Kebahagiaan Terbenam di Pesisir Utara


Kebahagiaan Terbenam di Pesisir Utara 1

Terbit matahari memaksa aku untuk segera bangun, mengumpulkan nyawa dalam keheningan pagi setelah terjaga semalaman. Berjalannya waktu pun tak terasa telah menyengatkan tubuh untuk melakukan kegiatan. Wacana pun sudah dipersiapkan, hanya menunggu eksekusi. Terang matahari pun terkadang tak mendukung, meski suasana hati sedang bergelora. 

Kala itu, cuaca pun sedang cerah layaknya tersenyum kepadaku, suasana saat itu telah memberikan suatu pencerahan untuk melakukan perjalanan. Adanya ajakan untuk pergi ke suatu tempat pun aku setujui, begitu menyenangkan sekali rasanya. Ajakan tersebut membawaku ke suatu tempat yang membuatku bertemu dengan suasana baru dan pencerahan. Ketidaksabaranku telah diuji untuk menunggu hari itu. 

Pukul sembilan pagi telah mencerahkan suasana hatiku, menunggu kejutan yang diberikan selama perjalanan, segala keindahan dari arti perjalanan pun segera terjelaskan. Mengenakan kaos hitam dan celana jeans di bawah teriknya matahari pagi, berkumpul dengan kawan untuk menyatukan arah dan tujuan. Setelah bertukar pikiran, perjalanan pun dimulai dengan mengendarai sepeda motor. 

Putihnya warna sepeda motor mulai ternodai dengan debu dan tanah, laju kecepatan motor itu layaknya sebuah roket, mengelilingi ibu kota dalam kesendirian. Melewati berbagai jenis jalanan yang begitu menantang dengan suasana lalu lintas yang ramai. Waktu dan semesta pun mendukung dalam melakukan perjalanan ini, terlihat begitu menyenangkannya selama perjalanan. 

Canda tawa dalam perjalanan pun terlihat dari raut wajah kawanku, tanpa mengurangi kebahagiaan, mereka pun mengabadikan momen ini dalam kamera mereka karena di dunia ini tidak ada yang abadi, keabadian hanyalah berbentuk kenangan. Selama perjalanan pun, tidak pernah terpikirkan tentang apa yang akan datang selama perjalanan ini. Ketenangan pun menghampiriku pada saat mengendarai sepeda motor.

Motor saling menyalip layaknya kusutnya lilitan kabel, saling memperebutkan posisi yang pasti demi kelajuan, warna-warni helm yang dikenakan, suara dan intonasi dari knalpot yang digunakan pun telah memberikan warna tersendiri. Kegigihan pengendara pun menggambarkan kerasnya hidup di ibu kota. Menyusuri pasar minggu yang kacau memberikan kesan tersendiri.

Menggulung dari Margonda hingga pasar minggu terasa cepat dan keramaian pun masih berdatangan amat cepat. Penuhnya jalur yang terisi oleh motor dan mobil mulai bergerak amat cepat dan penuh dengan kejutan lalu lintas. Warna hijau dari ojek online pun mulai memenuhi jalanan ibu kota. meski begitu, semuanya terasa harmonis saat menunggu pesanan dari pihak penumpang. 

Sinar matahari pun mulai menyingsing, rasa lelah pun mulai terasa, istirahat rupanya langkah yang cocok demi melakukan perjalanan yang jauh. Pom bensin pun memberikan kami kesempatan untuk beristirahat. Jarak yang dilalui pun tak terasa jauh, namun tujuan yang ingin dicapai masih jauh. Memulai kembali perjalanan dengan melaju begitu cepat, waktu pun turut berjalan amat cepat.

Arah pusat kami lalui dengan mengitari Bundaran HI selama lebih dari sekali, cara ini dilakukan untuk menyembuhkan rasa kangen dengan ibu kota. Namun, kesalahan komunikasi pun terjadi akibat dari terpisahnya pada saat melakukan perjalanan. Terpencar membuat bingung satu sama lain, rasa ingin mencari pun meningkat. Kegelisahan hampir menutup perjalanan ini, namun hal itu tidak menghentikan kita.

Perjalanan tak terasa membosankan karena aku terngiang-ngiang sebuah lagu yang berjudul “Timur” dari band kenamaan asal Jakarta, yakni The Adams. Timur merupakan simbol kegalauanku selama perjalanan, rasa keluh kesah dan amarah pun perlahan menghilang, segala egoku telah memberikan sebuah pelajaran yang terpenting. Kejenuhan perlahan memberikanku sebuah ide untuk menulis.

Setelah melakukan perjalanan yang begitu lama, hutan mangrove pun merupakan tujuan pertama dalam perjalanan ini. Rindangnya pepohonan dan jembatan bambu mengitari kawasan itu. Keindahan dari kombinasi hutan dan danau telah mengubah esensi tempat itu, dari kawasan konservasi menjadi tempat wisata. Tidak lupa juga untuk mengabadikan momen bersama di kawasan ini dengan berbagai gaya yang dilakukan.

Kupercaya keindahan dari hutan mangrove merupakan suatu anugerah dari alam semesta yang patut untuk disyukuri. Keheningan dari kawasan itu telah menghasilkan oksigen yang segar untuk pikiran dan jiwa. Keramahan yang dirasakan saat kami datang, rasanya ingin tidak segera pergi amat cepat. Sungguh, tempat itu memberikan kesan yang begitu mendalam bagi hubungan pertemanan kami. 

Setelah hutan pun, pesisir pantai kami jalani. Bergerak tidak jauh menuju kawasan pesisir pantai untuk menikmati terbenamnya matahari. Tentunya saat-saat terbenam sangat cocok untuk mengabadikan kenangan. Sebuah momen langka yang pernah hadir dalam kehidupan, kami pun menginginkan momen ini kembali terulang. Angin yang berhembus kencang, mengusutkan rambut selama senja berlangsung. 

Terkadang, pergumulan sudah memenuhi isi pikiran dan perasaan, ketakutan akan masa depan selalu menghantui kehidupan, namun pada momen ini keindahan dan kebahagiaan telah menutup segala permasalahan tersebut. Rasanya kami dibiarkan untuk menikmati kehidupan. Hari itu, terbenamnya matahari memberikan rasa yang berbeda dari sebelumnya. 

Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, dari Selatan hingga Utara, Pinggir kota hingga pesisir pantai telah dilalui di hari itu. Perjalanan yang membutuhkan energi yang besar, namun setara dengan pemandangan dan kebahagiaan yang diberikan. Kebersamaan yang tak pernah  terganti merupakan momen yang langka bagi kami, kesibukan perlahan telah menjauhi kami dengan yang lain. 

Waktu yang berharga patut untuk dikorbankan demi kebersamaan. Kisruh ibu kota terkadang memberikan kegelisahan yang aneh. Waktu akan menyembuhkan segala permasalahan yang ada di dalam diri, meski semuanya memiliki rasa ego yang tinggi. Perasaan rindu yang tak terbendung meski memiliki kesibukan patut untuk dikeluarkan dengan perjalanan seperti ini. Semoga kalian juga mengalami hal yang sama.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dyingwitness

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap