Katanya, Berpura-pura bahagia itu Melelahkan? Coba, “Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah”

Katanya, Berpura-pura bahagia itu Melelahkan? Coba, "Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah"

“Saya melihatmu melamun lebih sering sejak kemarin pagi, bukan hanya wajahmu yang tertunduk, tapi bayanganmu ikut membungkuk rendah sekali…Bagaimana dengan kabar hari ini?…” -Munita Yeni, 2018-

Penggalan kalimat pembuka yang cukup menyentak. Lebih kepada menggetarkan perasaan pembaca.

Mungkin kalimatnya sederhana,  pun topik yang dipertanyakan sungguh biasa. Namun, bagi beberapa dari kita, tentu akan tersenyum lega begitu membacanya.

Buku ini unik, sangat unik, didalamnya kita menemukan diri kita sebagai manusia saat ini.

Beberapa bahasan yang diangkat benar-benar “aku dan pikiranku saat ini”.

Beberapa bahasan lainnya dituliskan untuk memahami dengan benar “bagaimana harusnya aku, memulai dari sekarang”.

Pada bagian-bagian awal, mungkin kita merasa “buku apa ini,..” atau “yah, ga menarik, bahas apa sih?” atau bahkan, “ini apa? Katanya disuruh baca kalau lelah, ini malah makin dibaca makin lelah…” atau ungkapan lainnya, karena memang jujur saja diawal cukup sulit menangkap kemana arah bahasan dibawa.

Padahal, jika saja kita mau sedikit bersabar, pada lembaran keberapa barulah terungkap maknanya.  

Baca juga  Canggih! 4 Cara Bahagia Ala Filsafat Teras Yang Harus Kamu Ketahui
Sumber : penggalan dari buku
Sumber : penggalan dari buku “Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah”

Diawal bacaan, diceritakan tentang bagaimana setiap kita seringkali lelah dengan pengharapan terhadap kenyataan.

Padahal, disadari atau tidak kenyataan itu terlampau sering menghianati harapan.

Akibatnya, setiap kita meninggalkan kenyataan tersebut, lalu membuat kenyataan dalam imajinasi planet lain yang di buat sendiri dalam pikiran, alhasil karena merasa nyaman dalam planet pikiran yang dibuat, semua harapan menjadi seolah terlihat nyata, Ia pun merasa ketagihan hingga pada titik melupakan planet kehidupan yang nyata dijalani, untuk planet lain yang sekedar imajinasi saja.

Masuk ke halaman berikutnya, disana ditunjukkan bagaiman lelahnya setiap kita yang terus berfikir “makna ideal.”

Bagaimana seharusnya membangun “aku yang ideal” agar sesuai dengan pandangan umum dan masyarakat serta lingkungan tempat bertumbuh.

Membuat kita tak puas pada setiap apa yang ada padanya, merendahkan bentuk penciptaannya meski dirinyalah sebaik-baik bentuk, hingga pada mengutuk segala kurangnya dan berlagak buta pada lebihnya.

Lalu membawanya masuk kepada bagian menyalahkan diri sendiri dan membenci keberadaannya.

Bukankah hal itu membuatmu lelah?

Baca juga  11 Tips Membina Hubungan yang Baik dengan Pasangan

Pada halaman yang lebih jauh, dijelaskan bagaimana buruknya sikap kita terhadap diri kita sendiri, pura-pura bahagia padahal sedang asyik menghardik penuh kebencian pada diri dengan terselubung.

Hingga pada halaman sekian, semua rasa lelah dan kepura-puraan itu diterjemahkan dengan bagaimana seharusnya sikap melelahkan tadi diredam. Pada halaman keberapa dituliskan,

“Tetaplah bernafas meskipun sulit..” — Munita Yeni, 2018

Sederhanya, jangan sampai kita melakukan setiap hal apapun itu, untuk mendapat pengakuan di mata orang lain bahkan sekalipun dia adalah orang terpenting bagi kita.

Akan sangat melegakan ketika setiap hal apapun itu, memang kita lakukan samata-mata untuk pengakuan diri dan persembahan kita kepada Yang Maha Menguasai Segalanya…

Mengutip dari buku yang sama, “Bangunlah, kutiplah kepingan-kepingan gelas lalu satukan.

Siapa lagi yang mempu melakukannya jika itu bukan diri kita sendiri? Bangun dan kembalilah kepada diri kita sendiri, jangan membiarkannya sendirian memikul beban, sudah cukup kita membentak dan menyalahkannya.

Adalah tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, apalagi menumbuhkan gairah hidup diri sendiri.

Baca juga  5 Tips Kembali Bahagia Saat Sedih Melanda

Pernahkan melihat seseorang yang membawa ember besar terisi air hingga penuh dengan sebelah tangannya? Perhatikannlah bagaimana Ia berjalan.

Bisakah dia berjalan tegap dan anggun? Bukankah Ia hanya mampu berjalan dengan perlahan disertai tubuh miring kearah sisi ember yang berat? Begitu halnyalah dengan mencintai diri sendiri, ketika  lingkungan dan orang-orang  disekitar kita menuangkan air kedalam ember kita agar lebih berat sehingga kita berjalan lambat, maka jangan ikut menuangkan air di ember itu.

”Jika orang lain tidak pernah berterima kasih kepada kita, maka ucapkanlah terima kasih kepada diri kita. Jika orang lain tidak pernah meminta maaf kepada diri kita, maka maafkanlah diri kita.Munita Yeni, 2018

Perlahan-lahan isi air itu akan berkurang dan kita akan lebih cepat melangkah dengan ringan dan sampai tujuan dengan cepat. Sekali lagi, “Tetaplah bernafas meskipun sulit”.  

Referensi

Yeni, M. (2018).Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah. Yogyakarta: Psikologi Corner.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Anita Kemala Firdausyia