jangan sampai mulut sehalus sutera dimata sendiri tapi setajam silet dimata orang lain.

Begitupun ketika jadi peserta, pintar- pintarlah telinga buat menyaring sampah. Jan sampai kecolongan. Abaikan penilaian orang lain yang gak mendukung. Karena mau sebaik apapun diri kita pasti bakal ada yang tetap nyinyir. Everywhere and everytime, kita gak bisa dipisahkan dari hal itu.

Ya, begitulah hidup. Bukan perkara siapa yang menang atau siapa yang kalah melawan orang lain, tapi siapa yang menang melawan diri sendiri. Ia yang berhasil melawan ego, keterbatasan diri, dan insecurity dalam dirinya, ialah pemenangnya. Ia dijamin bakal terus bertumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. So, apapun peran yang sedang dimainkan, harus professional ya!


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Diahir

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap