Hikmah Pengalamanku Memandikan Jenazah Pasien AIDS


Aku memang bukan perawat atau tenaga kesehatan, tetapi bukan berarti aku tidak punya pengalaman unik terkait merawat pasien.

Beberapa tahun lalu, aku sebagai mahasiswa menjalankan praktik lapangan di sebuah rumah sakit di kota S. 

Aku dan sejumlah temanku bertugas menemani para perawat jaga yang setia merawat pasien dengan sistem sif.

Tugas paling berat memang adalah jaga malam hingga dini hari. Rasa kantuk luar biasa harus dilawan demi tetap waspada jika ada pasien yang mendadak memerlukan bantuan. 

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, rupanya para perawat mendapat pula vitamin. Harapannya, stamina bisa sedikit terjaga agar tidak mudah kelelahan  saat bertugas.

Suatu sore, aku ikut menemani tugas jaga tiga perawat di bangsal kelas biasa. Tetiba perawat ketua regu berkata, “Mas, mau ikut memandikan jenazah pasien AIDS?”

Aku agak ragu. Namun, si perawat meyakinkanku. “Tidak apa-apa, Mas. Nanti asalkan sesuai prosedur medis, semua akan aman-aman saja,” bujuknya.

Aku pun menyanggupi. Aku diajak ke ruang ganti. Rupanya memang perawat yang memandikan pasien AIDS wajib mengenakan Alat Pelindung Diri lengkap. Mirip sekali dengan APD dari Covid-19 saat ini. 

Ada tiga perawat yang bersamaku memasuki ruangan itu. Mereka dengan sangat hati-hati memandikan jenazah pasien AIDS yang adalah seorang laki-laki itu.

Aku sebenarnya tidak ikut menyentuh jenazah karena memang aku bukan tenaga kesehatan. Hanya mengamati saja sembari membantu jika diperlukan.

Jujur, ketika pertama melihat jenazah pasien AIDS, aku malah jadi tidak takut. Aku justru merasa sangat kasihan. Jenazah itu kurus kering. Tinggal tulang dan kulit saja. 

Ilustrasi pasien AIDS atau OHDA (Pexels.com)
Ilustrasi pasien AIDS atau OHDA (Pexels.com)

Hikmahnya bagiku adalah bahwa virus HIV penyebab AIDS itu sungguh dahsyat dampaknya dalam merusak tubuh seseorang. Tentu tak segera orang menjadi kurus kering setelah terinfeksi HIV. Perlu waktu bertahun-tahun.

Hikmah lain adalah tentang pentingnya mengetahui seluk-beluk HIV-AIDS. 

Kita perlu mengetahui cara penularan virus HIV agar bisa menghindarkan diri. Dikutip dari laman WHO, virus HIV dapat ditularkan melalui pertukaran berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, seperti darah, ASI, air mani dan cairan vagina. 

HIV juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan persalinan. Seseorang tidak dapat terinfeksi melalui kontak biasa sehari-hari seperti berciuman, berpelukan, berjabat tangan, atau berbagi benda pribadi, makanan atau air.

Kembali ke cerita kita. Setelah selesai memandikan jenazah, si perawat ketua regu mengatakan sesuatu yang menarik. 

“Di RS ini, kami para tenaga kesehatan tidak menggunakan istilah pasien AIDS, tetapi OHDA atau Orang yang Hidup dengan AIDS,” katanya. 

“Biar tidak terlalu menyinggung keluarga pasien. Beda sekali, kan, kalau mereka mendengar langsung istilah pasien AIDS,” jelasnya lagi. 

Ia memaparkan, si pasien yang akhirnya meninggal itu tetap dicintai oleh istrinya yang setia mengunjunginya. Si pasien cukup beruntung karena tidak semua pasien OHDA diterima dan ditemani keluarganya. 

Tidak begitu lama setelah jenazah si pasien OHDA selesai dimandikan, istrinya dan sejumlah kerabat datang ke rumah sakit itu. 

Tangis pilu pun pecah. Meski secara pribadi aku tak mengenal pasien dan keluarganya, tetap saja aku ikut bersedih dalam hatiku.

Siapa tak sedih kehilangan orang tercinta yang akhirnya berpulang setelah berjuang melawan HIV-AIDS yang perlahan menggerogoti tubuh penderitanya?

Akhir kata, semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap mengasihi OHDA. Jangan pula menambah derita OHDA dan keluarganya dengan stigma dan ejekan. Mereka memerlukan cinta, bukan stigma. Salam peduli. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ro.bby

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap