Hambatan Mencintai Diri Sendiri di Dunia yang Menghamba Pada Standarisasi Kecantikan

Hambatan Mencintai Diri Sendiri di Dunia yang Menghamba Pada Standarisasi Kecantikan 1

Perempuan dan cantik. Kedua kata tersebut seakan menjadi idaman tersendiri oleh masyarakat secara umum. Tidak bermaksud untuk melakukan generalisasi, namun biasanya orang-orang akan lebih menghormati seseorang yang “good looking” daripada yang “good attitude”. Misalnya saja perilaku seorang perempuan yang berperilaku tidak baik namun karena menurut orang-orang “good looking”, maka dia akan mendapat komentar seperti “untung cantik”. Hal ini berbanding terbalik dengan kasus yang sama namun dengan perempuan yang “tidak good looking”, maka dia dengan otomatis akan mendapat hujatan serta penghinaan dari segi perilaku dan tentunya secara fisiknya. Inilah segelintir contoh yang menggambarkan bahwa masyarakat begitu menghamba dan berpaku pada fisik seorang perempuan.

Sejatinya perilaku baik dan buruknya seorang manusia tidak ada hubungannya dengan fisik. Bagaimana pun fisik yang dimilikinya adalah merupakan versi terbaik yang Tuhan ciptakan. Tidak sepantasnya mengaitkan fisik dengan perilakunya karena sama saja itu sebuah penghinaan terhadap makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kendati demikian, sayangnya justru masyarakatlah yang mengekalkan hal tersebut. Paling parahnya lagi, tidak jarang perempuan juga yang malah menjadi pelaku atas penghinaan fisik terhadap sesama perempuan. Beberapa kali hal ini saya temukan di sosial media seperti TikTok. Menurut saya si pelaku menjadi begitu juga dikarenakan dia telah terlahir di dunia yang menghamba pada patokan standar kecantikan atau bisa jadi karena kurangnya edukasi dalam dirinya.

Istilah kata “glowing” saat ini seolah menjadi tren dan orang-orang menjadi berlomba-lomba untuk menjadi demikian. Tidak jarang dan tidak sedikit para perempuan rela menghabiskan banyak uang jajannya untuk membeli beragam “skincare” untuk mempercantik diri. Menurut saya perempuan dan “skincare” tidak hanya dua hal persoalan tentang gaya hidup dan standar kecantikan saja namun, kedua hal tersebut juga berkaitan dengan status ekonomi seseorang. Perempuan dengan status ekonomi menengah ke atas akan lebih mudah untuk mengikuti dan mengejar standar kecantikan yang produksi oleh masyarakat. Namun hal ini juga berlaku sebaliknya. Perempuan dengan status ekonomi menengah ke bawah atau bawah akan sangat lebih sulit untuk menjadi “cantik” versi konstruksi masyarakat.

Status ekonomi dan standar kecantikan menjadi dua hal momok bagi perempuan di tengah kehidupan masyarakat yang menghamba atas konsep “good looking” seperti sekarang ini. Seseorang pernah berkata kurang lebih “kita hidup di dunia yang good looking akan lebih dihargai daripada yang good attitude”. Pernyataan tersebut semakin mengamini konsep standar kecantikan perempuan seperti putih mulus, mancung, badan langsing, rambut lurus, tinggi, dan lainnya. Perempuan dengan fisik itulah yang kemudian masuk dalam kriteria “cantik”. Cantik di sini seolah-olah hanya berpaku pada tampak luarnya saja dan mengabaikan bahwa cantik juga tercermin dari perilaku seseorang.

Hal ini kemudian menjadi problematika untuk kebanyakan perempuan. Mereka yang tidak berkriteria tersebut akan menjadi “insecure” atas fisik yang dimilikinya. Standar kecantikan yang menyelimuti pandangan masyarakat menyebabkan kebanyakan perempuan tidak percaya diri dan sayangnya berakhir pada tidak cintanya dengan diri sendiri. Rasa mencintai diri sendiri menjadi pupus karena kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas. Seperti halnya dengan perempuan-perempuan yang lainnya, saya pun juga merasa demikian. Selama saya hidup sampai saat ini masih sering mendapat perkataan-perkataan yang justru cenderung “toxic”. Saya sedari kecil seringkali dihantui dengan perkataan bahwa perawan itu harus kecil badannya. Saya yang bertubuh berisi menjadi sempat tidak bersyukur, cemas, dan bahkan merasa minder dengan teman-teman.

Untungnya saya memiliki lingkungan pertemanan yang tidak memikirkan fisik dan justru berjuang untuk membantu menghapuskan standar kecantikan. Salah satunya adalah pengalaman saya mengikuti aksi turun ke jalan. Di sana saya bersama kawan-kawan yang senasib dan memiliki rasa yang sama. Poster yang diangkat tinggi-tinggi serta suara lantang mereka kala itu membuat saya bahagia dan lega. Sesama perempuan yang lelah dengan konstruksi produksi masyarakat berkumpul untuk memperjuangkan memberangus standar kecantikan yang selama ini menghantui perempuan. Dari sinilah kemudian lebih berusaha keras untuk mencintai diri sendiri dan tidak memasukkan ke hati jika terdapat perkataan yang membandingkan fisik saya dengan standar kecantikan.      

Sebenarnya hal yang sah-sah saja bagi siapapun untuk mengubah wajah dan fisiknya menjadi seperti apapun. Hal yang sah pula mau merawat diri sendiri dengan cara maupun metode apapun. Hal ini dikarenakan tubuhmu adalah hak mutlak atas dirimu sendiri. Namun yang perlu dicatat adalah berubah dan merawat dirilah untuk dirimu sendiri, untuk menyenangkan diri sendiri dan bukan karena dilatarbelakangi oleh standar kecantikan. Jadilah apa yang kamu inginkan, yang kamu suka, dan bukan untuk dia, kalian, bahkan mereka, namun untuk diri sendiri. Konsep inilah yang selalu berusaha saya internalisasi. Sedikit tulisan serta cerita pengalaman ini semoga menjadi salah satu jalan bagi kita semua sebagai perempuan untuk lebih mencintai diri sendiri, mengabaikan standar kecantikan dan lebih bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kita. Kita cantik versi diri kita sendiri. Salam dan peluk hangat tubuh ini. Terima kasih untuk tubuh yang selalu berusaha bangga terhadap diri sendiri.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nourma Dewi Fatmawati