Interaksi Simbolik Dalam Media Sosial: Hilangnya Konsistensi Komunikasi Dalam Dunia Nyata

Interaksi Simbolik Dalam Media Sosial: Hilangnya Konsistensi Komunikasi Dalam Dunia Nyata 1

Salah satu PR besar, entah ini menjadi PR bagi siapa? Yang jelas PR ini berkaitan erat dengan media sosial, pengguna dan penyedia jaringan. Beberapa pekan lalu saudara sepupu saya mengajak ngopi di kedai langganan. Ia menceritakan suasana di rumahnya yang sudah mulai tidak “nyaman”. Menurutnya ada satu hal yang bergeser dalam komunikasi keluarganya. Bapak dan ibunya adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri. Dengan adanya pandemi, mereka dituntun untuk lebih sering menggunakan HP ketimbang bertatap muka. Dengan demikian, sudah setahun lebih mereka erat dengan telpon genggamnya masing-masing.

Inilah yang menjadi permasalahannya. Menurut sepupu saya, sebut saja Ahmad, komunikasi antara bapak dan ibunya semakin renggang. Mereka sibuk dengan melihat status di FB dan menonton video viral di You tube. “Suatu hari, bapak bertengkar dengan ibu, karena sama sekali belum ada makanan di meja makan, padahal siang itu bapak baru pulang dan kelihatan sangat lapar, sedangkan ibu asyik dengan teman-teman FBnya.” Tuturnya.

Artinya ada aspek komunikasi yang sejatinya menjadi piranti tersampaikannya maksud dan tujuan, akhirnya hilang begitu saja ketika komunikasi itu teralihkan dengan komunikasi-komunikasi yang lain. Media sosial adalah bagian terkecil dari ruang komunikasi, walaupun dampak dan manfaatnya juga banyak. tetapi, jika kemudian mempengaruhi terhadap keharmonisan sebuah keluarga, berarti ada kesenjangan yang luar biasa dalam pemanfaatan media dan siklus komunikasi yang berubah pasca sibuk dengan media sosial masing-masing.

Dalam sudut pandang fenomenologi, tentu fenomena komunikasi hari ini adalah sebuah perjalanan untuk mampu menempatkan diri pada kondisi perkembangan sosial dan teknologi yang mengiringinya. Karena tidak mungkin ketika sistem komunikasi itu berkembang, lantas tidak sama sekali mempengaruhi pola dan gaya pelaku komunikasi, manusia dalam hal ini.

Fakta sosial kita menunjukkan bahwa tidak sedikit kehancuran sebuah keluarga karena teman di dunia maya, salah paham yang sering muncul akibat sikap interaksi simbolik dalam dunia maya, pun sebenarnya mental keberanian itu mulai memudar ketika dihadapkan pada realitas sosial, dan cenderung berani dalam ruang-ruang maya. Hujat menghujat sudah biasa dalam dunia maya, tetapi apakah kemudian kita bisa membendungnya?

Dalam kasus keluarga sepupu saya dapat kita tarik dua garis besar yang menyebabkan komunikasi keluarganya berubah dan tidak lagi harmonis menurutnya.

Pertama, seperti halnya anak kecil yang baru bisa mengayuh sepeda, maka ia tidak akan kenal waktu untuk terus bermain dan mengayuhnya. Begitu juga dalam konteks komunikasi dalam dunia maya hari ini. Di samping menjadi hal baru, juga menjadi unjuk eksistensi. Tidak dipungkiri bahwa setiap manusia membangun eksistensinya.

Dalam realitas sosial hari ini, eksistensi itu bisa dibangun dengan media sosial. Di samping mudah penggunaannya, pun sudah tidak bisa lagi dibedakan mana yang bersifat privat dan yang harus dimunculkan ke publik. Agama, asmara, kekayaan dan citra sudah sulit dibedakan tempatnya.

Kedua, kesadaran dan kedewasaan dalam bersosial media yang perlu dipupuk – tumbuhkan. Agaknya, kesadaran dan kedewasaan ini masih belum melekat dalam diri pengguna sosial media. Tentu tidak bisa dipukul rata, tetapi jika melihat problem yang muncul baik dari kalangan atas sampai kalangan akar rumpun, tentu ada satu yang salah dalam sistem komunikasinya.

Ketika semua pihak sudah berani adu argumen yang destruktif dalam dunia maya, pun sudah berani menunjukkan hal-hal yang seharusnya ditutupi, maka problemnya bukan lagi kesadaran, melainkan hiperrealitas.

“Jaman edan, ketinggalan nek ra melu edan!” Ungkapan ini sering muncul dalam komentar-komentar di masyarakat dunia maya. Yang disayangkan kemudian adalah keedanan itu justru mengubah sikap wajar menjadi tidak wajar. Mengubah sebuah kewajiban menjadi satu hal yang harus ditinggalkan dan diganti dengan sikap yang lain.

Ketika kesenjangan itu tidak disadari maka, bukan lagi kesejahteraan atau keharmonisan yang didapatkan, melainkan tendensi-tendensi atas kenyamanan sepihak yang harus diperjuangkan. Sedangkan sistem komunikasi itu sebenarnya tidak demikian tujuannya,

Alur yang disusun sebenarnya adalah sumber berita kemudian disampaikan pesannya melalui saluran komunikasi terhadap penerima berita kemudian ada umpan balik dari penerima terhadap sumber berita. Hal ini seharusnya mengalami sistem analisis, bukan serta merta. Pendek kata, mengambil sikap sewajarnya namun tepat lebih baik ketimbang terburu-buru tapi tidak tepat sasaran.

Sehingga, wajar ketika banyak orang tidak menyadari bahkan tidak dewasa dalam pemanfaatan media sosial, maka interaksi simboliknya justru tidak tersampaikan, justru mengubah pola pikir yang seharusnya dewasa dalam menyikapi kemajuan teknologi sosial, menjadi pendek nalar.

Jika merujuk pada permasalahan di atas, ada dua aspek motif yang menurut Alfred Schutz disebut sebagai “Motif untuk” (in order to motives) dan “Motif Karena” (because motives). Di mana “Motif untuk” berarti tujuan yang digambarkan sebagai maksud, rencana, harapan, minat dan sebagainya yang diinginkan dari sang aktor atau pelaku media sosial. Hal ini berorientasi masa depan.

Artinya sebuah komunikasi yang dibangun bukan semata-mata bersifat saling bertukar informasi atau membangun perhatian, melainkan ada sisi aspek masa depan yang ingin dibangun dan dikembangkan.

Sedangkan “Motif karena” berarti sistem komunikasi yang dibangun merujuk pada masa lalu dan pengetahuan sang aktor atau pengguna media sosial dan tertanam dalam pengetahuannya (preconstituted kenowledge) sehingga berorientasi kepada masa lalu. Artinya ada pengalaman dan pengetahuan yang menjadi filter atau umpan balik atas sebuah kemajuan sistem komunikasi hari ini.

Seperti halnya uangkapan berguru kepada masa lalu, atau sepertihalnya spion, fungsinya untuk melihat ke belakang. Maka interaksi simbolik seharusnya menjadi fragmen komunikasi sosial yang dapat menentukan sikap yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan dalam kehidupan. Oleh karenanya, kasus yang dialami oleh keluarga sepupu saya itu adalah bagian dari sistem komunikasi dan kedewasaan dalam bersosial media yang belum ketemu orientasinya, entah masa lalu atau masa depan, hanya mengikuti perkembangan jaman, dibarengi dengan hiperrealitas dalam dirinya.

Sumber bacaan penunjang

Umiarso dan Elbadiansyah, interaksionisme simbolik dari era klasik hingga modern, Rajawali Press,2014.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri