Karya Sastra Membungkus Sastra & Bahasa: Perbedaan Keduanya

Karya Sastra Membungkus Sastra & Bahasa: Perbedaan Keduanya 1

Adanya sastra dan bahasa berawal dari kebutuhan manusia untuk bersosialisasi. Bahasa digunakan sebagai sistem komunikasi. Kosakata dari setiap ujaran yang dihasilkan mengandung makna yang telah disepakati bersama. Dari ragam bahasa yang tersebar, timbullah sastra yang merupakan mahakarya hasil pemikiran pengarang yang mengandung makna mendalam mengenai kehidupan.

Sastra merupakan turunan dari bahasa dan seni. Dari konsep tersebut, maka penulis merasa tidak sesuai jika sastra dan bahasa masih ditafsirkan dengan definisi serupa. Konsep berpikir antara sastra dan bahasa tentu jelas berbeda. Sastra yang multitafsir, sedangkan bahasa memiliki makna tunggal. Walaupun setiap kosakata dalam bahasa ada yang memiliki makna konotatif, denotatif, dan sebagainya namun setiap kosakata hanya akan memiliki satu makna jika dikaitkan dengan suatu konteks tertentu. Selain itu, makna dalam bahasa telah disepakati bersama sehingga untuk menangkap maksud dari bahasa akan lebih mudah. Lain halnya dengan sastra yang akan sangat kompleks jika dilihat dari pemaknaannya.

Penuangan sastra dan bahasa dilakukan dengan melakukan ekspresi yang bertujuan agar dapat dinikmati orang lain. Sastra dan bahasa dituang ke dalam media sehingga menghasilkan sesuatu yang disebut sebagai karya. Untuk membedakan dengan karya-karya yang lain, maka digunakan istilah karya sastra. Karya Sastra ialah Ciptaan yang disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya sastra merupakan bentuk karya yang sangat indah baik secara lisan atau tulisan. Karya sastra berperan menjaga sastra dan bahasa, hal ini dikarenakan karya sastra memuat dan mengangkat eksistensi sastra dan bahasa sehingga bisa dikenali dan dipelajari oleh pembaca.

Memaknai karya sastra bukan hal yang sederhana, namun tidak akan sulit jika sudah mengetahui definisi dasar dari pembentuk karya sastra tersebut, yakni sastra dan bahasa.

Definisi Sastra dan Bahasa

Karya sastra menjadi bukti bahwa ada hasil dari proses berpikir seseorang. Seseorang yang memiliki ide, gagasan, pendapat, perasaan, dan sebagainya harus menuangkan isi pemikirannya melalui aktifitas. Entah itu berbicara, menulis, maupun memproduksi suatu benda. Jika ide hanya berada dalam pikiran, maka manfaat dari ide tersebut tidak dapat dirasakan. Oleh karena itu, karya sastra hadir untuk menyebarkan manfaat dan berbagi wawasan juga pengalaman tentang dunia dan kehidupan di dalamnya.

Dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra karya A. Teeuw, kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sanskerta; akar kata shas-, dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi’. Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Oleh karena itu, sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, atau pengajaran.

Sebenarnya jika berbicara definisi sastra, istilah tersebut akan mendapat definisi berbeda bagi setiap orang yang berinteraksi dengan karya sastra. Namun agar sastra tetap pada koridor yang sudah ada, maka sejumlah tokoh memberikan definisi untuk membatasi cakupan sastra itu sendiri. Definisi sastra secara histrotik dalam buku Teori Sastra yang ditulis oleh Jan Van Luxemburg, dkk. sastra yang berlaku pada zaman Romantik merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, dan bukan semata-mata sebuah imitasi. Sastra merupakan suatu luapan emosi yang spontan. Menurut Plato, seorang filsuf asal Yunani, sastra adalah hasil gambaran atau peniruan dari suatu kenyataan atau disebut mimesis. Menurut Plato, sebuah karya sastra mesti mewujudkan peneladanan alam semesta dan juga model kenyataan. Menurut Sapardi Djoko Damono, sastrawan Indonesia, beliau berpendapat bahwa sastra merupakan sebuah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra menampilkan gambaran kehidupan yang merupakan bagian dari suatu kenyataan sosial.

Maka Penulis merangkun definisi sastra dari berbagai sumber dan pandangan, yaitu sastra adalah ungkapan perasaan, pengalaman, dan pemikiran seseorang yang dibuktikan melalui lisan maupun tulisan sehingga menghadirkan manfaat baik bagi pencipta maupun penikmat. Namun secara hakiki, sastra tidak memiliki definisi pakem sebagaimana ilmu sains. Sastra merupakan bagian dari seni yang mengandung penafsiran berdasarkan penikmat sastra itu sendiri. Siapapun bebas menafsirkan makna dari sastra, maka tidak heran jika definisi sastra berkembang seiring perkembangan zaman.

Maka jika sastra memiliki definisi yang tidak terikat, lain halnya dengan bahasa yang memiliki definisi yang telah disepakati oleh para ahli. Menurut Harimurti Kridalaksana dalam buku Pesona Bahasa, bahasa ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa adalah sebuah sistem yang seolah diatur seperti pola-pola yang kemudian diulang-ulang sehingga menimbulkan konsep makna. Selain itu, bahasa adalah sistem tanda yang mana setiap tanda yang muncul akan mewakili sesuatu atau menimbulkan reaksi yang sama bila orang menanggapi.  Bahasa juga disebut sebagai sistem bunyi dan bersifat produktif. Maka bahasa akan bertambah khazanahnya seiring perkembangan zaman. Menurut KBBI Daring, bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Dengan demikian, bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan bersosialisasi antar sesama manusia. Bahasa dengan segala ciri-cirinya menjadi penunjuk bahwa antara sastra dengan bahasa memiliki definisi masing-masing.

Apa perbedaan bahasa dan sastra?           

kumpulan buku
kumpulan buku

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa sastra dan bahasa adalah dua unsur yang akan selalu disandingkan dan berkaitan satu dengan yang lain. Namun demikian, ada perbedaan antara bahasa dan sastra yang harus dipahami. Sastra lebih mencakup berbagai penggunaan bahasa di setiap perjalanannya. Sedangkan bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi yang terlepas dari suatu aturan apapun. Sastra bersifat bebas dan estetis, sedangkan bahasa sifatnya terikat dan sudah memiliki kesepakatan di setiap penggunaan bahasanya.

Contohnya ketika berada di forum ilmiah, maka yang digunakan adalah bahasa indonesia yang baik, baku, sesuai dengan pemikiran audiens dan tidak mengandung makna ganda atau ambigu, tetapi sastra tidak dapat digunakan dalam forum ilmiah karena sastra memiliki makna ambigu yang tidak dapat dimaknai hanya dengan satu persepsi saja. Sastra memiliki ciri yaitu  dari segi isi, sastra menyajikan penggambaran soal kehidupan dan segala problematikanya dengan nunasa estetik namun sarat akan makna, sedangkan bahasa merupakan alat berkomunikasi yang maknanya harus tersampaikan dengan jelas sehingga pesan yang dituju dapat tercapai.

Sastra dan bahasa dapat dianalogikan sebagai alat dan bahan untuk menciptakan suatu karya. Sastra dianalogikan sebuah alat yang berfungsi sebagai pembentuk kerangka berpikir sedangkan bahasa dianalogikan dengan bahan yaitu menjadi acuan atau hal pokok yang mesti ada untuk menghasilkan suatu karya. Alat tanpa bahan, tentu tidak dapat menghasilkan produk apapun namun bahan tanpa alat masih dapat menjadi sebuah produk. Maka Sastra tanpa bahasa tidak mungkin dapat menghasilkan karya, namun bahasa tanpa sastra masih dapat menjadi suatu karya tetapi bentuknya tidak akan seteratur jika diolah menggunakan alat, yaitu sastra. Itulah hubungan antara sastra dan bahasa, keduanya tidak dapat dilepas satu dengan yang lain.

Sastra dan bahasa memiliki kesatuan. Sastra adalah bagian kebudayaan yang keberadaannya didukung oleh dua unsur universal kebudayaan, yakni bahasa dan seni. Dengan bahasa, sastra itu hadir dan terbaca oleh khalayak yang memerlukannya. Melalui seni, sastra mengusung nilai-nilai keindahan yang menjadikan kehidupan lebih bermakna dan lebih beradab.

Karya sastra adalah media berpendapat dan bersekspresi. Dengan membaca karya sastra, wawasan mengenai kebahasaan dan segala hal mencakup kehidupan akan terus bertambah dan berkembang sehingga pembaca dan penikmat sastra dapat menjadi manusia yang bijaksana. Sastra dan bahasa harus dijaga dan dilestarikan karena kedua aspek tersebut merupakan hal terpenting untuk menjalin hubungan sosial, politik, dan segala aspek kehidupan lainnya. Walaupun setiap hari kita berbahasa, namun itu saja tidak cukup. Eksistensi bahasa harus dijaga dengan aktifitas bersastra. Bersastra tidak memandang usia, semua dapat menyelami karya sastra dengan penafsiran dan pemaknaan pribadi..

Karya sastra bermula dari penghayatan seorang pengarang mengenai kehidupan, oleh karena itu rasanya kita mesti menyelami karya sastra untuk memaknai kehidupan. Manusia yang bijaksana adalah manusia yang telah mampu menyelami pengalaman dengan pengetahuan, wawasan, dan kebesaran hati yang dimilikinya. Ketiga aspek tersebut dapat dicapai salah satunya melalui membaca karya sastra.

Daftar Pustaka

  • Jan Van Luxemburg, M. B. (1991). Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa .
  • Kushartanti, U. Y. (2009). PESONA BAHASA: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.  
  • Teeuw, A. (2013). Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: PT. Dunia Pustaka Jaya.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Noviyanti Urfah