Ini tentang LDR yang tak kunjung selesai ?


Ini tentang LDR yang tak kunjung selesai ? 1

LDR sepertinya menjadi momok tersendiri untuk tiap pasangan yang memutuskan untuk berpisah dikarena jarak. Memang hubungan jarak jauh sangat dihindari oleh kebanyakan orang sebab tidak sedikit masalah yang akan timbul dikarnakan LDR ini.

LDR bisa diasumsikan seperti ketiak bayi yang menjadi tempat paling rentan akan datangnya masalah, seperti Kemerahan dan bintik-bintik kecil dipermukaan kulit. Begitu pula LDR, LDR menjadi sarang tersendiri akan datangnya masalah. Masalah utamanya adalah masalah Komunikasi.

LDR secara tidak lansung menyulitkan kedua pihak untuk berkomunikasi dengan baik, dan karena komunikasi yang tidak terjalin dengan baik itu munculah rasa kecuriga, hilangnya percaya, overthinking, dan lain-lain.

Dari banyaknya tetek bengek tentang gelapnya dunia per-LDR-an, pertanyaannya adalah “Apakah LDR benar-benar tidak ada angin segar untuk mereka yang  segera akan menjalanin hubungan jarak jauh?”.

Memang benar komunikasi adalah aspek paling penting dalam LDR. Tapi aspek lain seperti pengendalian emosi dan kepekaan terhadap kondisi juga harus bisa dikendalikan oleh mereka yang menjalin hubungan jarak jauh. Sebab lawan dari LDR bukan hanya pihak ke-2 dan atau mungkin adanya pihak ke-3, tapi musuh dari LDR juga adalah diri sendiri. Lost Control terhadap self emotion juga sangat berpengaruh terhadap langgeng dan tidaknya hubungan itu.

Masalah selanjutnya adalah bagaimana menjaga komitmen ketika LDR. Komitmen menjadi tali yang bisa kendor dan bisa juga menjadi sangat kuat. Yang menentukan kuat dan kendornya tali itu tidak lain adalah Komunikasi. Semakin lancar komunikasi semakin erat dan kuat pula tali itu, dan begitu pula sebaliknya, semakin tidak lancar komunikasi ketika LDR, maka akan membuat tali itu semakin kendor.

Lalu setelah komitmen dan emosi bisa dikendalikan dengan baik oleh kedua pihak, maka LDR sudah bukan lagi menjadi masalah yang besar. Karena pada dasarnya yang membedakan LDR dan Tidak hanya terletak pada mindset.

Seberapa besar cinta kalian akan diuji di fase LDR ini. Sebab pasangan yang tidak menjalin hubungan LDR, mungkin hanya karena mereka sering berjumpa, sering bersama, karena tidak ada jarak yang jauh yang menghalani hubungan mereka. Tentunya mereka akan merasa nyaman, happy, merasa dilindungi dan melindungi, merasa disayang, dan macam-macam istilah bucin lainnya. Dan Ini berbeda hal nya dengan para pejuang LDR.

Tapi apakah Pacaran yang setiap hari punya waktu untuk bersama benar-benar menumbuhkan rasa cinta ?.

Ohh tunggu dulu.

Menurut Ashley Montagu seorang antropolog Inggris-Amerika, “Cinta adalah sebuah perasaan memperahatikan, menyukai, menyayangi secara mendalam yang disertai rasa rindu serta hasrat kepada sebuah objek.”

Dari kutipan diatas, perlu digaris bawahi ada kata “Rindu”.

Ini berarti Cinta tidak hanya tentang waktu yang dihabiskan bersama, bukan juga tentang nyaman karena terus bertemu, dan sebagainya. Cinta itu butuh ruang untuk merindu, dan LDR datang sebagai ujian apakah “cinta” yang dimaksud benar-benar “cinta”.

Bagaimana jika cinta itu akan pudar,

ketika pasangan itu sudah tidak lagi bisa nonton film kesukaan bersama ?, apakah akan hilang rasa cinta itu jika tidak lagi bisa menyantap nasi goreng kesukaan berdua ?

Aku tidak tau!

Tapi yang jelas LDR adalah sebuah ujian, dan bagaimana mengakhiri ini dari jutaan pasangan diseluruh Dunia?

LDR tidak akan selesai, karena ada mimpi, keinginan, dan kebutuhan yang terkadang lebih besar dari pada masalah pengendalian emosi, membagi waktu untuk berkomunikasi, dan menjaga komitmen. Dalam prosesnya LDR akan berhasil jika Emosi, Komunikasi, dan Komitmen bisa dijalanin dengan bijak.

Teringat sebuah kutipan singkat dari Munia Khan.

“ Laut Hanya Memisahkan Daratan, bukan Jiwa”.

Long distance relationship
Long distance relationship


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Andy Chandra

   

Dari Kelompok Minoritas yang mayoritas menolak untuk bersastra!

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap