Hadiah Untuk Ibu ku


Hadiah Untuk Ibu ku 1

Di pagi yang cerah, Maya dan Ibu sedang duduk di depan teras dan cuaca masih sangat sejuk sambil melihat pemandangan di pagi hari. Maya melihat bunga – bunga itu tidak terawat lagi, karena tumbuh subur tapi liar. Karena Ibu selalu pulang terlalu malam dan tidak sempat untuk merawat bunga – bunga itu.

“Sekarang kamu sudah besar dan sudah dewasa, seharusnya Maya yang merawat bunga itu.” Kata Ibu kepada Maya.

Maya menundukan kepala dan menjawab, “Iya  Ibu.”  Dan tiba – tiba ada suara telepon. Setelah berbicara tiga puluh menit, ternyata telepon itu dari Ira. Ira adalah saudaranya Maya yang tinggal di Surabaya untuk datang ke pesta ulang tahun.

“Hai, apa kabar Maya, besok datang  ya di pesta ulang tahunku.”  Ujar Ira.

“Saya baik baik saja kok. Iya pasti datang.” Jawab Maya dengan perasaan senang sekali.

“Jangan lupa keluargamu harus diajak juga, ya.” Kata Ira.

“Iya, pasti keluarga akan kuajak.” Kata Maya kemudian.

Keesokan harinya Maya dan keluarganya datang dan adiknya. Adiknya bernama Anisa, Maya langsung mencari Ira.

“Hai, Maya.” Sambut Ira dengan hangat.

“Wah, pestamu meriah sekali ya.” Maya merasa takjub dan merasa senang.

“Iya, terima kasih. Menurutku ini pesta yang sederhana sekali.” Kata Ira kemudian.

“Ooo, bagus dong. Emmm… kalau begitu selamat ulang tahun ya.” Maya berkata sambil menggulurkan tangan dan mengucapkan  selamat ulang tahun pada Ira.

“Ini kan berkat aku selalu bantui Ibu terus, kan aku selalu merawat bunga – bunga  Ibu dengan baik dan aku juga bantu Ibu yang lainnya.” Kata Ira merasa senang sambil mentatap kedua mata Maya.

“Emmm…..bagus  dong.” Maya sambil berpikir perkata Ira itu.

“Hallo….. kok melamun, kamu pikiri apa, May.” Ira berkata sambil memegang pundak Maya.

“Emmm… tidak ada kok .” Maya berkata ( Dalam hati Maya merasa bersalah dengan Ibunya dan tidak menuruti perkata ibunya ).

“Eh, ikut aku yuk diteras.” Ira mengajak sambil memegang tangan Maya.

“Kenapa kita diteras memang ada apa, kan disini kan lebih nyaman.” Kata Maya sambil mayun.

“Udah ikut saja nanti kamu tahu sendiri kok ada yag aku tujuki ke kamu.” Ira memegang tangan Maya ke teras dan membawa jus mangga.

Setelah sampai diteras Maya pertama kali di lihat adalah bunga. Dan bunga – bunga itu indah sekali, di mana mana dan sekeliling rumah pun pernuh bunga.

“Ira, apa kamu juga yang merawat bunga itu.” Maya bertanya lagi dengan perkataan Ira itu masih ada di benaknya, Karena belum yakin dengan perkataan Ira.

“Iyalah, Maya ini semua aku yang kerjai dan merawat bunga itu.” Ira menjawab sambil meminum jus.

“Oooiya aku ingin juga merawat bunga tapi kan akk…ku.” Kata Maya  (Maya berpikir lagi apa yang di katakan Ibu sama Ira ada benarnya juga, tapi apa yang aku lakukan agar bunga – bunga itu tumbuh subur tapi tidak liar).

“Tapi, apa Maya.” Kata Ira penasaraan.

“Tapi, aaak…ku bingung besok kan hari ulang ibuku, tinggal sebulan lagi.”  Maya berkata dengan gugup.

“Ooo, kalau begitu aku tahu apa yang kamu lakukan.” Kata Ira.

“Apa yang harus aku lakukan, Ira. Aku bingung nih apa yang aku beri kan pada Ibu” Maya menatap kedua mata Ira.

“Apa yang di ingin kan Ibumu pasti kamu akan memberinya apa dong.” Ira bertanya pada Maya.

“Kalau aku kasih bunga pada Ibu gimana kan di depan rumahku ada bunga – bunga tapi liar. Aku bingung apa yang kulakukan saat ini.” Maya berkata sambil memegang tangan Ira.

“Oooiya, bagus dong dan itu ide yang paling bagus sekali.” Ira berkata sambil memegang pundak Maya.

“Ira, terima kasih atas bantuannya. Kamu baik banget deh.” Maya langsung memeluk Ira.

“Tak usah begitu Ah, Ooo aku tahu kamu nanti  aku kasih bijinya bunga mau tidak dan kamu harus menanamnya di halaman rumahmu pasti indah dan aku punya banyak biji yang kamu tinggal pilih aja deh. apa yang kamu suka.?” Ira menawarkan biji bunga kepada Maya dan menunjukkan bijinya.

“Benarkah boleh nih, aku mau biji matahari, tulip, anggrek, kamboja, melati, dan mawar aja.” Kata Maya merasa senang atas bantuan Ira dan langsung memeluk Ira sambil berkata terima kasih.

“Hari sudah sore nih, tak terasa kita ngrombolnya sudah sangat lama sekali ya.” Kata Ira kemudian.

“Iya nih, aku sudah ditunggu orang tuaku. Sudah saatnya aku pulang nih.” Maya berpamitan kepada Ira untuk pulang.

“Jangan sampai lupa biji bunganya dirawat dengan baik ya dan juga di sirap tiap paginya.” Kata Ira sambil  berpesan pada Maya.

“Iya, aku tidak pernah lupa dengan pesanmu jadi.” Maya  berkata sambil memeluk Ira sebagai tanda perpisahan.

 

Setelah sampai di rumah Maya pun langsung menanam biji bunganya yang dikasih  Ira,  Maya pun tiap pagi menyirami bunga – bunga itu dan di bantu dengan adiknya Anisa. Anisa bantu di bagian belakang rumah dan Maya bagian depan teras rumahnya yang sangat luas sekali.

Keesokan harinya ibu dan bapak akan pergi ke Paris untuk menghadiri rapat kantor, dan Maya harus menjaga adiknya dirumah.

“May, Ibu dan Bapak pergi dulu ya. Kamu harus jaga adikmu di rumah.” Kata Ibu sambil memegang pundak Maya.

“ Iya bu, Ibu di Paris berapa lama?” Kata Maya sambil memeluk Ibu.

“ Sebulan.” Kata Ibu kemudian.

“ Lama banget bu.” Kata Maya  masih memeluk Ibunya, tidak rela Ibunya pergi terlalu lama apalagi sebulan.

“ Kamu jangan sedih kan ada bibi dan adik dirumah.” Kata Ibu sambil menatap mata Maya dan berpamit untuk pergi.

“ Iya bu, Ibu hati – hati ya di jalan.”  Kata Maya sambil melihat Ibu Bapak nya pergi menaiki mobil.

Setelah berapa bulan kemudian bunga – bunga itu sudah tumbuh besar dan indah.

“Dek, kan dua hari lagi Ibu pulang dari Paris apa kita buat kejutan untuk Ibu gimana.” Maya berkata sambil berbisik-bisik pada Anisa.

“Iya, kak boleh, boleh – boleh aja. Tapi kan kita belum buat kue ulang tahun untuk Ibu.” Anisa berkata pernuh semangatnya dengan wajah polosnya.

“Buat kue ide ya, bagus juga tuh Dek.” Maya berkata sambil tersenyum.

“Oiya, Kak kapan kita buat kuenya Kak.” Kata Anisa dengan riang gembira.

“Kalau besok pagi kita menyiapkan bahan dulu, baru kita buat kuenya.” Kata Maya kemudian.

“Ha…ha…ha… aku sampai lupa Kak kan belum ada bahannya, kirai Kakak mau buat kue sekarang.” Jawab Anisa tak sabar tunggu besok pagi.

“Ih, kamu Nisa lucu banget sih. Sekarang kamu harus istirahat dulu besok kan kamu sekolah.” Kata Maya.

“Iya, deh.Tapi pas pulang sekolah aku mau buat kue sama Kakak titik.”  Kata Ainsa dengan wajah di tekuk.

“Iya, Nisa.” Kata Maya singkat.

 

Pagi harinya Maya membeli bahan untuk membuat kue dan menunggu Anisa pulang. Maya membuat vas bunga dari stik es krim lalu di bungkus dengan kain fanel yang berwarna merah muda dan memilih bunga yang  akan di pasang di vas bunga dan  menaaruhnya di meja teras. Dan menata tempat teras supaya rapi dan indah. Setelah selesai menata teras dan tinggal kita buat kue.

“Kak, aku sudah pulang nih yuk buat kuenya.” Kata Anisa dengan pernuh semangat.

“Iya.” Kata Maya.

“ Kak, kita buat kue apa.” Kata Anisa menatap wajah Maya.

“Kakak  mau buat Cake Chesses gimana pasti enak.” Kata Maya sambil menyiapkan bahan.

“Yang di atasnya di taburi keju Kak.”  Anisa  berkata sambil melihati Kakaknya menyiapkan bahan untuk membuat kue.

Pertama tama kita mauskan tepung dan telurnya, lalu di aduk sampai adonan mengembang.

“Kak, aku yang aduk adonannya.” Kata Anisa.

“Boleh, tapi jangan telalu kecepatan ya.” Kata Maya sambil memperhatikan tingkah laku adiknya itu.

Setelah adonanya selesai. Tinggal di open beberapa menit, dan setelah cake chesses sudah jadi tinggal taburi keju di atasnya.

“Hore, Cake kejunya sudah selesai.” Kata Anisa.

“Sekarang kita hias kuenya lalu kita taruh di meja teras.” Maya berkata  sambil melihat sebuah karya yang tak terduga olehnya.

 

Sambil menunggu Ibunya pulang, Maya dan Nisa tunggu Ibu di depan rumah, Maya sudah menyiapkan apa yang Ibu sukai. Setelah Ibu pulang Maya dan Nisa menyambutnya dengan riang gembira dan pernuh semangat.

“Selamat datang Ibu.” Sambutan dari Nisa dan Maya menyambut Ibunya dengan pernuh semangat.

“Eh, kalian tunggu Ibu pulang ya.” Ibu berkata sambil tersenyum manis pada anaknya.

“Ibu…ibu ikut aku yuk bu diteras sambil istirahat disana yuk bu.” Kata Anisa sambil memegang tangan Ibunya.

“Iya…iya Ibu akan ikut.” Ibu merasa binggung dengan tingkah laku anaknya yang tak biasa ini.

Setelah sudah sampai di teras Ibu merasa terkejut dan takjub apa yang dilihatnya dan Maya mempersilahkan Ibu duduk di teras. Di teras ada vas bunga dan kue di atas meja.

“Apa kalian berdua yang melakukan ini semua.” Kata ibu kemudian.

“Iya, Ibu.”  Jawab Maya dan Nisa dengan kompak.

“Wah…indah sekali bunga – bunganya warna warni lagi, Ibu suka.” Kata Ibu merasa senang kepada anaknya.

 

Akhirnya, mereka bisa melihat bunga – bunga yang indah sambil menikmati kue buatan anaknya. Dan ibu merasa senang dan bangga apa yang di lakukan anak – anak tersayangannya itu.  Dan sekarang Maya semakin rajin merawat bunga  dan merawat dengan baik.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Masruroh Fitri

   

Nama saya Masruroh Fitri Cahyawati. Hobi saya menulis cerita pendek.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments