Ini Peciku, Mana Pecimu?


Ini Peciku, Mana Pecimu? 1

Soekarno (1901-1970), presiden pertama Indonesia, hampir selalu mengenakan peci. Dalam setiap acara kenegaraan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, peci tidak terlepas dari kepala beliau.

Saat berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tajuk To Build a World Anew pada tahun 1955, Bung Karno memakai peci. Bersua dengan pemimpin negara lain, peci senantiasa dipakai beliau.

Ini Peciku, Mana Pecimu? 3

Jika kita belum pernah melihat Bung Karno secara langsung, coba kita lihat beberapa gambar beliau. Dalam foto-foto keluarga pun, kita akan melihat Bung Karno dengan peci. Antara peci dan Bung Karno tersimpan sejarah panjang. Pemakaian peci itu tak hanya saat beliau menjadi presiden, tetapi telah berlangsung sejak masa pergerakan nasional.

Saat masih berada di Surabaya sebelum kuliah di Technische Hoge School (THS) Bandung, Bung Karno menjadikan peci sebagai pilihan. Dalam sebuah rapat Jong Java, Bung Karno dengan percaya diri mengenalkan peci sebagai simbol kepribadian Indonesia. Peci menurut beliau menyimpan nilai ideologis.

Pertama, untuk membedakan kaum pribumi dengan kaum penjajah. Para penjajah umumnya tidak mengenakan apa-apa di kepalanya. Identitas kaum pribumi ditegaskan Bung Karno dengan pemakaian peci untuk membedakan dengan kaum penjajah. Peci dengan sendirinya merupakan simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda ketika itu.

Ini Peciku, Mana Pecimu? 4

Kedua, sebagai kedekatan pemimpin dengan rakyat. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Tapi istilahnya berasal dari penjajah kita. Dalam bahasa Belanda ‘pet’ berarti kupiah, ‘je’ akhiran untuk menunjukkan ‘kecil’, dan kata itu sebenarnya ‘petje’,” ujar Bung Karno. Karena pemimpin berasal dari rakyat, maka peci yang menurut Bung Karno adalah milik asli rakyat menjadi pilihan yang tepat. Peci perlu dikenakan aktivis pergerakan kemerdekaan sebagai (calon) pemimpin rakyat.

Ketiga, sebagai lambang Indonesia merdeka. Bung Karno dalam rapat Jong Java berkata, “Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Begitulah yang dituturkan Bung Karno dalam autobiografinya yang ditulis Cindy Adams. Penggunaan peci akhirnya berpengaruh kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. Di mana-mana, peci selalu dikenakan. Bung Karno dengan peci juga ingin mengingatkan terus-menerus misi suci mengenyahkan penjajah dari bumi Indonesia. Rakyat pun dibangun spirit dan harapannya bahwa kemerdekaan Indonesia adalah keharusan sejarah. Peci sebagai simbol dinilai penting dalam perjalanan menuju Indonesia merdeka.

Meskipun hanya penutup kepala, peci bagi Bung Karno memiliki makna tersendiri. Peci memberikan kegagahan bagi Bung Karno. Sampai Indonesia merdeka, peci senantiasa dikenakan beliau. Peci telah menjadi identitas kebangsaan. Ketika kepalanya semakin botak, Bung Karno malah pernah berseloroh bahwa peci sebagai alat untuk menutup kepalanya.

Itu peci menurut Bung Karno. Nah, mana pecimu?


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments