Humanisme: Spirit Penggerak Media

Humanisme: Spirit Penggerak Media 1

Media sebenarnya berciri humanis. Realitas yang muncul justru sebaliknya. media sebagai pemberi informasi dan berita hanya mementingkan rating. Absurd. Media memberikan banyak berita yang menimbulkan kedangkalan berpikir, mengaburkan kejernihan realitas. Media sekarang telah banyak membeberkan banyak berita. Dari berita yang jelas sampai yang tak jelas. Media-media kehilangan arah. Kehilangan visi. Lalu apa spirit yang menggerakan media pembawa berita? Berita sebaiknya berciri humanis. Hal ini berarti yang perlu diutamakan adalah sisi kemanusiaan. Berita bersifat tumpul apabila tidak menyentuh sisi humanis. Tidak ada sesuatu yang dibawa pembaca atau pendengar dari berita yang dibeberkan. “Saya membaca atau mendengar berita berarti saya mendapat sesuatu untuk perkembangan hidup saya.”

Kemanusiaan ini berhubungan erat dengan kemoderasian sebuah berita. Moderasi tidak sama dengan moderat. Bukan pula obyektif. Moderasi mengandung roh subtansial yang tegas namun lembut dalam cara. Kuat secara halus dan halus secara kuat. Sisi substansial manusia yang perlu dipegang, diberdirikan dengan tegak. Cara yang lembut berarti sisi kemanusiaan dibela dengan cara yang manusiawi. Media berada di “tengah”. Jalan tengah adalah jalan yang terbaik. Tidak berat sebelah. Jalan tengah bukan berarti “banci” tetapi netral.

Moderasi menganut banyak nilai dan keutamaan. Nilai dari moderasi adalah kesabaran. Kesabaran bukan terburu-buru dan bukan bergerak lambat. Jiwa media adalah kesabaran. Kesabaran mengandaikan kemampuan mengendalikan diri. Hasil dari kesabaran dari sebuah media adalah berita yang tak bisa diganggu gugat keakuratannya. Media mestinya mengedepankan nilai kesabaran ini. Sabar mendengar, sabar melihat dan sabar memutuskan. Mendengarkan realitas bukan mendengar. Melihat dengan kedua mata dan bukan dengan mata tertutup. Memutuskan dengan matang bukan seperti mangga kecil yang langsung dipetik. Semakin tinggi kesabaran sebuah media semakin kokoh ia berkibar.

Moderasi adalah kejujuran. Apa adanya. Tidak kurang dan tidak lebih. Media bukanlah seekor kancil yang mencari keuntungan sendiri, licik dan sebagainya. Jujur berarti berkomentar sesuai yang dilihat, didengar. Kejujuran adalah ibu dari segala bentuk kebaikan. Kejujuran sebuah media adalah halaman pertama dari berita kebajikan. Kejujuran  adalah kunci awal dari perilaku kedewasaan dan pintu masuk kebijaksanaan.

Moderasi juga adalah keterbukaan. Keterbukaan media berarti prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi. Terbuka untuk memberi dan terbuka untuk menerima. Ini hakekat media. Keterbukaan berguna agar entitas dipandang secara keseluruhan. Bukan parsial. Media  sebagai wadah pers dan alat komunikasi massa dinilai punya peran penting dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik.

Keterbukaan mengandaikan ketulusan. Maka dari itu, Moderasi adalah ketulusan. Waktu yang akan menjelaskan ketulusan media dalam menyampaikan berita. Jika niat dan tujuannya baik seiring berjalannya waktu, semua kelihatan mana media yang bertopeng dan mana media yang menampilkan nilai ketulusan. Ketulusan media tergantung dari kadar kemanusiaan dari subyek-subyek yang bekerja.

Moderasi sebaiknya menjadi habitus. Tidak labil. Segala keutamaan yang bergerak di balik media menjadi sebuah kebiasaan yang terus-menerus didengungkan. Kebiasaan bersifat otomatis dan berulang-ulang. Artinya setiap berita yang dipublikasikan selalu menebar nilai dan keutamaan yang sudah disebut di atas. Kebiasaan menentukan label “baik” dan “buruk”.

Segala keutamaan yang disuarakan media sudah sangat sinkron dengan keutamaan yang dihayati dalam sebuah agama. Media dan agama mesti bekerja sama menebarkan keutamaan yang berciri humanis. Agama-agama dalam sebuah negara, bahu-membahu membantu media untuk menciptakan tatanan masyrakat yang damai. Kunci kedamaian sebuah negara adalah hubungan yang mendalam antara media dan agama untuk saling bekerja sama. Pada akhirnya, agama adalah media kesejahteraan negara. Media tidak boleh melenceng jauh dari fakta-fakta universal agama. Media juga bukan sebuah agama.

Spirit kemanusiaan yang diusahakan media berada di ambang batas. Realitas ini tidak sulit dilihat. Spirit yang diusung media kehilangan roh. Media yang dipengaruhi modernisme telah menampilkan semangat liberal yang tidak bisa dikendalikan. Humanism berada di ambang harapan berhadapan dengan keserakahan segala entitas yang selalu mengejar kenikmatan subyektif. Di tengah penderitaan massal akibat virus corona bukannya memunculkan rasa simpati dan empati. Orang mencari kesempatan dibalik tangisan dan ratapan minta tolong manusia yang menderita. Korupsi merajalela. Para politisi salah memanfaatkan jabatan. Pemerasan dalam kedudukan. Para pemimpin pandai berorasi, mengumbar janji dan mengabaikan tindakan nyata untuk kepentingan rakyat. Hukum berjalan maju-mundur, simpang-siur, tak karuan dibuatnya. Orang baik dijadikan sebagai korban kebusukan. Rakyat sebagai budak dan obyek pembodohan.

Humanisme ini ditantang kekerasan yang merajalela.  Solusi terbaik adalah kekerasan. Ini ideologi umum yang mau merangkum beberapa peristiwa yang terjadi di negeri ini. Tidak ada cara lain, harus dengan kekerasan. Banyak monopoli dan legitimasi untuk mensahkan kekerasan sebagai jalan keluar yang terbaik. Yang terpenting beraksi dan mengambil tindakan, tidak peduli seberapa masuk akalnya aksi dan tindakan itu. humanism juga berperang melawan radikalisme yang bertebaran di mana-mana. Fundamentalisme sebagai momok yang menakutkan dan mampu menelan roh humanisme.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour