Jangan Jadikan Orang Lain Patokan

Jangan Jadikan Orang Lain Patokan

Jangan Jadikan Standar Orang Lain Patokan. Pembahasan ini saya rasa cocok untuk masalah yang sering terjadi—yang kadang terjadi tanpa kita sadari.

Kita semua pasti sudah tidak asing dengan yang namanya insecure, kan? Nah, kita akan bahas hal itu dalam diskusi kali ini.

Berbicara soal standar, Allah Swt. itu sangat adil, Allah tahu segala hal yang tidak kita ketahui, Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, Allah lebih paham segalanya yang bahkan belum kita pahami.

Dengan merasa tidak bersyukur dengan diri sendiri, itu sama saja mengkufuri nikmat Allah. Setiap manusia memiliki porsinya masing-masing.

Ada dia yang tampan atau cantik tapi tak pandai baca Alquran; ada dia yang standar-standar saja tapi memiliki otak brilian; dan lain sebagainya.

Pada intinya, Allah Swt. tidak pernah melakukan hal yang ‘tidak adil’ terhadap kita—hamba-Nya. Terkadang, yang membuat Allah terkesan tidak adil itu kita, Allah itu bersama prasangka hamba-Nya, kalau kita berprasangka baik kepada Allah, insyaallah, Allah pun akan memberikan kebaikan terhadap kita, atas sebab itu, berbaik sangkalah kepada Allah.

Jangan apa-apa bilang Allah tidak adillah, inilah, itulah, dan lain sebagainya. Tapi, mensyukuri nikmat juga Allah bukan berarti harus pamer, ya.

Pokoknya, syukuri apa yang Allah beri, kenapa? Karena Allah tahu apa yang pantas kita dapati di dunia ini ataupun di akhirat nanti.

Tetaplah rendah hati, sebab kita ini hanya makhluk lemah. Kalau dianalogikan, masih ada langit di atas langit. Jadi apa yang mau kita banggakan sampai harus pamer?

Perihal standar orang lain. Kita tidak menjadi orang lain secara utuh. Kalau kita menjadikan orang lain pacuan untuk memperbaiki diri; mengikuti jejak kesuksesannya; itu, sih, tidak apa-apa.

Karena apa? Karena di dalamnya ada niat, ikhtiar, tawakal, dan pada akhirnya bisa menciptakan diri kita yang lebih baik.

Yang tidak boleh seperti apa? Yang tidak boleh adalah ingin menjadi orang lain karena kita tidak merasa puas dengan apa yang ada dalam diri kita, tidak puas dengan pemberian Allah, terus merasa iri dengan pencapaian orang lain, selalu merasa ingin menjadi yang terbaik, pada intinya ada niat-niat buruk baik secara tersirat atau tidak.

Kalau orang lain memilik mobil, atau apalah yang kiranya belum kita miliki, lalu tiba-tiba di dalam diri kita ini, ada perasaan, wah … dia, kok, bisa, sih, beli mobil, padahal, kan, bla … bla … bla …. Itu enggak baik.

Kalau memang saat melihat seseorang membeli sesuatu yang belum kita dapati; yang kita inginkan, coba membaca selawat, ucapkan doa-doa baik, dan yang paling penting adalah ikhtiar tentunya.

Kalau bicara doang, niat doang, apalagi sambil mengatakan hal-hal negatif, itu, sih, sia-sia. Justru malah menghadirkan kerugian, hati kita jadi berpenyakit, naudzubillahi min dzalik.

Kita tidak harus menjadikan standar orang lain patokan untuk diri kita. Kita bisa menjadi diri kita sendiri. Kita bisa mengembangkan hal yang memang … sudah menjadi basic kita.

Supaya mudah, saya beri analogi: baju yang bagus dikenakan orang lain, belum tentu bagus juga kita kenakan. Apa yang baik orang lain, belum tentu baik untuk kita.

Tapi, ya, menjadi diri sendiri juga bukan berarti dengan memelihara sifat buruk dengan embel-embel, ah, saya mau menjadi diri sendiri, jangan, ya. Itu sama saja mencari pembenaran dari kesalahan. 

Please, be smart. Zaman saja semakin berkembang, bukan? Jadi, kita juga harus lebih berkembang, baik dalam pola pikir ataupun apa yang kita lakukan. Jangan stuck di tempat, tanpa ada keinginan untuk memperbaiki diri.

Lalu tentang insecurity, ini tidak selalu buruk dan tidak selalu baik. Pembahasannya tidak jauh-jauh dengan apa yang saya katakan sebelumnya. Kalau insecure-nya sama anak kecil yang bisa menghafal Alquran lalu kita berkeinginan untuk mengikuti jejaknya, itu bagus banget malah.

Nah, jenis insecure yang merugikan, yang tidak baik untuk kita, yang bisa menimbulkan penyakit hati, adalah jenis insecure yang mana di dalamnya terdapat keinginan untuk lebih baik dari semua orang, selalu merasa sesak di atas kebahagiaan orang lain, selalu iri, dengki, hasud, hasad, segala macam dengan apa yang orang lain miliki.

Jadi, marilah kita lebih mensyukuri apa yang Allah beri. Teruslah perbaiki diri tanpa ada henti, perbaiki niat hanya karena Allah Ta’ala, bukan karena ingin dipuji atau ingin lebih super dari orang lain.

Orang lain tidak bisa menjadi patokan standar kita. Apa yang orang lain inginkan pun tidak selalu bisa kita realisasikan.

Kalau kita menjadikan standar orang lain patokan, maka siap-siaplah untuk sulit bahagia. Kenapa? Karena orang yang di dadanya tersulut bara iri, tak akan merasa damai, hidupnya senantiasa dihantui dengan perasaan iri.

Semoga saja, Allah Swt. memaafkan segala kesalahan kita, baik yang disengaja ataupun tanpa disengaja, yang kita sadari ataupun yang tidak kita sadari. Semoga saja pula, Allah Swt. melapangkan dada kita dan menjauhkan kita dari sifat-sifat tercela yang telah disebutkan. Aamiin.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Aidahlia