Interaksi Sosial Disosiatif dalam Novel Salah Asuhan: Kajian Sosiologi Sastra

Interaksi Sosial Disosiatif dalam Novel Salah Asuhan: Kajian Sosiologi Sastra 1

Berbicara mengenai sosiologi sastra, sosiologi sastra merupakan sebuah kajian ilmiah yang mengkaji sastra untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara karya sastra dan masyrakat. Maka tidak terlepas dari membahas segala aspek yang berhubungan dengan sosial. Merujuk pada bidang sosisologi, ada beberapa bidang kajian yang menjadi pusat perhatian sosiologi, diantaranya yaitu peristiwa sehari-hari. Peristiwa tersebut menghasilkan bentuk dan makna terhadap orang lain melalui tindakan-tindakan.

Objek kajian sosiologi dapat dijelaskan dengan mengamati hubungan antar manusia (interaksi sosial) beserta sebab dan akibatnya. Adapun syarat interaksi sosial menurut Gillin dan Gilllin adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Mengenai arti interaksi disosiatif, interaksi disosiatif merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang melalui proses sosial dengan menjauhkan atau mempertentangkan. Dengan kata lain, mengarah ke bentuk perpecahan.

Sumber : Pixabay
Sumber : Pixabay

Interaksi disosiatif ini dapat digambarkan dalam novel yang berjudul Salah Asuhan karya Abdoel Moeis diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Pada novel ini diceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Hanafi yang memiliki pandangan kebarat-baratan dan merendahkan bangsanya sendiri. Sedari kecil, Hanafi telah berteman baik dengan seorang perempuan berdarah Barat yang bernama Corrie du Busse. Mereka berdua bersahabat baik, hingga akhirnya keduanya saling jatuh cinta.

Namun keduanya tidak dapat bersatu karena perbedaan bangsa. Jika keduanya bersatu, maka mereka akan dijauhkan dan dipandang dengan setengah hati saja oleh kerabat dekat. Setelah Hanafi mengungkapkan perasaannya kepada Corrie, tiba-tiba Corrie pergi meninggalkan kota Solok dan menetap di Betawi untuk melanjutkan pendidikannya dan melepas hubungan dengan Hanafi. Hingga pada suatu hari, Hanafi mendapati surat dari Corrie dan merasa sakit hati kepadanya.

Ibu Hanafi menjodohkan Hanafi dengan anak kakak kandungnya, yaitu Rapiah untuk membalas utang budi kepada Engku Sutan Batuah, ayahnya Rapiah, karena telah membiayai sekolah Hanafi. Akhirnya, Hanafi menerima perjodohan itu dengan terpaksa. Hasil pernikahan antara Hanafi dan Rapiah tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Syafei. Akan tetapi, kehidupan rumah tangganya tidak berjalan seperti semestinya. Hanafi tidak memperlakukan Rapiah seperti seorang istrinya, melainkan semena-mena seperti seorang babu. Bahkan, dinamakan juga sebagai “koki Hanafi pemberian ibunya.”

Suatu hari, Hanafi pergi ke Betawi untuk berobat karena digigit anjing. Tidak diduga, di sana ia bertemu dengan Corrie dan menjalin kembali persahabatannya. Rasa cinta antara keduanya muncul lagi, hingga mereka memutuskan untuk menikah.Kehidupan Hanafi dan Corrie ternyata tak seindah apa yang mereka berdua harapkan. Mereka berdua dijauhkan, dibenci, bahkan disisihkan dari pergaulan. Hingga pada suatu hari Corrie dituduh oleh Hanafi telah melakukan zina. Corrie tidak terima atas tuduhan dari suaminya sendiri, lalu ia pergi meninggalkan Hanafi ke kota Semarang. Beberapa hari setelah ditinggalkan, Hanafi mengetahui bahwa Corrie berada di kota Semarang.

Sesampainya di sana, Corrie didapati sakit keras berupa Kolera dan meninggal dunia setelah bertemu dengan Hanafi. Setelah Hanafi menyelesaikan urusan Corrie, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Betawi untuk menjual harta yang masih tersisa di sana dan pamit kepada Piet, teman kerjanya sekaligus tuan rumah yang menerima Hanafi untuk bersinggah di rumahnya. Selepas itu, ia pulang ke Solok untuk bernostalgia dan bertemu dengan ibunya. Beberapa hari di Solok, ia jatuh sakit dikarenakan menelan 4 tablet sublimat. Hingga pada akhirnya, Hanafi meninggal dunia.

Perilaku Hanafi ini yang menyebabkan banyak sekali konflik. Ibu Hanafi yang dari awal tidak setuju akan bersatunya Hanafi dengan Corrie (Perempuan bangsa Belanda) pun menimbulkan perpecahan antara Ibu dengan Anak. Hanafi ini dinilai sebagai anak yang durhaka kepada ibunya karena telah keluar dari budaya aslinya, juga menceraikan istrinya Rapiah.

Konflik besar inilah yang menyebabkan adanya interaksi disosiatif, interaksi disosiatif yang dimaksud dalam novel Salah Asuhan, yaitu: a) persaingan; b) kontroversi; c)pertentangan); dan d) konflik.

a. Persaingan

Persaingan yang dianalisis dalam novel Salah Asuhan ini adalah persaingan yang bukan berbentuk material, melainkan persaingan dari bidang kehidupan yang muncul yaitu persaingan kebudayaan, kedudukan atau peranan, dan perbedaan ras.

Pertama, persaingan kebudayaan. Persaingan ini terlihat dalam persaingan segi kebiasaan masyarakat desa dengan budaya barat, adat istiadat, dan lembaga kemasyarakatan seperti sekolah.

Kedua, persaingan kedudukan atau peran. Persaingan ini seseorang atau kelompok ingin mencapai kedudukan dan peranan tertentu dalam masyarakat dan ingin diakui sebagai orang atau kelompok yang terpandang. Pada masa kolonial belanda terdapat perbedaan golongan atau kelas sosial bagi penduduk masa itu

Ketiga, perbedaan ras. Persaingan ini terjadi karena perbedaan ras baik perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut dan sebagainya. Perbedaan ras ini juga sebenarnya masuk ke dalam persaingan kebudayaan.

b. Kontravensi                                      

Kontravensi merupakan bentuk antara persaingan dan konflik. Kontravensi ditandai dengan gejala-gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang, atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian terhadap kepribadian seseorang. Berikut cuplikan yang mengandung interaksi disosiatif kontravensi:

tapi Nyonyamu serupa – memendam hati padaku. Tahukah engkau apa sebabnya?

Cuplikan teks di atas merupakan dialog Hanafi kepada Piet, kawannya, tempat ia menumpang rumah untuk tinggal. Nyonya yang dimaksud bukan lain adalah istri Piet. Ia memendam kebencian terhadap Hanafi sebab perasaan sesama wanita yang dirasakannya terhadap Corrie yang dikecewakan oleh Hanafi sendiri. Perasaan kebencian yang dipendam oleh Nyonya Piet itu merupakan salah satu interaksi disosiatif kontravensi, karena adanya perasaan tidak suka yang disembunyikan. Selain itu, ada tipe-tipe umum interaksi disosiatif kontravensi, salah satunya yaitu kontravensi generasi masyarakat seperti bentrokan atau perbedaan pandangan antara kaum muda dengan kaum tua karena perbedaan latar belakang pendidikan, usia dan pengalaman.

c. Konflik                                                                            

Konflik adalah proses sosial dimana orang-perorangan atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lain atau lawan dengan ancaman atau kekerasan. Salah satu sumber konfllik yang terjadi di masyarakat adalah perjodohan atau perkawinan. Menurut Ajip Rosidi bahwa Abdul Moeis lebih realistis dalam menulis karyanya, tidak terbatas hanya mengungkapkan persoalan kawin paksa. Dengan demikian, Salah Asuhan walaupun tidak sepenuhnya hanya mengangkat persoalan kawin paksa, namun hal tersebut juga menjadi salah satu topik yang kuat dipersoalkan dan sebagai pengantar konflik-konflik yang bermunculan setelahnya.

Jika diteliti lagi, tak sepenuhnya perkawinan paksa menjadi sebab munculnya konflik-konflik tersebut, melainkan ada tersimpannya konflik batin dan keegoisan Hanafi yang membuatnya semakin rumit dan kalut. Bila saja, Hanafi secara ikhlas dan tulus menjalankan perkawinannya dengan Rapiah, maka setidaknya kecil peluangnya memunculkan konflik-konflik serupa kebencian orang banyak kepadanya. Sebagaimana telah dijelaskan Bakar dalam Yudiono K.S. bahwa Salah Asuhan tidak lagi mempersoalkan kawin paksa, tetapi menampilkan masalah-masalah dengan dirinya sendiri, dengan cita-citanya, dengan dendam, dan sebagainya.

Semakin ditelusuri, banyak konflik-konflik yang muncul sebab rasa gengsi, besar kepala, dan inginnya Hanafi memiliki kedudukan dan peran yang terpandang. Sehingga perilaku, pola pikir, dan adat yang selalu diagungkan adalah khas orang Eropa, khususnya Belanda. Sebagaimana Burhan menjelaskan bahwa berbagai peristiwa-konflik berawal dan disebabkan sikap Hanafi yang bertingkah laku terlalu kebarat-baratan dan memandang rendah bangsanya. Hal tersebut tentu saja berpangkal pada ruang lingkup yang mempengaruhi pola pikir Hanafi.

Amanat yang dapat disampaikan melalui cerita novel Salah Asuhan dapat disimpulkan melalui peribahasa “Setinggi-tinggi melambung, jatuhnya ke tanah jua.” Yang artinya, janganlah kita merasa tinggi hati dan memandang diri orang lain rendah karena karma buruk akan berbalik dengan sendirinya. Semoga dari penjelasan diatas kita bisa ambil nilai moral yang terkandung di dalamnya agar kita bisa terhindar dari perilaku buruk pada diri kita.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Maulia Assilmy