Hiu Kepala Sekop Tak Butuh GPS untuk Pulang


Hiu Kepala Sekop Tak Butuh GPS untuk Pulang 1

Ternyata tak hanya penyu yang diketahui menggunakan medan magnet bumi, untuk menemukan jalan di lautan. Para peneliti menemukan hal yang sama juga terjadi pada jenis hiu bonnethead (hiu kepala sekop), seperti yang diungkapkan pada jurnal Current Biology yang diterbitkan bulan Mei 2021 lalu.

“Penelitian ini mendukung teori bahwa mereka menggunakan medan magnet bumi untuk membantu mereka menemukan jalan, itu adalah GPS alam,” demikian ungkap Bryan Keller, pemimpin proyek Save Our Seas Foundation kepada situs livescience.

Hiu Bonnetheads yang dikenal sebagai hiu kepala sekop. (dok.save our seas foundation)
Hiu Bonnetheads yang dikenal sebagai hiu kepala sekop. (dok.save our seas foundation)

Sementara itu ketika ditanyakan kenapa hiu bonnetheads yang dijadikan bahan tes, menurut Keller karena hiu tersebut selalu kembali ke muara yang sama setiap tahun. “Ini menunjukkan bahwa hiu tahu di mana ‘rumah’ berada dan dapat menavigasi kembali dari lokasi yang jauh.”

Pertanyaannya kemudian adalah apakah bonnetheads mengatur perjalanan pulang tersebut dengan mengandalkan peta medan magnetik. Untuk mengetahuinya, para peneliti menggunakan eksperimen perpindahan magnetik untuk menguji 20 bonnethead remaja yang ditangkap secara liar. Dalam studi tersebut, mereka memaparkan hiu pada kondisi magnetik yang mewakili lokasi ratusan kilometer jauhnya dari tempat hiu itu benar-benar ditangkap. Studi semacam itu guna memprediksi tentang bagaimana hiu harus menyesuaikan diri jika mereka memang mengandalkan medan magnetik.

Jika hiu memperoleh informasi posisi dari medan geomagnetik, para peneliti memperkirakan orientasi ke utara di medan magnet selatan, dan orientasi ke selatan di medan magnet utara. Hal tersebut dilakukan hiu untuk berusaha mengimbangi perpindahan yang dirasakan. Mereka memperkirakan tidak ada kesalahan orientasi ketika hiu terkena medan magnet yang cocok dengan lokasi penangkapan mereka. Dan, ternyata, hiu bertindak seperti yang mereka perkirakan saat dilepaskan ke laut kembali setelah ditangkap.

Hiu kepala sekop terpilih menjadi satwa penelitian karena ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar. (dok. The Times and Democrat) 
Hiu kepala sekop terpilih menjadi satwa penelitian karena ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar. (dok. The Times and Democrat) 

Para peneliti menyarankan bahwa kemampuan untuk bernavigasi berdasarkan medan magnet ini juga dapat berkontribusi pada struktur populasi hiu. Temuan di bonnetheads juga kemungkinan membantu menjelaskan prestasi mengesankan oleh spesies hiu lainnya. Misalnya, seekor hiu putih besar tercatat bermigrasi antara Afrika Selatan dan Australia, kembali ke lokasi yang sama persis pada tahun berikutnya.

“Penelitian ini menunjukan betapa canggihnya hiu, karena bisa berenang sejauh 20.000 kilometer pulang pergi di lautan dan kembali ke tempat yang sama?” imbuh Keller. “Ini benar-benar menakjubkan. Di dunia di mana orang menggunakan GPS untuk menavigasi hampir di mana-mana, kemampuan ini benar-benar luar biasa.”

Dalam studi masa depan, Keller mengatakan dia ingin mengeksplorasi efek medan magnet dari sumber antropogenik seperti kabel bawah laut pada hiu. Mereka juga ingin mempelajari apakah dan bagaimana hiu mengandalkan isyarat magnetik tidak hanya selama migrasi jarak jauh, tetapi juga selama perilaku sehari-hari mereka.

Spesies ini hidup di kedua sisi pantai Amerika, di daerah di mana air biasanya lebih hangat dari 21 °C. Di Atlantik, satwa ini mudah ditemukan di kawasan New England, Teluk Meksiko dan Brasil. Sementara di Pasifik bisa dilihat berkisar dari California selatan hingga Peru utara.

Selama musim panas, hiu kepala sekop biasa terlihat di perairan pantai Carolina dan Georgia. Kalau di Florida dan Teluk Meksiko, hewan ini terlihat di musim semi, musim panas, dan musim gugur. Khusus untuk musim dingin, hiu bonnethead ditemukan lebih dekat ke khatulistiwa, di mana airnya lebih hangat. Populasi satwa ini masih berlimpah di Samudra Atlantik Utara dan Teluk Meksiko, namun telah menjadi jauh lebih jarang di Laut Karibia, dan hampir punah dari sebagian besar wilayah Atlantik Selatan dan Pasifik.

Hiu kepala sekop diketahui sering mengunjungi muara dan teluk dangkal di atas lamun, lumpur, dan dasar berpasir. Satwa ini dicirikan dengan bentuk kepala yang lebar, halus, seperti sekop. Satwa ini juga diketahui memiliki sefalofoil (kepala martil) terkecil dari semua spesies Sphyrna. Tubuh berwarna abu-abu-coklat di atas lebih gelap dan lebih terang di bagian bawah badan. Biasanya, hiu bonnethead memiliki panjang sekitar 0,61–0,91 meter (m), dengan ukuran maksimum sekitar 1,5 m. Biasanya spesies betina hiu kepala sekop cenderung lebih besar dari jantan.

Hiu Bonnethead dikenal dengan nama latin Sphyrna tiburo.  Satwa ini merupakan anggota terkecil dari genus hiu martil Sphyrna, dan bagian dari keluarga Sphyrnidae. Hiu kepala sekop dikenal sebagai satu-satunya spesies hiu yang diketahui sebagai omnivora.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap