Hitam dan Putih Ala Es Dorong

Hitam dan Putih Ala Es Dorong 1

“One day go to the airport, purchase any flight ticket that you don’t know it will takes you anywhere, and let see what fate brings to you”

Kutipan itu sangat menarik ketika kita dapat memahami arti dibalik kata fate. Saat manusia selalu dipengaruhi oleh segala target dan tujuan, dan mencapai garis akhir dengan ekspektasi.

Bagi sebagian orang, terkadang hal tersebut merupakan hal yang sangat di idam-idamkan. Mendapatkan sesuatu yang mereka tahu akan dapatkan, dan mencoba menghindar dari sesuatu yang mereka tidak inginkan.

Lalu, apa arti hidup yang sebenarnya? Apakah hidup harus selalu dengan segala faktor kondisional atau bahkan hidup hanya perlu satu hal, yaitu keberanian? Sebuah pengalaman berharga yang akan kita dapatkan ketika seorang manusia mencoba mendobrak sebuah mainstream dan akhirnya bergelut dengan waktu.

Manusia secara alami akan selalu mencari dan melihat tempat yang nyaman untuk bisa disinggahi, dan pada dasarnya pula seorang manusia tidak akan selalu bisa duduk di ‘sofa’ yang sangat nyaman sekalipun dengan hanya satu posisi duduk.

Lebih dari itu, manusia selalu ditakdirkan untuk selalu merasa tidak puas dengan semua hal yang dimiliki. Faktor humanis yang selalu ingin merasa lebih dari apapun yang membuat semua hal yang ada terkesan hanya memberikan short term effect.

Saat ini, dunia yang sangat absurd dengan isinya memberikan pemandangan yang tidak bisa dikatakan ramah, jauh dari kesan orisinalitas dan terlampau sulit untuk dijejaki para petualang kebajikan. Kata ‘tidak’ sudah sangat sulit diucapkan ketika harus berhadapan dengan kekejaman sang pembawa nafsu, dan akhirnya menjadikan sebuah pemahaman baru dalam konteks ‘kewajaran’.

Suatu kali saya melihat seorang penjaja es dorong di seputaran terminal bus di daerah jakarta pusat, kami berbincang dan akhirnya ia pun berkelakar bahwa hitam dan putih itu akan selalu ada di dalam hidup ini, hanya yang ia sayangkan diri manusia terlalu tamak untuk selalu menyediakan ruang bagi si hitam tanpa mementingkan eksistensi warna putih.

Mungkin itulah sebuah pengalaman dari seorang marginal yang didapat dari kerasnya arti hidup, saya merasa beruntung bisa berdialog dengan beliau yang selalu merasa cukup dibandingkan bercengkrama hebat dengan orang-orang yang selalu merasa kurang.

Bayangkan apabila semua makhluk di dunia ini mempunyai pola pikir yang sama dengan sang penjual es dorong, apakah bisa dikatakan hidup akan lebih indah?

Yang jelas mungkin hidup akan lebih indah, tetapi akan bersifat tidak dinamis. Dan sayang nya dinamika itu juga diperlukan sebuah pengorbanan yang sangat besar dari orang-orang yang tersisihkan.

Berandai-andai tentang proporsionalitas yang akan menjelma ke dalam ruang batin tiap manusia, berandai-andai mengenai adanya keselarasan antara sang putih dan sang hitam dalam rasionalitas jiwa dan pikiran.

Yang diharapkan nantinya akan mampu untuk bisa lebih menguatkan dan memberikan pemaknaan lebih dalam tiap jejaknya, karena sikap agamis seseorang manusia sampai sekarang dan nanti pun tidak akan pernah menggambarkan betapa istiqomah nya batin kita terhadap hal-hal yang diluar batas.

Sayang nya, warna hitam lah yang semakin menembus ke dalam ruang batin para pendekar bangsa atau mereka yang menamakan dirinya ‘orang penting’. Subjektifitas yang sangat kental disertai argumen-argumen yang mempertahankan kebobrokan semakin membuat jurang yang sangat dalam antara kebenaran yang hakiki dengan keputus asaan moralitas.

Terlalu jauh untuk bermimpi mempunyai bangsa yang sejahtera dan berkehidupan dengan berkiblat dengan bangsa lain, mereka yang disebut dengan orang pinggiran hanya ingin memiliki hak hidup untuk bisa menerima kebenaran dan kejujuran di dalam setiap mimpinya.

Achievement value mereka memang tidak sebesar dengan hati mereka dalam menerima segala sesuatu yang pahit dalam hidup, tetapi unsur pemaknaan mereka melebihi segala pemaknaan seorang filsuf sekalipun.

Yang hanya bisa kita lakukan saat ini adalah, bagaimana menumbangkan sisi egosentris yang tertanam jauh di dalam lubuk hati tiap manusia dan merubahnya kedalam sisi humanisme positif yang selalu berselaras dengan kekayaan batin dari sang pencipta.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Noor Fadhli