Indonesia Bisa Kok Berbudaya


Indonesia Bisa Kok Berbudaya 1

“Apa itu budaya?”

Hampir semua orang mengetahui budaya yang dimaksud, baik itu dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah sampai berlimpah tentu mengetahui budaya, entah itu budaya baik ataupun budaya buruk.

Terdengar lucu ketika anggota DPRD DKI JAKARTA ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.“MSN” inisial yang selalu disebutkan oleh KPK.

“Siapakah MSN?”

“Apakah trio penyerang Barcelona FC?”

Tentu tidak, sejak kapan penyerang sepak bola menjadi anggota DPRD DKI JAKARTA. Lalu siapakah beliau? Hmm disini tak perlu disebutkan karena saudara mungkin telah mengetahuinya dari berbagai media berita.

Seorang dengan penghasilan fantastis saja masih tergiur akan uang bukan miliknya. Tak kurang dari Rp. 40jt setiap bulannya disertai tunjangan dan fasilitas ia terima. Namun, ternyata pemasukan itu tak membuat MSN merasa cukup. KPK menemukan penggelapan dana sejumlah 1 milyarlebih. Dana tersebut adalah dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat.

Apakah ini budaya Indonesia? Korupsi, mencuri, menyuap, tidak peduli dengan seksama?

Di sisi lain. Terlihat pemandangan berbeda. Ketika netraku menangkap sebuah pemandangan kontras.Seorang pria berpakaian lusuh, bajunya sobek di beberapa bagian. Ia tengah duduk dipinggiran ruko sembari membereskan hasil beliau memunguti sampah. Wajah penuh peluh itu tetap tersenyum tanpa terlihat lelah walaupun ia tahu, hasil yang didapatkan tidak terlalu memuaskan. Berapa sih harga sampah?

Langkah kaki membawaku mendekati sosoknya. Sebuah dorongan dari dalam hati, yaitu beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban, jawaban langsung dari ucap sang lelaki.

Sebuah sapaan kulayangkan, sapaan berbalas sebuah senyum tulus. Obrolan ringan pun terjalin di antara kami.

Dari obrolan itu aku menemukan banyak hal. Ia adalah seorang ayah dengan dua orang anak yang masih sekolah. Apapun dilakukan sang Bapak yang kemudian aku kenal bernama Darno adalah demi memastikan bahwa anak dan istrinya mendapatkan sepiring nasi esok hari. Pak Darno berangkat bekerja setiap selesai sholat subuh serta sampai dirumah selepas isya. Panas, hujan, debu, deru kendaraan ibu kota sudah menjadi teman sejatinya. Namun, hal itu tak membuatnya kehilangan semangat. Ia terus bersyukur karena masih ada pemasukan untuk melanjutkan hidupnya dan keluarganya. Pak Darno berprinsip untuk tidak akan pernah menyusahkan orang lain. Ia tak harus meminta-minta. Dan yang lebih membuat aku tersentak sekaligus tersentuh adalah Pak Darno selalu menyisihkan sebagian rizkinya untuk disumbangkan kepada anak-anak jalanan. Memang jumlahnya tak seberapa. Hanya cukup untuk membeli nasi di warung dengan lauk seadanya. Tapi lihatlah, ini bukan masalah seberapa besar jumlah yang mampu disumbangkan. Ini tetap adalah sebuah kebaikan tulus tanpa mengenal kata pamrih.

Sungguh jauh di dalam lubuk hatiku, rasa kagum itu mulai tumbuh. Ternyata masih ada orang yang begitu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Yang tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Bahkan ia berprinsip bahwa harta yang halal itu lebih penting daripada rizki yang berlimpah. Seorang yang berada dalam kekurangan namun mampu memberikan kontribusi yang luar biasa untuk orang lain. Tindakan Pak Darno seolah menampar hatiku. Betapa tidak, aku dengan segala kecukupan saja masih terus mengeluh, masih kurang bersyukur. Bahkan aku tidak menghasilkan sesuatu yang berharga untuk orang lain. Jangankan mengurangi beban orang lain, aku masih saja bergantung pada orang tua untuk beberapa hal.

Budaya dan Indonesia suatu kata yang berbeda namun saling berkaitan dan bermacam pula aplikasi warga negaranya. Indonesia dikenal dengan Negara yang memiliki ragam budaya dengan orang-orang yang begitu ramah. Namun lambat laun waktu mengikis itu semua. Budaya kearifan local mulai luntur seiring dengan kemajuan zaman. Ragam tuntutan kehidupan dangan gaya hidup mampu mengubah pribadi seseorang. Kemajuan informasi dan tekhnologi memiliki banyak dampak tak hanya dampak negative, yaitu perilaku korupsi yang merajalela , tapi juga dampak positif tak terlalu terkalahkan dari negative yang terjadi. Dampak positif yang bisa dirasakan adalah saat ada seseorang membutuhkan bantuan kita bisa menyebarkan hal tersebut di media berita sehingga masyarakat bisa saling membantu satu sama lain. Bukankah itu adalah budaya yang begitu indah? Setiap diri merasa saling memiliki, saling merasakan apa yang orang lain rasakan. Sehingga tidak akan timbul keinginan untuk merebut apa yang menjadi milik orang lain. Menciptakan empati kepada seskama. Dengan demikin secara tidak langsung hal tersebut akan membuat budaya korupsi semakin berkurang. Karena kuatnya rasa persaudaraan di antara semua orang.

Sebagai warga Negara yang baik, tidak seharusnya kita selalu menuntut kepada pemerintah Negara Indonesia. Tapi, bagaimana kalau semuanya dikembalikan kepada kita secara pribadi, apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia tercinta sebagai kontribusi seorang warga Negara tak luput pula membantu pemerintah dan para konstitusi didalamnya, membangun Negara baik serta merevolusi mental agar menciptakan budaya baik di dalam Negara tercinta ini.

Sekarang semua keputusan berada di tangan pribadi masing-masing. Apakah kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia terkontaminasi oleh budaya korupsi, budaya menyuap, danbudaya-budaya buruk lainnya. Atau kita memilih menjadi pribadi dengan budaya yang menawan, penuh empati dan rasa saling menghargai. Lalu bagaimana budaya dan berbudaya saudara untuk indonesia?


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sofyan Sauri

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap