Ini Ibuku, dan Aku Tidak Malu

Ini Ibuku, dan Aku Tidak Malu 1

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu selalu menolak jika aku mengajaknya untuk mengambil rapor di sekolah. Padahal teman-temanku yang lain mengambilnya bersama orang tua mereka. Dari raut wajahnya, ada yang terlihat marah karena hasilnya tidak memuaskan, ada pula yang terlihat bangga karena anaknya merupakan juara paralel di sekolah. Jika Ibu? Maka dia akan selalu tersenyum, mengucap rasa syukur, kemudian menepuk bahuku dua kali, seraya berkata, “Kamu hebat! Ibu bangga. Jangan pernah merasa puas dan jangan pernah berpikir untuk selalu menjadi yang teratas. Kamu cukup nikmati prosesnya.”

Tinggal beberapa jam lagi, tersisa hari ini. Besok adalah hari pengambilan rapor milik murid kelas XII di semester pertama mereka belajar. Seperti biasa, para guru menginstruksikan agar rapor tersebut diambil oleh orang tua atau wali mereka. Sekarang di kamar Ibu, aku sedang berusaha membujuk, agar Ibu mau datang bersamaku ke sekolah besok.

“Naya mohon, Bu…” ujarku seraya menangkupkan kedua telapak tangan.

Ibu hanya tersenyum, “Diambilkan sama Bibimu saja, ya?” tangannya tidak berhenti melipat pakaian.

Aku menggelengkan kepala, “Semenjak Naya SMA, Ibu belum pernah tuh mengambil rapor Naya. Ibu selalu menyuruh Bibi atau orang lain. Sebenarnya ada apa, Bu?” kembali, Ibu hanya tersenyum.

“Padahal Naya itu pengen banget mengenalkan Ibu sama teman-teman di sekolah. Mereka ‘kan belum tau Ibu.”

Ibu terkekeh ringan seraya menggelengkan kepalanya, “Sudah sana tidur. Besok Ibu bangunkan kamu.”

Aku hanya memasang raut merajuk. Sungguh aku ingin Ibu yang mengambilkan raporku. Ya … walaupun nilainya nanti tidak akan tinggi sekali, aku harap Ibu tetap menerimanya. Seperti sebelum-sebelumnya. Aku memang bukanlah anak emas di sekolah. Aku juga bukan anak yang rajin menawarkan bantuan kepada guru-guru. Aku tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun. Aku hanya murid biasa, sungguh. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Berteman dengan siapapun, mengobrol dan saling mengejek dengan siapapun.

Sekarang kebingungan begitu melandaku. Apa yang sebenarnya Ibu pikirkan? Jika aku mengajak Ibu untuk pergi bersama, ia selalu menolak. Aku rasa ada yang salah dengan semua sikapnya. Terlebih setelah kepergian Bapak. Ibu selalu saja bekerja, bekerja dan bekerja. Membelikan aku sepatu yang harganya sama seperti harga sebuah alat elektronik, membelikan segala kebutuhanku. Sampai terkadang kebutuhannya pun tidak terpenuhi. Padahal Ibu hanya seorang penjual pecel. Berkeliling ke setiap sudut perumahan agar dagangannya habis. Setiap kali aku membantu, Ibu selalu menolak. Ia selalu ingin berusaha keras sendiri. Aku bangga pada Ibu, tapi aku belum bisa membuat Ibu bangga padaku.

Tengah malamnya aku terbangun karena merasa haus. Aku tidak sengaja mendengar isakan tangis. Aku yakin arahnya dari kamar Ibu. Semakin aku mendekat, semakin aku merasa yakin bahwa itu adalah suara Ibu. Tidak ada pikiran sedikit pun bahwa itu adalah suara makhluk tak kasat mata. Aku melihat dari celah pintu kamar Ibu yang sedikit terbuka. Ibu sedang terduduk di atas sajadah, mengenakan mukena putih, kedua tangannya terbuka dengan wajah menengadah memohon doa. Isakan tangis Ibu mulai berkurang, ada namaku yang ia sebut dalam doa. Ada ucapan maaf yang ia lontarkan untukku. Ternyata itu alasannya Ibu tidak pernah mau terlihat jalan bersamaku. Ibu takut jika orang-orang mencemooh aku. Ibu takut orang-orang mengejekku. Ibu takut orang-orang menjauhi aku. Itu karena … karena Ibuku yang hanya seorang penjual pecel, sedangkan anaknya bersekolah di tempat ternama. Karena Ibuku yang selalu berpakaian lusuh. Karena Ibuku yang tidak pernah melakukan perawatan. Karena Ibuku yang tidak pandai bergaul. Ya Tuhan … ternyata banyak sekali ketakutan yang Ibu alami. Terlebih semua itu untuk menghindari tindakan buruk seseorang kepadaku. Dadaku terasa sesak, perasaan tidak tega menyeruak, bibirku bergetar, mataku memanas tak kuat menahan air mata, Ibu tersiksa karena aku … Ibu … aku segera masuk ke kamar Ibu, memeluknya. Mencium pipinya. Aku terus mengusap wajahnya. Ibu sangat baik. Ibuku sangat baik.

“Harusnya Ibu jangan begitu, Naya nggak malu punya Ibu. Naya malah bersyukur. Ibu jangan berpikir gitu lagi, apapun yang mengganggu pikiran Ibu, ceritakan pada Naya. Apapun yang bikin Ibu kesulitan, Ibu harus kasih tau Naya,” ujarku masih dengan posisi yang sama, memeluk Ibu seraya terduduk di atas sajadah. Ibu memelukku balik. Ia tak henti-hentinya menyalurkan rasa semangat padaku.

Malam ini mungkin menjadi malam yang pilu karena disertai pengakuan dan isakan. Namun malam ini menjadikannya malam yang penuh kelegaan. Setidaknya aku merasa lega, tidak ada lagi perasaan yang mengganjal dalam hati Ibu.

Pagi ini, aku dan Ibu tertawa karena melihat kantung mata kami yang sama-sama membengkak. Mungkin karena tangisan semalam. Aku senang, akhirnya Ibu mau pergi bersamaku ke sekolah.

“Ini Ibumu, Nay?”

“Dengan Ibunya Naya, ya?”

“Loh, Bu Caca, hari ini jualan pecelnya libur, ya?”

“Nay, beda banget sama kamu?”

“Ibu kamu jualan pecel, Nay?”

Aku tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan tersebut. Hanya menjawab sekenanya, “Ini Ibuku. Ibu yang sangat peduli besar padaku. Aku nggak malu punya Ibu kaya beliau, yang cuma berjualan pecel keliling perumahan. Aku beda ya sama Ibu? Jelas, Ibu mana mau perawatan, dia sukanya ngerawat aku, pinter pilih barang buat aku, pinter masakin buat aku dan Ibu nggak punya sosial media, semuanya buat ngurusin aku.”

Ibu menatap ke arahku. Apa ada yang salah?

“Wah, Bu Caca adalah sosok Ibu yang hebat!” seru salah satu orang tua murid bertepuk tangan diikuti tepukan lainnya.

Aku terkejut saat merasa bahwa Ibu mencengkram kuat lengaku, dengan begitu aku menatap ke arahnya, “Terima kasih, Nak…”

Ibu salah, harusnya aku yang mengucapkan terima kasih padanya. Ibu rela menukar tenaga demi aku. Ibu rela menahan gengsi untuk aku. Ibu berhasil menembus rucita hidup. Jika ada kata yang lebih tinggi dari sebuah pujian dan terima kasih, aku akan ucapkan kata itu untuk Ibu.

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sherina

   

Hallo! I'm Sherina. You can call me Ina. Terima kasih karena sudah membaca dan memberikan tanggapan untuk tulisan saya. Have fun!