Jangan Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Jangan Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Salah satu anugerah indah yang bisa dimiliki oleh sepasang suami istri adalah seorang .

Kelahiran seorang tentu tidak bisa dipandang seagai pembuahan saja, namun juga sebagai titipan Tuhan yang harus dididik sebaik mungkin supaya mereka siap menjadi generasi penerus bangsa.

Maka dari itu, setiap wajib menghidupkan usia dini di rumah sebelum menyerahkan sang buah hati ke institusi lain ().

Namun, kian hari tak sedikit yang terburu-buru menyekolahkan anaknya yang masih di bawah usia 5 tahun.

Tindakan tersebut bisa terjadi karena beberapa masalah seperti kesibukan mencari uang, mengikuti tren, kebiasaan menyerahkan tangggung jawab kepada institusi  luar, dll. 

Maka tak heran kalau muncul - yang lebih banyak memperoleh dini dalam institusi formal dibandingkan di rumah.

Rumah pun yang seharusnya menjadi pertama bagi usia dini kini mulai dipersempit menjadi tempat memenuhi kebutuhan fisik keluarga saja.

Elly Risman sebagai psikolog pun menegaskan bahwa yang berusia di bawah 5 tahun masih butuh rangkulan yang intensif di rumah.

Sehingga para hendaknya fokus di rumah terlebih dahulu, apalagi umur 0 sampai 5 tahun merupakan golden age bagi sang buah hati.

Artinya selama lima tahun tersebut, otak dan fisik bertumbuh secara maksimal. Begitupun dengan kepribadian , seperti pola perilaku, sikap, dan ekspresi emosi akan berkembang dalam golden age.

Baca juga  Sudut Pandang Hukum Mengenai Kedudukan Seorang Anak

Dengan demikian, perlu menjadi pendamping utama anak selama masa golden age, sehingga tidak perlu terburu-buru menyerahkan anak ke playgroup, PAUD, dan lembaga lain yang sejenis.

Selain masalah golden age, dampak menyekolahkan anak terlalu dini terbukti menimbulkan dampak negatif yang signifikan.

Ibu Elly Risman pernah menyampaikan kutipan dari buku “The Disappearance of Childhood” karya Neil Postman yakni “Jangan kau cabut anak-anak dari dunianya terlalu cepat, karena kau akan mendapatkan orang dewasa yang kekanakan.”

Jika kita cermati pelan-pelan, kita mudah menjumpai tokoh-tokoh berumur dewasa namun berulah seperti anak kecil, mulai dari artis, komedian, sampai politikus.

Mungkin ada yang bertanya, “masa cuma gara-gara menyekolahkan anak terlalu dini masyarakat bisa rusak”? Berikut di bawah ini alasannya:

1. Terlalu Banyak Peraturan

Hidup memang tidak pernah terlepas dari peraturan, guna menciptakan ketenteraman dalam kehidupan dunia akhirat.

Namun banyaknya peraturan dalam kehidupan manusia pun tidak bisa langsung diterapkan sekalaigus, harus secara perlahan-lahan. Apalagi untuk anak usia dini.

Anak-anak hendaknya mulai menerapkan peraturan-peraturan yang mendasar dulu sebagai pemanasan, seperti adab membuang air, membersihkan gigi, cara berdoa, dsb.

Jika anak di bawah umur 5 tahun sudah disekolahkan, maka akan ada peraturan tambahan yang berpotensi menimbulkan stress.

Baca juga  Kisah-Kisah Horor Terabsurd di Sekolah Selama Pandemi

Waktu pengajaran peraturan mendasar kepada anak di rumah saja tidak singkat, sehingga penambahan peraturan akan menjadi beban mental.

Sebagai analogi, orang yang baru belajar menggambar baiknya menggambar yang sederhana dulu.

Kalau orang tersebut baru mulai belajar tapi sudah disuruh membuat gambar sketsa yang detail, tentu ia akan stress mengerjakannya dan kurang fokus mengaplikasikan ilmu-ilmu dasar menggambar dengan terburu-buru.

2. Konsep Bermain yang Kurang Cocok

Salah satu alasan yang mendorong masyarakat unutk menyekolahkan anak pada usia dini adalah dengan fasilitis bermain yang lengkap dan terstruktur.

Namun kita perlu bertanya kembali, apa betul anak memutuhkan alat permainan yang terstruktur? Elly Risman mengatakan tidak, karena anak usia dini cocoknya bermain dengan hal-hal sederhana di rumah.

Contohnya seperti menggunakan sarung untuk terbang, bisa juga menggerakkan karpet untuk dijadikan mobil-mobilan.

Terakhir, mainan yang tak kalah penting bagi anak usia dini adalah tubuh Ibu dan bapaknya.

Contohnya seperti bermain watak, bermain muka, petak umpat, dsb. Sebab permainan tubuh inilah yang akan menambah kelekatan antar anak dengan .

3. Alokasi Waktu yang Salah

Sebelumnya telah disebutkan bahwa masa anak-anak dari setiap manusia tidak boleh dicuri supaya kita tidak menemukan orang-orang dewasa yang kekanak-kanakan.

Lantas jika menyekolahkan anak sebelum umur 5 tahun, alokasi waktu yang seharusnya dihabiskan untuk mempererat batin anak dan orangtua akan berkurang.

Baca juga  Jangan Menyerah, Allah Always with You

Ingat, sebagus apapun dan fasilitas dalam , itu tidak bisa menggantikan dunia bermain anak-anak dengan dampingan orangtua.

Lalu bagaimana jika kedua orangtua harus bekerja di luar rumah? Pertama, Ayah sebagai kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarga.

Mau itu di dalam atau di luar rumah, menempuh perjalanan dekat atau jauh, yang pasti sang Ayah bertanggung jawab untuk mencari rezeki halal.

Bagaimana dengan Ibu yang bekerja? Boleh-boleh saja selama pekerjaan tersebut tidak menjadikan sang Ibu lalai dalam mengurusi anak.

Sebab ikatan batin antar ibu dan bayi harus dijaga sebaik mungkin, mulai dari menyusui, mengendong, menggantikan popok, dsb.

Jika sang ibu tidak sanggup, lebih baik fokus dulu menjadi ibu rumah tangga. Ingat, ibu rumah tangga juga merupakan profesi mulia meskipun tidak digaji seperti profesi lain.

Sang Ayah tentunya perlu sang anak juga saat sudah sampai di rumah.

Sekian argumen penulis untuk mendorong masyarakat supaya tidak menyekolahkan sang buah hati terlalu dini.

Para orangtua cukup fokus saja mendampingi anak dengan pendekatan emosional dan fisik.

Referensi

Suci. 2018. “Dampak Sekolahkan Anak Terlalu Dini By Elly Risman”, https://suciryzkyaputri.wordpress.com/2018/02/21/dampak-sekolahkan-anak-terlalu-dini-by-elly-risman/, diakses pada 17 Mei 2022.

Santi, Theresia. 2021. “Golden Age pada Anak dan Tahapan Pentingnya”, https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/golden-age-pada-anak-dan-tahapan-pentingnya, diakses pada 17 Mei 2022.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ami Pertiwi Suwito