Jejak Pers Bung Karno

Jejak Pers Bung Karno

Membaca biografi tokoh-tokoh bangsa, kita akan membaca sebuah rekam jejak . Dalam sejarah kehidupannya, para tokoh bangsa memiliki kesadaran akan pentingnya senjata untuk menyampaikan pemikiran.

telah menjadi strategi mendidik bangsa. Lewat , opini dibangun dan akhirnya menjadi arus perubahan. Lewat torehan , para tokoh bangsa juga merekam pemikiran dan mendokumentasikan peristiwa.

Dikatakan Soebagijo dalam Jagat Wartawan (1981), nasional semenjak lahir sepak terjangnya senantiasa sejalan atau paralel dengan perjuangan nasional itu sendiri. Setiap pemimpin pergerakan (dan agama) pada zaman penjajahan mempergunakan sebagai sarana penyampaian gagasan-gagasan serta alam pikirannya kepada pengikut masing-masing.

Begitu pula dengan (1901-1970). Beliau dikenal aktif dan produktif menggoreskan . selagi muda pernah membantu penerbitan dan menulis di di Surabaya yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto. Beliau mengaku tidak kurang dari 500 artikel ditulis di dan menggunakan nama samaran .

Baca juga  Ini Peciku, Mana Pecimu?

Nama samaran digunakan karena menurut beliau tidak mungkin duduk di bangku sekolah Belanda, tetapi menulis artikel yang mendorong pengusiran penjajah Belanda. Selain untuk menyembunyikan identitas diri dari pihak Belanda, nama samaran juga dimaksudkan agar tidak diketahui orangtuanya.

dalam : Penyambung Lidah Rakyat , autobiografi beliau yang dituturkan kepada Cindy Adams, berkata “Memang benar, mereka memiliki mimpi besar agar aku menjadi pemimpin dari rakyat, tetapi tidak dalam usia semuda itu! Tidak dalam usia yang begitu muda, yang akan membahayakan pendidikanku di masa mendatang. Bapak tentu akan marah sekali sehingga akan berusaha dengan berbagai cara untuk mencegahku menulis. Jadi aku tidak berani memberi tahu mereka, bahwa Karno kecil dan yang gagah berani adalah orang yang sama.”

Jejak Pers Bung Karno

Dari kegemaran membaca dan interaksi dengan tokoh-tokoh perjuangan lain, selagi muda telah resah dengan kondisi bangsanya. Tulisan-tulisan beliau dengan lantang menentang imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme. Ketika menjadi mahasiswa Technische Hoge School (THS) di Bandung, menopang penerbitan Sama Tengah. juga terlibat dan menulis di Fadjar Asia (Solichin Salam, 1984).

Baca juga  Cerita Berantakan tapi Laku Keras?

juga pernah menerbitkan yang langsung dipimpinnya, yakni Soeloeh Moeda, Persatoean , dan Fikiran Ra’jat. Soeloeh Moeda diterbitkan ketika membentuk Algemen Studie Club pada tahun 1926. Sedangkan Persatoean terbit tahun 1928 yang menjadi Partai Nasional (PNI).

Jejak Pers Bung Karno

pernah dipenjara Belanda tahun 1929 sampai tahun 1930. Keluar dari penjara tahun 1931, beliau bergabung dengan Partai (Partindo) dan pada tahun 1932 menerbitkan berjargon “Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe!”.

Banyak tulisan Bung Karno berserak di , termasuk di berhalulan Islam. Bung Karno diakui menyadari fungsi untuk menggerakkan spirit mencapai merdeka. digunakan beliau untuk membangun opini publik dalam upaya pengusiran kaum kolonial dan menumbuhkan kesadaran nasional.

Baca juga  Sastra Koran dan Sastra Cyber, Mana yang Paling Nyastra?

Dalam Di Bawah Bendera Revolusi yang terbit pertama kali pada 17 Agustus 1959, ada beberapa tulisan Bung Karno yang ditulis sejak tahun 1926 sampai tahun 1941. Judul ini memang usul dari Bung Karno sendiri. Dalam ini memang tidak mendokumentasikan seluruh karya beliau. Kerja keras panitia selama lima tahun mencari dan menemukan  tulisan Bung Karno sampai akhirnya tersusun tersebut tetap layak diapresiasi.

Jejak Pers Bung Karno

Apa yang dipaparkan di atas untuk mengenang Bung Karno; mengenang bapak bangsa dengan pemikiran besar sekaligus penulis dan pejuang saat memerdekakan bangsanya. Historia docet!

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi