Hal-hal Kecil Tentangnya yang Kusuka

Hal-hal Kecil Tentangnya yang Kusuka 1

“Ah, lelah sekali,”

Aku mengalihkan pandanganku dari laptop di pangkuanku ke perempuan yang duduk di sofa panjang seberangku ini. Kepalanya tersandar ke bahu sofa. Sesekali, ia menepuk-nepuk keras kedua bahunya. Kebiasaan yang dilakukannya saat ia merasa tubuhnya pegal.

Jus Jeruk

Segelas es jeruk yang tersedia tepat di hadapannya pun tak dihiraukannya. Aneh. Aku tahu persis perempuan di hadapanku ini tidak pernah bisa menahan godaan untuk tidak meneguk es jeruk di hadapannya.

Keningku mengerut. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa… lebih lelah daripada biasanya,” ujarnya dengan mata terpejam.

Seperti lelaki kebanyakan di luar sana, aku bukanlah pembaca pikiran. Terutama pikiran perempuan di depanku ini, yang seringkali tidak bisa kutebak jalan pikirannya. Namun melihatnya yang bahkan tidak nafsu untuk meminum minuman favoritnya, kuputuskan untuk menaruh laptopku di meja dan berpindah posisi untuk duduk di samping kirinya.

Kuraih tangan kirinya dan kupijat pelan-pelan, berharap pijatanku membuatnya sedikit rileks. “Ada masalah pekerjaan?”

Ia menggeleng lesu. Ia menghela napas pelan dan tak lama kemudian menyenderkan kepalanya ke bahuku. Aku dan dia terdiam selama beberapa menit, sebelum akhirnya ia membuka suara.

“Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa sangat lelah dengan rutinitas harianku akhir-akhir ini. Bangun saat matahari bahkan belum terbit, berangkat berdesak-desakan dengan penumpang lain di bus, bos yang selalu menuntut, pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya…”

Aku diam. Hal paling sederhana yang bisa kulakukan saat ini adalah membiarkannya menumpahkan segala keluh kesahnya.

“Lalu aku pulang dan harus kembali berdesak-desakan di bus. Hampir setiap hari aku pulang malam, tetapi aku harus bangun pagi-pagi buta lagi keesokan harinya,”

“Berbincang dengan rekan kerja lain sudah tidak semenyenangkan dahulu… Aku mencoba berbelanja barang-barang kesukaanku tetapi aku tidak merasa ada perubahan yang berarti di keseharianku,”

Kurasakan tangan kirinya yang berada di pangkuanku perlahan menggenggam tanganku kuat.

“Aku muak,” ujarnya.

Aku mengelus-elus punggung tangannya. Setelah itu kuraih puncak kepalanya dan kukecup pelipisnya. Aku mencoba memikirkan kata-kata untuk menentramkan hatinya, tetapi tidak ada satu kalimat pun muncul di kepalaku. Ya, aku memang bukan pria romantis seperti Shakespeare atau Valentine yang mahir mengeluarkan sajak romantis di momen krusial seperti saat ini.

Perempuan kesayangannku ini menenggelamkan kepalanya di pelukanku dan menggenggam erat kedua sisi tubuhku. Ia tidak menangis, tetapi badannya gemetar. Kubalas dengan menepuk lembut punggungnya.

Kami terdiam selama beberapa menit di posisi seperti itu sebelum akhirnya ia melepaskan diri dari pelukanku. Melihat matanya yang sayu, kuputuskan untuk mencoba mengajaknya beraktivitas daripada berdiam diri berlarut-larut dengan kesedihan.

“Kamu mau keluar? Aku akan mentraktirmu hari ini,” ujarku mencoba menghiburnya. Ia tertawa pelan lalu membalas, “Jangan tarik kalimatmu barusan. Aku akan meminta dibelikan barang-barang bermerek dan makan di restoran bintang lima,”

Aku hanya mengangguk pasrah dan ia tertawa semakin kencang.

“Aku mau menonton film jadul,” ucapnya usai puas tertawa. “Kalau begitu, ayo segera bersiap-siap pergi. Kamu tahu sendiri, jadwal pemutaran film jadul di tempat kesukaanmu itu terbatas hanya dua kali dalam sehari,” jawabku sembari berdiri.

Kuberitahu, aku dan dia memiliki selera tontonan yang berbeda. Sangat sangat berbeda. Aku menyukai film mancanegara keluaran terbaru sedangkan dia menyukai film Indonesia jadul, terutama yang berbau sejarah. Tidak jarang aku berdebat dengannya saat kita ingin menonton film di bioskop.

Meski begitu, aku tetap menuruti keinginannya. Hari ini aku sudah bertekad untuk menuruti seluruh keinginannya. Mungkin ini hanya egoku sebagai pria, tetapi aku merasakan kesenangan tersendiri saat dapat memenuhi permintaannya, bahkan untuk hal terkecil sekalipun seperti menonton film kesukaannya.

***

Di sampingmu

“Hey,”

“Hmm?”

“Aku bersyukur kamu di sampingku,”

“Aku juga,”

***

Hari ini hari Minggu. Waktunya beristirahat atau berlibur bagi kebanyakan orang. Namun kurasa hal tersebut tidak berlaku bagiku. Bagiku, hari kerja atau akhir pekan sama saja. Pekerjaanku sebagai penulis lagu membuatku tidak memiliki jadwal yang tetap. Terkadang aku bekerja di saat orang-orang berlibur atau kebalikannya.

Pagi ini aku habiskan dengan merekam beberapa sampel melodi dan menulis lirik untuk laguku yang belum selesai sebelumnya. Tengah hari, aku memutuskan untuk bersantai-santai dengan menonton serial detektifku. Tetapi fokusku terpecah saat mendengar panggilan masuk di ponselku. Kulihat siapa gerangan yang menelponku, lalu kurasakan kedua sudut bibirku tertarik ke atas saat melihat nama pemanggil di layarku.

“Hm?”

“Apa kau sibuk?” tanyanya singkat

“Tidak. Kenapa?”

“Bisakah kau ke restoran seafood yang berada di dekat tempatku sekarang? Kau tahu, yang kau bilang potongan lobsternya besar-besar,”

Aku melirik jam dinding lalu bertanya, “Bukankah kau ada rencana makan siang dengan adik lelakimu di sana?”

Namun respons yang kudapatkan tidak sesuai dengan ekspektasiku. Bisa kudengar ia menghela napas singkat sebelum menjawab.

“Bisa. Atau. Tidak?” ujarnya dengan penekanan di tiap katanya.

Dari nadanya menjawab, aku dapat menebak bahwa ia saat sedang kesal. Lucunya, aku bisa membayangkan bagaimana wajah kesalnya saat ini walaupun ia berada di seberang telepon sana. Aku tertawa dalam hati karena imajinasiku sendiri.

“Oke, oke! Aku langsung ke tempatmu sekarang,” ujarku sembari mengambil jaket dan kunci mobil. Beruntung, perjalananku hanya memakan waktu sekitar 20 menit.

Aku menemukannya duduk sendiri di salah satu sudut restoran. Dan benar saja, wajahnya tampak kesal sembari memainkan ponsel. Salah satu tangannya bersandar di meja makan, menopang kepalanya. Bibirnya tertutup rapat, membentuk garis lurus. Berkebalikan denganku yang tersenyum menahan tawa melihatnya.

“Hey,” sapaku sembari mengambil duduk di seberangnya. Ia menengadah.

“Biar kutebak. Kau dicampakkan adikmu?” ujarku sembari menahan tawa. Aku tidak tahu bagaimana wajahku saat ini karena ia menatapku tajam. Aku tahu kalimatku tepat sasaran dan akhirnya, aku tak bisa menahan tawa lagi.

“HEY!” serunya marah. Aku meredakan tawaku. “Maafkan aku. Jadi, kenapa adikmu tidak datang?”

Ia terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Ia mendapatkan sisa tiket untuk menonton pertandingan tim basket favoritnya siang ini. Ia langsung berputar arah menuju arena tanpa mengabariku terlebih dahulu. Aku sudah sampai duluan, jadi tentu saja, aku khawatir mengapa ia tak kunjung datang. Aku menghubunginya berkali-kali dan ia baru mengangkat setelah teleponku yang kesekian kalinya. Yang membuatku kesal adalah ia tidak menghubungiku untuk membatalkan janjinya.”

Aku mengangguk paham. Kami, kaum lelaki, jika sudah mempunyai hobi atau kesukaan yang mendalam, sulit untuk melepasnya. Aku, sedikitnya, memahami tindakan adik dari perempuan di hadapanku ini.

“Kau tahu sendiri ‘kan adikmu memang penggemar basket. Berbicaralah nanti dengan adikmu. Sebaiknya sekarang kita memesan makan,” ujarku sembari membuka buku menu. Kurendahkan suaraku dan berkata, “Kurasa pelayan restoran curiga dengan kita karena kita tidak memesan makan sedari tadi,”

Aku tidak bermaksud bergurau, tetapi senyum kecil muncul di wajahnya. Aku turut senang melihatnya.

Aku dan dia saling bertukar cerita selama makan. Tentang ikan yang dipeliharanya. Tentang tanaman selada yang ditanam ibunya. Ia bercerita terkadang ia merasa kesal sendiri jika terbangun siang hari dan mengacaukan rencana hariannya.

Aku mendengarkan dengan seksama setiap cerita yang keluar dari bibirnya. Tentu saja, aku juga bercerita tentang hariku. Tentang serial detektif kesukaanku, lalu bagaimana aku menghabiskan pagiku hari ini dengan merekam dan menulis lirik lagu. Ia menanggapi dengan antusias, berkata bahwa ia tidak sabar untuk mendengar lagu terbaruku.

Aku tersenyum senang melihat orang yang kusayang bangga dan mendukung karya pekerjaanku.

Yang tidak kuceritakan adalah bahwa aku sesekali membayangkan sosoknya saat membuat lagu. Menjadikannya tokoh utama dari tiap bait lirik yang kutulis.

Hal-hal Kecil Tentangnya yang Kusuka 3

***

 “Aku sudah pernah berkata padamu ‘kan sebelumnya?”

“Berkata apa?”

“Lupakan. Aku tidak akan mengulang kalimatku kedua kalinya,”

“Katakan. Aku penasaran,”

“Jika kau tidak ingin makan sendirian, jangan menghubungi orang lain.”

“Lalu aku harus menghubungi siapa?”

“Kau tahu jawabannya,”

“Kamu sungguh tidak bisa bersikap romantis barang sedikit saja,”

“……”

“Tetapi aku tahu kamu memahamiku dan memerhatikanku setiap saat. Aku tahu, lagu yang kamu tulis sebagian besar tentangku bukan?”

“…Segala tentangku sudah berada di genggamanmu, ya.”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Kaya Skavinia