Implementasi Kalimat “Man Jadda Wajada”

Implementasi Kalimat

Ibnu Hajar namanya. Kisahnya bermula dari sebuah pondok pesantren kecil di mana beliau menimba ilmu di sana. Menurut cerita yang berkembang, beliau menuntut ilmu puluhan tahun namun tidak ada perkembangan yang berarti, beliau masih ‘bebal’ dan satu materi pelajaran-pun susah beliau pahami.

Suatu ketika beliau memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Beliau merasa puluhan tahun mondok dan menimba ilmu di sana seperti tidak ada gunanya. Namun, dalam perjalanan pulang, beliau mendapati satu batu hitam besar yang berlubang karena tetesan air yang jatuh terus-menerus mengenai batu itu. Beliau bergumam dalam hatinya, membatin, “Apalagi aku, batu hitam besar-pun kalau terkena tetesan air yang terus-menerus pada akhirnya berlubang juga!”. Seolah ada ilham yang masuk dalam batin beliau. Ibnu hajar tertegun lama dan berfikir panjang.

Beliau mengambil satu gambaran dari kejadian itu, bahwa sebebal apapun otak manusia kalau dirinya mau berusaha sekuat tenaga dalam mencari ilmu, pada akhirnya ia akan berhasil, akan menguasai ilmu yang dipelajarinya. Ibnu Hajar mengurung niatnya untuk pulang ke kampung halaman dan kembali mendatangi pondok di mana ia menimba ilmu sebelumnya. Beliau menetapinya puluhan tahun di sana dengan belajar terus-menerus tanpa kenal lelah siang dan malam. Akhirnya, beliau mampu menguasai berbagai macam disiplin ilmu dan menjadi ahli ilmu yang terkenal hingga kini. Karya-karya hasil buah pikirannya berjilid-jilid dan terus-menerus ditelaah hingga generasi sekarang ini.

Man jadda wajada, kalam mutiara ba’dhu al salaf (sebagian ulama terdahulu) ini memiliki makna, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Tidak ada manusia yang tak mampu, sebelum dirinya mencobanya. Seberat apapun keinginan yang dihadapinya, manusia akan mampu menggapainya. Kuncinya adalah harus tekun dan bersungguh-sungguh dalam berusaha. Berusaha untuk meraih apapun yang diinginkannya itu.

Thomas Alva Edison (penemu bola lampu). Ia tanpa kenal lelah melakukan percobaan, sampai ia menempuh 999 kali kesalahan. Namun, di percobaan yang ke 1000 kalinya, akhirnya Thomas Alva Edison mampu membuat bola lampu dan dikenal sebagai tokoh penemu yang dengan jerih payahnya itu dapat kita nikmati hingga sekarang ini.

Tak hanya Thomas Alva Edison, sang penakluk Kota Konstantinopel (Negara Turki), Mohammad Murad atau dikenal dengan nama Mohammad Al-Fatih. Kisah heroiknya (kepahlawanannya) dikenal hingga kini. Berbagai cara sampai Al-Fatih membuat meriam yang memiliki kekuatan ledak yang super dahsyat, dan dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh itu, Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota dengan dipagari benteng yang tak mudah dirobohkan. Tentu, semuanya karena the power of “man jadda wajada”.

Thomas Alva Edison dan Mohammad Al-Fatih tentu juga Ibnu Hajar adalah sekian contoh sosok manusia tangguh dalam berusaha. Kesungguhannya untuk menggapai keinginan, patut untuk kita tiru. Apalagi bagi kita yang saat ini sedang di bangku sekolah, sedang dalam masa-masa mencari ilmu, dan dalam proses untuk menggapai cita-cita. Sebab, elmo (ilmu) dalam istilah Madura, “Ngel-nongngel ta’ etemmo” (bersembunyi dan sulit untuk ditemui). Maka, berusaha dengan sungguh-sungguh adalah cara satu-satunya, satu-satunya cara untuk menemukannya.

Pepatah Arab mengatakan, “Al-ilmu bi al taallum wa al hilmu bi al tahallum”. Artinya, ilmu hanya bisa diraih dengan belajar yang sungguh-sungguh, dan sabar dapat dilakukan dengan cara memaksakan diri untuk selalu sabar. Jelas, kesungguhan adalah kunci segalanya. Apa yang tidak bisa kita gapai, bisa kita lakukan dengan cara berusaha sekuat tenaga, semampu yang kita bisa.

“Man jadda” (barang siapa yang sungguh-sungguh), maka “wajada” (ia akan berhasil). Kalimat ini dapat kita gunakan dalam hal apapun, dapat kita pegang dalam segala keadaan. Ia adalah senjata terdahsyat yang mampu mennaklukkan segala aral. Tak ada cara lain untuk mengagapai kesuksesan, kecuali dengan berusaha yang sungguh-sungguh. Sebab, proses tak pernah mendustakan hasil. Begitu kata bijak yang pernah penulis dengar.

Untuk itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh, belajarlah dengan tekun, belajar dengan sekuat tenaga, dengan kesungguhan hati. Allah yang akan mencatat usaha yang sungguh-sungguh itu sebagai amal shalih. Jika dengan usaha yang sungguh-sungguh itu belum jua membuahkan hasil, maka usaha itu merupakan hasil yang tertunda. Perlu untuk diingat, di balik kesungguhan usaha itu, ada pelajaran penting yang dapat kita petik di kemudian hari. Dan, Allah mencatatnya sebagai ladang amal (pahala) untuk kita.

Abdullah Al-Haddad berkata, “Ahsin al amal tsumma i’tamid bi fadhlillah” (perbaikilah usahamu, kemudian pasrahkan kepada Allah). Setelah usaha benar-benar kita jalankan, maka serahkan semuanya kepada-Nya, pasrahkan hasilnya kepada Allah SWT semata. Karena Dialah Zat yang mengabulkan semua rencana.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin