Kaidah Fiqih Perspektif Fuqaha

Kaidah Fiqih Perspektif Fuqaha 1

Izzuddin Ibn Abdussalam menyatakan dalam kitabnya qawaid al-Ahkamfi Mashalih al-Anam bahwa seluruh kaidah fiqih sesungguhnya bermuara pada satu kaidah yang sangat penting sebagai fondasi dalam penalaran hukum islam yaitu kaidah dar’u al-mafasid wa jalb al-mashalih (menolak bahaya dan menarik kemaslahatan). Inilah yang oleh sebagian fuqaha disebut sebagai kaidah induk.

Ali Ahmad al-Nadawi dalam bukunya mengklasifikasikan bahwa kaidah fiqih dibagi menjadi dua macam jika dihubungkan dengan sumbernya. Pertama, kaidah-kaidah fiqih yang semula merupakan Hadis Nabi saw kemudian dijadikan sebagai kaidah fiqih oleh para fuqaha; misalnya, kaidah “la dharara wala dhirar, al-kharaj bi al-dhaman” dan lainnya, ketiga, kaidah-kaidah fiqih yang bentuknya berdasarkan petunjuk teks yang bersifat widespread yang mengandung illat.

Selanjutnya, jika dilihat dari aspek cakupannya, al-Nadawi mengklasifikasikan kaidah fiqih secara istilah sebagai berikut:

حكم ثرعي في قضية أغلبيةيتعرف منها أحكام مادخل تحتها

” Patokan hukum dalam aturan yang bersifat pada umumnya, yang mana dari aturan tersebut dapat diketahui hukum-hukum sesuatu yang berada dibawah cakupannya. ”

Al-Nadawi mengklasifikasi kaidah fiqih menjadi empat bagian; pertama, kaidah-kaidah fiqih yang cakupannya sangat luas karena masuk dalam berbagai bab dalam kajian fiqih. Kaidah ini oleh sebagian fuqaha disebut sebagai kaidah pokok yang terdiri dari lima kaidah dasar yang populer dengan sebutan “al-qawaid al-khams” atau”qawaid asasiyah kubra”. kedua, kaidah-kaidah fiwih yang termasuk kategori ini adalah mayoritas kaidah yang termuat dalam Kitab Mujallat al Ahkam al-Adliyah. ketiga, keidah-kaidah fiqih yang disepakati dalam mahzab tertentu saja, sedangkan mazhab lainnya tidak menyepakatinya. keempat, kaidah-kaidah fiqih yang tidak disepakati sekalipun dalam satu mazhab yang sama.

Dalam buku Qawaid al-Fiqh al-Islami, Abdul Aziz Muhammad Azzam mengklasifikasikan kaidah fiqih menjadi lima bagian:

1) Qawaid kuliyah kubra. Kaidah ini disepakati seluruh mazhab fiqih meskipun dalam tataran penerapan setiap mazhab memiliki porsinya yang berbeda-beda. Kaidah ini terdiri atas lima kaidah pokok yaitu: al-umuru bi maqashidia, al-yaqin layuzalu bi al-syak, al-dharar yuzal, al-masyaqqat tajlib at-taysir.

2) Qawaid kubra. cakupan dari kaidah-kaidah ini terhadap persoalan cabang fqih (furuiyyah) tidak sebanyak kaidah kulliyah kubra. Akan tetepi, kaidah ini juga sejatinya disepalati oleh berbagai mazhabfiqih karena banyak diantara kaidah-kaidah etrsebut merupakan kaidah cabang dari kaidah kulliyah kubra. Misalnya: I’mal al-kalam aula min ihmalihi (mengamalkan suatu redaksi kalimat lebih utama daripada mengabaikannya).

3) Qawaid ammah. Kaidah-kaidah ini secara substansif diperselisihkan eksistensi dan cakupannya dalam masalah cabang-cabang fiqihnya. Redaksi kaidah ini biasanya menggunakan redaksi pertanyaan (istifham). Misalnya, kaidah: al-dhannu hal yanqdhu bi al-dhann (apakah dugaan kuat dapat batal oleh dugaan kuat lainnya).

4) Qawaid khassah. Kaidah ini merupakan kaidah fiqih yang secara umum cakupannya bersifat khusus pada satu bab tertentu. Kaidah-kaidah fiqih ini merupakan kaidah yang disepakati fuqaha dan disimpulkan dari berbagai hukum-hukum yang saling menyerupai dari suatu bab fiqih tertentu. Kaidah ini juga sering kali disebut sebagai dhabith. Misalnya, kaidah kullu kafaratin sababuha ma’shiyah fahiya ala al-faur (setiap kafarat yang disebabkan perbuatan maksiat harus dilaksanakan secara segera).

5) Kaidah-kaidah fiqih yang cakupannya sempit terhadap persoalan furu’ (dhabit) yang diperselisihkan para fuqaha. Misalnya, kaidah tiap bagian shalat apakah berdiri sendiri atau keabsahan bgian pertama menunggu pada keabsahan bagian akhir?

Dari segi ashliyah (pokok) dan tabi’ah (cabang) kaidah fiqih dapat dibagi menjadi dua bagian: (1) kaidah ashliyah (pokok) yang oleh fuqaha disebut sebagai kaidah kulliyah, yaitu kaidah yang widespread yang beberapa kaidah lainnya menjadi bagian atau cabang darinya atau kaidah lain seperti kaidah “al-ashlu baqau makana ala makana” yang merupakan cabang dari kaidah pokok “al-yaqin la yuzalu bi al-syak” sebagai qayd (batasan) dari kaidah lain, misalnya kaidah “al-dharar la yuzalu bi al-dharar” yang menjadi qayd bagi kaidah pokok “al-dharar yuzal”.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

aidah khalisha