Inilah Profile Guru Honorer Indonesia


Inilah Profile Guru Honorer Indonesia 1

Perjuangan yang tak pernah kunjung padam adalah sebagai bukti loyalitas para guru honorer Idonesia. Mereka sadar akan masa depan bangsa ini. Masa depan yang akan membawa bangsa kita kearah yang lebih baik, dalam persaingan gloal antar bangsa-bangsa di dunia. Kecakapan pimpinan sebuah negara pastinya tak pernah lepas dari peran seorang guru yang senantiasa membimbing dan mengarahkan bagaimana mereka harus berkiprah dalam dunia politik maupun tatanegara. Bagaimana mereka menjadikan pemimpin bangsa yang ideal sesuai dengan amanat rakyat. Pastinya para guru terus berusaha memberikan yang terbaik.

Tapi, apa jadinya jika kehidupan honorer memang masih jauh panggang dariada asap. Mereka mencoba untuk jadi yang terbaik dengan mengikuti peraturan yang berlaku, yakni sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) seorang guru dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Namun upah yang mereka dapatkan  jauh dibawah UMR, terlebih bagi para honorer sekolah swasta yang perkembangannya boleh di bilang jalan di tempat.  Mereka hanya menerima upah paling untuk kehidupan seminggu, yakni antara 300 – 500 ribu perbulan. Terlalu ironis kalau 300-500 ribu dibilang gaji.  

Mereka tetap bertahan dengan satu harapan pada saatnya akan mendapat perhatian yang dapat mengangkat derajat kehidupan mereka. Mereka tekuni, mereka telateni, dengan penuh kesabaran dan ketabahan, karena sadar akan peranannya sebagai abdi negara.

Pengabdian yang mereka anggap sudah lebih dari cukup, yakni antara 10 hingga 15 tahun, bahkan lebih dari itu, menjadikan mereka mencoba untuk mengeluarkan uneg-uneg yang berkecamuk dalam benaknya. Mereka merasa ada dikotomi yang berlebihan antara “PNS dan Honorer” yang notabenenya sama-sama sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.

Dengan jaminan “Pasal 22 ayat (3) UndangUndang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menjamin bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama” maka para guru honorer berusaha mengeluarkan kata hati mereka, nurani mereka, untuk mendapatkan (mungkin bukan sebuah keadilan), tapi tepatnya adalah mendapatkan perimbangan antara mereka yang berstatus sebagai ASN dengan para honorer.

Posisi guru ASN yang memiliki gaji sesuai UMR bahkan lebih dari itu, menjadikan perbedaan yang sangat signifikan jika dibanding dengan kehidupan para guru honorer. Para guru honorer terus berusaha memperjuangkan nasibnya dengan mencoba melakukan orasi dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, lagi-lagi agar mendapatkan perhatian dari buah pengabdian mereka.

Keluhan memang dirasakan hampir di seluruh guru honorer Indonesia yang menuntut adanya perhatian pemerintah untuk bisa menyisihkan sebagian anggaran negara demi pendidikan Indonesia khususnya keseahterann guru honorer yang lebih baik, yang pada akhirnya dapat berimbas kepada kemajuan bangsa ini pada masa yang akan datang.

Amanat Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 menyebutkan tujuan Nasional Indonesia, yaitu “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan keseahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”

Mengutib bagian dari tujuan nasional tersebut, yakni (Memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan bangsa) maka relevansinya  dengan tugas seorang guru, khususnya guru honorer, maka untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa secara mumpuni hanya bisa terlaksana manakala kesejahteraan mereka juga terpenuhi. Tapi sebaliknya jika kesejahteraan mereka jauh dari kata cukup, maka yang terjadi adalah beberapa tugas guru yang seharusnya dapat mereka kerjakan dapat terkendala, karena mereka harus mencari upah tambahan di luar sekolah, misalnya sambil jadi tukang ojek. Kuli bangunan, atau kerja serabutan lain yang bisa menutupi kebutuhan mereka.

Gambar di atas adalah sebagian dari profile honorer Indonesia yang terus memperjuangkan nasibnya, namun belum terpenuhi. Deraian air mata mereka curahkan memohon dan memohon agar dapat merubah nasib mereka mendulang buah kemerdekaan yanng kini hampir memasuki usia 1 abad. Bagi mereka, salah satu tolok ukur kualitas suatu bangsa adalah tingginya kualitas pendidikan bangsa itu sendiri, yang pada gilirannya akan berdampak pada terlaksananya pembangunan yang hakiki di segala bidang kehidupan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap