Iya Ini Aku, Yang Sedang “Sakit” Itu


Iya Ini Aku, Yang Sedang “Sakit” Itu 1

Sebagian besar orang percaya bahwa mereka-yang senyum atau tertawa sendiri, berbicara sendiri, keseringan melamun, teriak-teriak, adalah seseorang yang sedang terganggu dirinya dari dalam. Atau, sedang sakit. Mereka selalu melihat, bahwa yang demikian itu adalah kecacatan yang tidak kentara secara fisik, otaknya miring, atau apa sajalah istilah yang sering disematkan. Aneh-aneh. Dan kadang itu pula yang membuatku kesal, muak, bahkan takut.

Tapi, pernahkah kalian berpikir bagaimana perasaan yang terdalam atau pikiran yang tengah dirasakan oleh orang-orang seperti itu? Bisa kah empati dan simpati masih dapat dialirkan bukan hanya kepada mereka korban kecelakaan atau penderita yang jelas-jelas mengalami kekurangan di fisiknya, namun juga pada jiwa dan mentalnya? Sayangnya, yang berulang kali aku jumpai justru manusia-manusia itu berpikir bahwa tidak akan ada gunanya untuk berurusan terlalu lama dengan kami. Sebab, untuk diajak bicara saja sulit, lalu apa lagi yang mau dilakukan. Palingan  hanya lebih menyusahkan dan merepotkan.

Sejujurnya, aku pun sebagai salah satu orang-orang istimewa seperti mereka sempat merasakan adanya dorongan dalam hati untuk ikut serta berbaur bersama kalian, wahai para manusia normal yang mungkin sempurna? Karena aku pun juga manusia, yang mohon maaf tapi demikianlah adanya. Aku mencintai diriku sendiri yang seperti ini. Jika mereka bilang jijik, mungkin iya bisa jadi aku kadang berpikir seperti itu. Teruntuk aku sendiri, namun selebihnya adalah menyukai aku dengan aku yang ini.

Jika kalian bertanya bagaimana perasaan oran gila atau sakit jiwa ketika ia sedang dalam kebisanya, maka ini lah kisahku. Yang bernama Wein, gadis 15 tahun dan senantiasa dipasung di dalam kamar yang pengap, gelap, bahkan sepi.

Dari kecil aku selalu berada di dalam rumah. Tidak keluar-keluar. Tidak sekolah, bermain, atau punya teman. Aku hidup dengan dua manusia lainnya. Yang satu laki-laki dan satunya perempuan. Aku tidak tahu namanya, yang jelas kadang mereka aku panggil Pak dan Buk. Kadang aku sendiri bingung yang mana yang harus aku panggil Pak dan Buk. Mereka berdua sering memanggilku begini “Wein, Wein”. Dan menurutku itu mungkin namaku.

Aku lalu sering menoleh dan datang ketika merasa dipanggil. Tapi anehnya, selalu ada ayam rumah yang ikutan datang. Tapi sosok Buk kadang mengibaskan tangannya ke arahku, seolah menyuruh pergi. Loh? Bukannya tadi memanggilku? Tapi aku tetap saja bersikukuh datang jika dipanggil. Aku tidak menggubris ayam-ayamnya. Yang jelas aku senang dengan kata ini. Kadangnya pula Pak menyebut nama Jeje. Aku kira itu adalah untuk anak mereka yang tidak tahu di mana ia, karena ketika dipanggil selalu tidak nampak wujudnya. Dan aku pun selalu menggeleng-gelengkan kepala dan bilang “Tidak, aku tidak melihatnya dari tadi”.

Aku sering melamun dan bertindak apa saja di dalam kamar. Ada banyak mainan di sana. Ada botol-botol plastik, rantai besi, dan papan kayu. Aku pikir ini adalah hal yang menarik, tapi aku tidak tahu untuk apa. Yang jelas, sejak tahun depan aku umur 16 aku dipasung di umur 15. Kemarin waktu aku masih kecil juga, aku pernah diajak jalan-jalan oleh Pak dan Buk. Ke tempat yang banyak rumputnya, bunganya, dan juga pagi. Aku dan mereka melihat ada banyak sekali orang yang berjalan dan berkumpul. Aku sangat takut sekali.

Sampai-sampai kalut dan menangis sejadi-jadinya. Aku memberantakkan rambutku dan berteriak-teriak. Tapi orang-orang itu malah menatapku lekat-lekat. Aku jadi semakin tak karuan. Ada banyak air yang hangat keluar dari tubuhku, kepalaku, tanganku, dan kakiku. Aku mulai meracau dan bertingkah seperti kucingnya Bu Nda saat ia sedang dimakan kutu. Gatal semua. Lalu Pak dan Bu didatangi oleh beberapa orang dan bilang,

“Buk, maaf. Kalau anaknya agak anu, bisa ditinggal di rumah aja. Atau kalau keberatan, bisa nyewa pengasuh. Kasian pengunjung yang lain, mereka jadi takut. Hehe, maaf”

Begitu. Lalu aku menatap ibuk-ibuk yang sudah bilang demikian. Dan memelototinya semampuku. Dia sepertinya jahat, dan aku harus berhati-hati padanya. Dia mungkin membawa pisau yang dapat menusukku kapan saja, atau dia membawa senjata lainnya. Ah, barangkali dia akan menculikku. Aku semakin takut, dan saking buruknya, aku menendang kakinya. Lalu berteriaklah orang itu sekeras mungkin dan menamparku secara tiba-tiba.

Tidak sampai di situ, aku pun mendapat gamparan kedua dari seorang yang kupanggil Pak. Keras sekali. Aku lalu meringkuk dan mendekap Buk. Menangis sejadi-jadinya, dan berputar mengelilinginya. Sebab aku ingin pusing, dan kalau pusing aku pasti mengantuk. Aku lelah, padahal tadinya ingin sekali keluar melihat kupu-kupu. Tapi aku malah ingin tidur.

Esoknya, bangun-bangun aku sudah duduk di lantai. Dingin. Dan kakiku dan tanganku, tidak dapat digerakkan. Kakiku berada dalam dua lubang kayu dan ada rantainya. Seperti mainanku biasanya. Hanya saja ini lebih sakit. Di tanganku juga sama. Mulutku tersumpal dengan baju tebal yang diikat sampai kepala belakangku. Aku kemudian menangis dan berteriak lagi.

Air liurku mentes ke mana-mana. Aku tidak peduli, ini sungguh mengasyikkan tapi juga menyakitkan. Rasanya aku ingin terus menangis, agar bisa membuat kolam. Barangkali aku juga bisa berenang di sana. Tapi tiba-tiba orang bernama Buk membuka pintu yang membuatku kaget. Lalu dia menyiramku dengan air dingin. Aku pun terdiam. Aku rasa dia mengerti jika aku haus. Aku pun minum dengan air sisa-sisa di kain yang menyumpalku atau yang terciprat di tanganku. Setelahnya aku tidur lagi.

Begitu terus setiap hari, aku juga jarang makan. Jarang meminta. Aku sering dikasih cambuk pakai sabuk Pak kalau banyak ngedumel.  Dan tidak bisa keluar lagi. tidak ada taman, tidak ada langit. Tidak ada orang-orang, dan itu mengasyikkan. Aku bisa bermain, tapi punggungku seperti banyak semut. Dan nyeri. Makanya aku biasanya meneriakkan Pak dan Buk untuk waktu yang berulang-ulang. Tapi biasanya mereka hanya membawa satu tong penuh dengan air, dan menyiramku lagi. Lagi, dan lagi. Sampai tubuhku merasa panas, hingga akhirnya aku pun terdiam. Anehnya aku tidak bisa tidur.

Di malam hari, yang entah sudah ke berapa. Aku sering mendapati air warna merah di hidungku. Ini asin dan aneh rasanya. Kental. Kadang kepalaku sakit. Kadang tidak. Tapi aku suka air ini. Setidaknya ia sama dengan warna bajuku. Sangat deras alirannya, dan berjam-jam. Lama, hingga suatu ketika aku pun tidur dengan pulas.

Dalam mimpi, aku sempat bertemu dengan orang yang serba putih. Hanya satu. Lalu aku bercerita kepadanya seperti ini  “Seandainya aku bisa hidup seperti mereka yang di sana, apakah semuanya akan baik-baik saja?”

Orang itu lantas menjawab dan aku selalu mengingat semuanya dengan detail dan lengkap.

“Kamu seperti ini adalah sebuah anugerah. Yang tak semua manusia mendapatkannya dan menikmatinya. Hanya orang tertentu saja yang mampu bertahan hingga ia pulang. Lalu Dia dapat membalasmu lebih baik lagi ”.

“Aku ingin pulang kalau begitu” Kataku lalu. Entah kenapa, saat itu aku juga lupa mengenai Pak, Buk, dan Jeje anak mereka yang tidak pernah aku lihat.

“Maka pulanglah sekarang” Jawabnya. Dan aku pun mengangguk, mengantuk sangat berat, hingga mataku pun rasanya enak sekali terpejam, bahkan tidak untuk bangun kembali besok pagi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap