Kado Terindah yang Tak Terduga


Kado Terindah yang Tak Terduga 1

Shinta, perempuan cantik dan baik hati. Dia juga sangat menuruti hal yang dikatakan orang tuanya. Di samping itu, dia juga sangat dekat dengan ayahnya. Ayahnya memang sangat memanjakan dirinya karena dia adalah anak satu – satunya. Serta, Ayahnya juga termasuk jarang di rumah karena harus bekerja di Padang. Sedangkan, rumah mereka di Pekanbaru. Hingga terkadang membuat Ibunya kesal, karena Shinta terlalu berlebihan dimanjakan.

Pernah suatu kejadian, di saat Shinta masih kelas 1 SD orang – orang sedang heboh dengan boneka beruang. Shinta ingin minta dibelikan kepada orang tuanya. Namun, dia sangat segan sekali karena boneka tersebut cukup mahal. Akhirnya, dia memutuskan untuk diam saja dan memandang orang – orang yang sedang asyik bermain dengan boneka beruangnya.

Tetapi, ketika sepupunya bernama Lina datang ke rumahnya untuk bermain. Betapa terkejutnya dia. Lina rupanya sudah mempunyai boneka beruang tersebut. Tentunya Shinta menjadi iri dan ingin sekali punya juga.

“Bu, itu Lina udah punya boneka beruang. Hmmm, Shinta mau juga Bu. Belikan dong Bu.” Ujar Shinta kepada Ibunya.

“Itu mahal Shinta. Lagian juga ngapain beli boneka itu? Tak ada gunanya nak. Kamu minta pun ke Ayah kamu, tak akan mau Ayah kamu belikan.” Balas Ibu.

Shinta semakin sedih dengan perkataan Ibunya tersebut. Lina memang sebenarnya tidak pelit meminjamkan bonekanya tersebut. Namun, begitu lah manusia tidak akan puas jika tidak memilikinya sendiri.

Hari pun terus berganti, Lina selalu saja bermain ke rumah Shinta dengan membawa boneka beruang tersebut. Namun, rupanya Ayahnya sering memerhatikan Shinta yang sedang bermain. Dia sangat sedih melihat anaknya tidak bisa memiliki boneka beruang tersebut. Di samping itu, Ayahnya juga tahu bahwa boneka tersebut memang lagi terkenal.

Keesokan harinya di hari Senin, Ayahnya Shinta berangkat ke Padang untuk bekerja dan biasanya di hari Sabtu dan Minggu Ayahnya pulang ke rumah untuk bertemu anak dan istrinya. 

“Shinta, mau titip apa nak?” Tanya Ayah kepada Shinta.

“Hmm, ndak ada yah.” Jawab Shinta lesu.

Padahal Shinta ingin sekali Ayahnya membelikan dirinya boneka beruang. Namun, dia sangat segan mengatakan hal itu. Jadi, dia hanya bisa diam saja dan menunggu saja apa yang akan dibawa Ayahnya dari Padang.

Tetapi, Ayahnya paham dengan apa yang diinginkan anaknya tersebut. Ayah rupanya diam – diam membelikan boneka beruang yang ukurannya lebih besar daripada punya Lina.

“Semoga Shinta suka. Ini cuman ni oleh – olehnya, cuman boneka beruang untuk Shinta. Ya udahlah.” Ujar Ayah di dalam hati.

Di hari Sabtu pagi, Ayahnya Shinta datang. Sedangkan Shinta masih tertidur, karena kebetulan hari Sabtu itu tanggal merah dan membuatnya setelah solat lanjut saja tidur. Ayahnya pun langsung meletakkan boneka beruang tersebut di dekat Shinta. Ayahnya langsung menjauhkan bantal guling yang dipeluk Shinta menjadi boneka beruang. Sontak, Shinta pun terbangun.

“Apa ini yah? Ini bukannya boneka Lina yah? Ayah jangan gitu, nanti Lina marah sama Shinta yah.”Ujar Shinta.

“Ndak, ini punya Shinta. Dah lanjut lah tidur.” Jawab Ayah.

Shinta sebenarnya belum terdasar betul. Namun, dia berusaha untuk melihat baik – baik boneka tersebut. Betapa terkejutnya dia, boneka tersebut memang bukanlah punya Lina. Apalagi boneka tersebut terlihat betul barunya, dengan masih ada harganya. Shinta pun kegirangan dan langsung keluar dan berterima kasih kepada Ayahnya.

Shinta sangat bahagia di pagi itu. Namun, dia juga tidak menyangka Ayahnya hanya membawa boneka beruang sebagai oleh – oleh. Biasanya Ayahnya membawa makanan ataupun minuman, ini tidak ada sama sekali. Hanya boneka beruang untuk dirinya.

Kini, Shinta sudah dewasa. Dia sekarang ini sedang berkuliah di Padang. Boneka beruang yang diberikan Ayahnya masih ada sampai sekarang ini. Namun, tidak dengan Ayahnya.

Ayahnya telah meninggal ketika dia kelas 1 SMA. Sedih, itu pasti. Mengingat Shinta sangat dekat sekali dengan Ayahnya. Apalagi ketika melihat boneka beruang pemberian Ayahnya. Semakin terasa kesedihan itu.

“Ayah. Terima kasih untuk semuanya. Tenang di sana Ayah.” Ujar Shinta. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap