Jalan Menuju Keselamatan Menurut Buddhisme

Jalan Menuju Keselamatan Menurut Buddhisme 1

Manakah jalan yang membimbing manusia menuju kesadaran spiritual atau pencerahan? Untuk mengetahui jalan kebenaran, terlebih dahulu diketahui konsep tentang kebenaran menurut Buddhisme. Kebenaran mulia yang menjadi inti ajaran Buddhisme adalah empat kebenaran mulia sebagai berikut;

Pertama kebenaran mulia tentang penderitaan, kedua kebenaran mulia tentang sebab penderitaan, ketiga kebenaran mulia tentang melenyapkan penderitaan dan yang keempat kebenaran mulia tentang jalan menuju pelenyapan penderitaan. Bagi Buddhisme kelahiran adalah penderitaan, umur tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, mati adalah penderitaan, dipisahkan dari yang dikasihi adalah penderitaan dan titik mencapai apa yang diinginkan adalah penderitaan. Penderitaan, kesedihan, kesengsaraan atau ketidakbahagiaan dalam Buddihisme diwakili dengan istilah ‘dukaha’. Singkat kata semua yang melekat pada dunia ini adalah penderitaan. Kata dukha ini biasa diterjemakan dengan penderitaan atau ketidakbahagiaan. Dukha lebih diungkapkan dislokasi yang berarti perserlisian, menyakitkan atau menghalang gerak. Keberadaan adalah suatu dislokasi, mengapa? Karena ia diperas secara hebat. Tentu saja dhuka ini sangat menyakiti. Sri Edwin Arnol menunjukan keberadan mulia yang pertama ini dalam sajak berikut. Kebenaran mulia pertama adalah kesedihan. Jangan pura-pura! Hidup yang kausanjung adalah derita yang berkepanjangan. Hanya sakit yang tetap tinggal, sedangkan kesenangan hanya burung-burung yang lincah, terbang pergi.

Menurut Buddhisme keberadaan manusia adalah suatu dislokasi. Karena keberadan merupakan perselisihan yang menyakiti, manghalang gerak, tentu saja itu tidak menyenangkan. Kenyataannya itulah hidup, penderitaan. Hal itu harus diakuhi dan disadari lebih dahulu sebagai kebenaran jika manusia ingin bebas dari dukha. Penyebab dari penderitaan adalah keinginan. Namun perlu digarisbawahi bukan semua keinginan. Sesungguhnya keinginan kepada hidup itu menyebabkan orang dilahirkan kembali, dengan disertai nafsu dan keinginan, yang mencari kepuasan di sana sini dalam pengalaman hidup, yakni kehausan akan kesenangan, kehausan akan milik, kehausan akan kekuasaan. Apa yang mau ditunjukan dalam kebenaran keinginan ini? Kebenaran tentang penderitaan disebabkan oleh dislokasi hidup, tanha. Istilah ini merujuk pada pengertian demi pemenuhan diri sendiri dan terpisah dari yang lain. Sering diterjemakan sebagai keinginan. Akan tetapi terjemahan ini tidak lengkap, karena orang tidak dapat membebaskan dengan tepat keinginan yang mana. Beberapa macam keinginan malh perlu untuk keselamatan, keinginan untuk mencapai Nirwana, keinginan demi kesejahteraan bersama. Tanha berarti, keinginan demi kepenuhan diri sendiri, terikat pada diri sendiri dan terpisah dari yang lain. Bila satu bagian menarik dari keseluruhan dan mencari kesenangan sendiri, sebagaimana dalam halnya tubuh kita, pasti akan timbul dislokasi penderitaan.

Keinginan-keinginan seperti itulah yang menimbulkan penderitaan. Nah yang menjadi pertanyaannya, bagaimana caranya lepas dari penderitaan? Bagaimana caranya lepas dari dislokasi? Jalan yang sebenarnya untuk menghilangkan penderitaan adalah menghapuskan keinginan secara sempurna. Untuk bebas dari penderitaan manusia harus membuang keinginan, menyangkalinya, memisahkan diri dan tidak memberi tempat baginya dalam diri.

Lalau apa yang dilakukan agar dapat menghilang keinginan? Ada delapan jalan besar yang ditawarkan untuk sampai pada pelenyapan penderitaan. Kedelapan jalan tersebut yakni; penglihatan yang benar, keinginan yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar, pikiran yang benar, dan samadi yang benar. Dari kedelapan langkah ini dapat dibagi menjadi tiga pokok: kebijaksanaan, keluhuran dan senadi. Penjagaan diri manusia dengan mengamalkan kedelapan jalan ini akan membawa manusia kepelenyapan pendritaan. Buddhisme bukan hanya sistim pemikiran dan pengetahuan, tetapi sekaligus merupakan ajaran tentang cara hidup manusia. Pemahaman membutuhkan keseluruhan diri manusia, baik pikiran, perasaan, dan tindakan. Dalam hal ini termasuk pemikiran filosofis, pemurnian selalu hidup, dan aktivitas kontenplasi. Kontenplasi berarti merenungkan atau berpikir secara mendalam dan mendasar.  Kontenplasi bisa disebut dengan semadi yang merupakan suatu hal yang hakiki dalam mencerna ajaran Budha. Sidharta Gautama menemukan pencerahan dalam melakukan kontenplasi yang intensif dan terus menerus. Semua yang ada pada kita adalah hasil dari yang kita pikirkan.

Bagi Buddhisme, keinginan manusia datang dari ilusi dan ketidaktahuan agar manusia terhindar dari keinginan yang menimbulkan penderitaan, maka manusia perlu meninggalkan pengetahuan dan menyadari berbagainya ilusi serta cara menghindarinya. Untuk dapat menghilangkan ilusi darai ketidaktahuan pertama-tama manusia harus menelusuri pengertian tentang kenyataan. Dengan pengetahuannya tentang kenyataan ia akan menyadari hal-hal apa saja yang merupakan ilusi dan hal-hal apa saja yang merupakan kebaikan atau kebenaran.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour