Hujan Di Jakarta Pagi Itu


Hujan Di Jakarta Pagi Itu 1

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Air mengguyur di sana sini dan angin turut menyapunya. Pagi seolah tak mengampuni awan-awan untuk berhenti menangis, dan di tepi jalan ini, di tepi teras sebuah toko kelontong tengah-tengah kota yang tertutup, aku meringkuk-membenamkan kepala dalam-dalam. Kedinginan. Tapi lebih dingin tubuh seseorang yang sedari tadi sudah tidak bernapas dan masih saja terbujur kaku di gerobak sampah miliknya.

 Aku tidak mengerti. Aku sedih. Aku masih kecil. Semua hal yang sangat tidak masuk akal tiba-tiba saja terjadi dan berputar-putar di dalam kepalaku. Semakin terpikirkan semakin membuatku pusing. Kadang aku juga ingin mual. Bajuku sudah basah kuyup. Rambutku yang kumal tidak pernah keramas, menjadi basah yang bau. Kakiku yang tak beralas pun mulai dirembeti air yang naik dari jalanan. Banjir! Ya, Jakarta Banjir lagi hari ini. 

Segera bergegas aku dan menarik gerobak ini untuk ikut kubawa pergi. Entah kemana, yang jelas aku harus naik. Mencari tempat lebih tinggi dan memiliki jalanan yang mudah dicapai. Sesampainya di depan sebuah masjid yang kulihat berlantai dua, tak berpikir panjang aku memasukinya. Karena tubuhku yang benar-benar masih sangat kecil dan lemah ditambah tidak makan sejak kemarin malam, aku meneyeret orang ini. Susah payah, hingga seorang bapak-bapak berkopyah hitam dari dalam membantuku mengangkatnya dengan cara yang lebih baik. Ia lalu merentangkannya di lantai atas setelah melewati tangga. Cukup cepat, karena orang itu kurus. Mungkin bapak tadi tidak terlalu keberatan. Tak sama sepertiku. Payah.

Akhirnya gerobak yang bau dan kotor itu tenggelam. Banjir benar-benar mengganas. Di tepi pembatas besi ini, aku mengamati segalanya yang terjadi di bawah sana. Beberapa sajadah yang tak sempat tergulung ikut mengapung. Dan sampah, terlihat mengambang sana sini.

Kepalaku berbalik menatap bapak berkopyah hitam itu yang mulai terlihat kebingungan. Mungkin ia pikir orang itu hanya pingsan, dan mengapa sampai tubuhnya putih sepucat susu. Sesekali tangannya membenarkan kopyahnya yang tak miring. Diangkat-angkat sedikit, sedang pandangannya masih fokus ke orang itu. Sesekali tangannya juga seperti memeriksa tangan orang itu. Mencari detak yang tak ada. Memeriksa napas di hidung yang juga sudah tidak ada. Tinggal menunggu hari untuk tubuhnya akan menghasilkan bau yang lebih bau daripada rambutku, daripada gerobaknya yang sudah tenggelam tadi.

Tempat ini sepi. Setelah kusadari dan mengedarkan mataku, hanya ada aku, bapak berkopyah hitam, dan orang itu saja di atas sini. Sisanya almari yang berisi buku-buku, kitab, mukenah, sarung, dan beberapa lainnya. Seperti menghiraukan keadaan karena tak mengerti, aku lantas memandangi langit-langit masjid yang bercat serba putih. Beberapa tulisan bahasa arab begitu indah diukir, tapi aku tak bisa membacanya, aku tak bisa membaca atau menulis. Aku bahkan tak pernah sekolah, sama sekali. Dari kecil aku sudah memulung sampah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mengumpulkannya ke orang itu dan dikasihnya upah yang tak pernah bertahan setengah hari, karena itu hanya cukup untuk membeli makan. Yang juga kepada orang itu.

Aku masih ingat bagaimana anak-anak sepantaranku dulu lebih suka bermain dan minta disuapi maknya, atau dibonceng naik sepeda dan berkeliling bersama bapaknya. Aku masih ingat, bagaimana kala itu mereka bermain dan melihatku yang berusaha mendekat-dengan maksud ingin melihat saja, tidak ikut bermain. Dan aku masih ingat, bagaimana mereka lalu memberikan responnya yang sebegitu teganya sampai meludah bahkan mengencingiku sambil tertawa-tawa, sampai aku bau pesing dan tidak bisa hilang berhari-hari bekasnya. Astaga, iya. Di baju ini, di baju yang hanya satu sama persis dengan kejadian kala itu dan tak pernah ganti sampai sekarang. Sampai aku berdiri lalu masuk ke rumah suci ini. Aku menodai tempat ini Tuhan.. Lama, hingga suara bapak itu membuyarkan aku yang sudah melamun setengah jauh.

“Dek, sini dek” Panggilnya. Ah mungkin, ia sudah menyadari sesuatu yang membuat hatinya ganjil. Aku lalu mendekat beberapa langkah dan berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat, aku takut jika bapak itu muntah karena mencium bauku yang amit-amit. Cukup tetesan air kotor yang berasal dari bajuku yang basah karena hujan dan najis, cukup.

“Mendekatlah dek” Katanya lagi. Tapi aku hanya menggeleng, berjongkok kemudian. Aku menunduk sembari memandangi kakiku. Oh lihatlah di sana, ada banyak sekali koreng. Dan celana sedengkul yang sudah robek-robek beserta debu tebal warna cokelat. Oh nampaklah betapa kotornya aku, kutengok ke lantai belakang begitu banyak jejak kaki di sana. Termasuk di tangga! Aku benar-benar membuat kesalahan fatal di rumah suci Tuhan. Parah!

“Apa dia bapakmu dek?” Tanya bapak berkopyah hitam itu. Bajunya warna biru muda, bersarung warna hitam dengan motif kotak-kotak. Sejujurnya, wajahnya amat teduh, bersih, dan segar. Seolahh ia sering mandi setiap waktu. Pandangannya pun teduh menenangkan. Kuperhatikan dengan seksama, mungkin ia sepantaran dengan orang yang sedang terbaring itu.

Lalu kepalaku menggeleng. Aku menjatuhkan pandangan mataku ke arahnya, ke arah bapak berkopyah itu. Ia seolah menatapku dengan iba. Kupikir, mungkin ia bingung harus bertanya apa lagi atau apa entah lah. Aku tak bisa menebak pikiran orang dewasa. Aku tidak mengerti. Aku masih kecil.

****

Malam yang gelap tapi bulan dan bintang tidak pelit untuk hadir. Hujan sudah reda tadi sore. Menyisakan genangan air yang beriak tenang di bawah sana. Beberapa rumah padam lampunya, beberapa lagi masih terlihat kelap-kelip. Untungnya masjid ini tidak padam listriknya. Dan aku masih tetap di sini, duduk dan menaruh pantatku di jatah ubin yang sedikit, beberapa kotak saja. Takut jika najisnya ke mana-mana.

Orang itu juga, tidak bergerak sama sekali. Lalat dan nyamuk bergantian hinggap di tubuhnya, juga tubuhku. Bibirnya yang semakin membiru, membuat angin yang lintas terasa semakin dingin. Ya, lantai dua ini terbuka tembus dengan udara luar. Maksudku, di hadapanku hanya ada dinding ukuran setengah tubuh bapak berkopyah hitam yang juga dibatasi besi licin memanjang seperti pipa. Sisa setengahnya ke atas tidak ada, tidak ada apa-apa. Maka dari itu terlihat jelas rumah-rumah warga, bintang, dan juga bulan. Dan oleh sebab itu pula nyamuk juga lalat bebas keluar masuk.

Sehari ini, tidak ada adzan yang berkumandang melalui toa. Mikrofon ada di lantai bawah, sayangnya ikut tenggelam terbawa banjir. Aku dapati itu dari sambat bapak berkopyah yang tak sengaja terdengar meskipun kecil samar-samar. Tapi dia tidak marah. Meskipun kesal, kujumpai raut mukanya yang senantiasa menenangkan.

Lebih tenang daripada orang yang terbaring ini. beberapa kali bapak berkopyah hitam itu juga terlihat gusar. Ia menuju ke tepi pembatas pipa besi sembari menengok kanan kiri, mungkin berharap ada tetangga yang terlihat atau melintas dan lalu meminta bantuan. Bukan kepadaku, tapi kepada orang ini. Ya ya, bukankah orang mati harus segera diurus dan dikuburkan? Tapi di bawah sedang banjir, jika menggali tanah sekarang yang ada malah mungkin jasadnya akan mengambang.

Beberapa kali aku bertepuk tangan, berusaha membunuh nyamuk dan mengusirnya dari tubuhku. Sial, sayangnya ketika malam makin larut mereka makin menggila saja. Bapak berkopyah itu lantas menatapku. Mungkin ia merasa iba dan kasihan. Atau mau menanyakan sesuatu, atau entah apa sajalah itu. Aku tidak bisa menebak pikiran orang dewasa.

Tapi, sejauh ini bapak itu banyak diamnya. Dalam hati, aku berharap ditanyai lebih dari pertanyaan tadi pagi. Nama, asal, atau apalah pertanyaan yang menurutku biasa ditanyakan orang ketika pertama kali bertemu atau melihatku-karena rasa iba dan kasihan. Tapi bapak berkopyah hitam ini tidak. Ia tidak melakukannya. Ah aku sedikit kecewa.

Sembari menahan lapar, kantuk, dan posisi dudukku agar najis tidak terserak ke mana-mana, aku mencubiti kakiku kanan kiri. Berusaha tetap terjaga, biar tidak kebablasan tidur karena aku merasa aku tidak perlu tidur dulu malam ini. Alasannya, pertama aku lapar. Kedua, aku takut. Bukan kepada orang yang terbujur itu yang kian lama seputih kapur, namun kepada bapak yang berkopyah hitam ini.  Dia juga duduk di pojokan.

Sesekali mengangkat kopyahnya seolah membenarkan kopyahnya yang tak miring. Atau menggaruk-garuk tengkuknya dengan kasar. Atau memandangiku dengan tatapan yang sangat lama dan kaku. Aku tidak tahu. Meskipun begitu, wajahnya tetap terlihat teduh juga menenangkan. Ketiga, aku gatal-gatal karena digigiti nyamuk dan lalat yang selalu saja hinggap.

Jika boleh lebih diceritakan lagi. bapak berkopyah hitam yang kini sedang mengalihkan kedua matanya ke langit itu, menurutku tadi adalah seorang penolong. Seorang penyelamat sementara sekiranya. Pertanyaan darinya di awal, membuatku sedikit memiliki titik terang dari segala kegelisahan yang ada.  Kau tah, beberapa hari yang lalu ketika orang yang terbujur ini masih hidup ia menyuruhku untuk memulung dan mengumpulkan smapah lebih giat lagi, lebih banyak daripada biasanya.

Sebab nanti dia akan membelikan uang dari gajiku dengan sarapan yang lebih enak besoknya. Ikan ayam! Aku lalu bersemangat dan sungguh bekerja keras. Tapi esoknya. Kujumpai beberapa orang bertubuh seperti preman menghajar habis-habisan orang itu. Orang yang sedari aku sangat kecil hingga sekarang yang mungkin dapat dikatakan mengasuhku meski dengan sistem kerja-gaji, yang tak pernah aku ketahui namanya atau berusaha memanggilnya dengan julukan apa pula. Bukan Bapak, bukan Pakde, Paklek, atau apalah.

Aku tidak mengerti. Hingga beberapa menit kemudian, setelah tusukan pisau mendarat di dada kirinya, ia tubang. Orang itu tergeletak di atas tanah, tanpa meraung sakit lagi, tanpa suara seperti biasanya lagi, tanpa permintaan ini itu, sampah ini itu, makan ini itu. Tidak ada itu lagi. Saat kejadian itu, aku berada tak jauh darinya. Mungkin karena tubuhku yang kecil dan pakaian yang hampir sewarna dengan sampah di sekeliling kami, preman-preman itu tidak melihatku. Aku juga berniat sedikit bersembunyi di balik gerobak di depanku. Setelah memastikan semuanya aman, aku hampiri dia. Kulihat, matanya masih terbelalak lebar. Menatap ke atas seperti menantang sesuatu yang entah apa. Dan kerut-kerut wajahnya malah memancarkan perasaan takut luar biasa.

Keringatnya saat itu masih mengalir, tapi dingin. Hingga hari pada pagi yang cerah itu berubah mendung. Yang kian lama awan tampaknya semakin berat, akhirnya kuputuskan untuk menutup kedua mata orang itu dengan tangan-tangan mungilku secara perlahan. Tubuhnya yang kurus juga membuatku secara sengaja menyeretnya ke atas gerobak. Kubawalah ia bersamaku pergi, entah ke mana. Arahku tak menentu. Tak ada tujuan pulang, sebab aku dan dia tak pernah punya rumah. Biasanya kami hanya berjalan dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah yang lainnya. Menyetorkan ke kepala pemulung setempat dan menerima upah. Itu saja.

Hingga kejadian banjir itu datang, lantas di sinilah kami sekarang. Bau anyir lambat laun mulai menyeruak ke seisi ruangan lantai dua masjid. Darah basah kupikir sudah mengering dari dadanya, ternyata belum. Tiba-tiba aku meringis dan memekik ketakutan. Aku takut warna merah, aku takut darah, meskipun kadang koreng di kakiku juga berdarah, tapi tidak sebanyak ini.

Bapak berkopyah hitam yang sedari tadi diam mematung lantas bangun dan berdiri mendekatiku. Ia lalu berjongkok di depanku. Pandangannya tetap teduh dan dingin, tapi aku malah merasa amat takut. Sangat takut. Bapak di depanku hanya menatapku lama, tidak berkata apa-apa, tidak bertanya apa-apa. Kian lama aku merasa ada yang aneh dari semua ini. Ada yang tidak wajar. Aku, orang yang terbujur itu, dan bapak berkopyah hitam di depanku.

Ingin aku menangis sekeras mungkin rasanya. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku masih kecil. Dan semua ini benar-benar mengacaukan isi kepalaku. Oran itu kenapa dan orang ini juga kenapa. Aku lalu menundukkan kepalaku dalam-dalam, menekuk kakiku dan memeluknya di depanku. Tak peduli akan gigitan nyamuk atau lalat, bau amis, atau tingkah aneh bapak berkopyah hitam di depanku. Aku tak peduli! Ini semua benar-benar sangat ganjil. 

Sampai-sampai hari berganti pagi lagi, rupanya aku sudah tertidur tadi malam. Kelopak mataku masih sangat berat untuk terbuka, berair. Tapi samar-samar cahaya putih merembet masuk. Aku lantas melihat keadaan sekitar yang sudah sepi orang-orang. Termasuk orang yang terbujur kaku dan bapak berkopyah hitam. Tidak ada orang sama sekali! Lantas kemana mereka? Apakah ada polisi yang datang saat aku tertidur dan membawa mereka berdua untuk diperiksa? Atau warga setempat sudah menguburkan mayat orang itu? Aku tidak tahu, aku tidak mengerti.

Aku lanjut bangun dan melihat ke bawah, banjir masih menggenang. Dan masjid ini masih sepi. Tidak ada adzan yang terdengar di toanya. Ataupun suara orang-orang. Tidak ada tetangga yang datang. Kalau begin terus aku bisa saja mati. Perutku benar-benar sangat perih sekarang, dan mereka tidak ada yang peduli. Lantas, sampai kapan aku akan tetap di sini? Oh ayolah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku masih kecil.

***

(Di sudut ruangan masjid lantai dua. Seorang berseragam dan seorang bapak berkopyah hitam tengah berdiri )

“Saya sudah mengajaknya bicara baik-baik Pak. Tapi anak itu sulit sekali. Awalnya saya kira dia tuli. Tapi ketika saya tanya, dia bisa menggelengkan kepalanya.”

“Mungkin anak itu sedikit mengalami masalah. Kau paham kan maksudku?”

“Ya ya, saya mengerti. Saya paham.”

“Kasihan, masih kecil dia sudah menjadi anak yatim. Dan mengalami nasib diri yang kurang beruntung. Entah bagaimana ia nanti, musibah kian lama kian sering menghampiri negara kita. Sementara kita mengobrol dari sini saja dulu Pak. Kita saksikan seksama bagaimana respon selanjutnya dari anak itu. Kalau sampai dia bertindak aneh dan tidak menanyakan atau mengetahui bahwa dia sedang membawa jasad bapaknya sendiri yang sudah mati dari kemarin bahkan tidak mencarinya lagi, kau paham kan maksud pembicaraan kita ini Pak?”

“Ya ya, tentu saya paham. Pembicaraan di antara orang-orang dewasa, dan kita yang paling mengerti soal ini.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap