Kebahagiaan yang Dirasakan Melalui Tragedi


Kebahagiaan yang Dirasakan Melalui Tragedi 1

Tragedi dalam kehidupan selalu datang diwaktu yang mendadak, kejutan yang dihadirkan untuk membimbing insan untuk menyaksikan realita yang tidak selalu memberikan kebahagiaan. Jeritan dari angan-angan selalu hadir dalam gelap malam, tak selalu terang menghampiri hati. Curahan hati pun dilantunkan dalam doa, kekecewaan sudah menyayat hati layaknya sebuah pisau. 

Imajinasi yang dilukiskan dalam angan selalu memunculkan serpihan masa lalu yang menghadirkan emosi. Bila teringat secuil tragedi, maka yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan sebagai pelajaran. Mengingat tragedi dapat mengakibatkan luka lama kembali terbuka, menjilat pahitnya kehidupan pun dilakukan lagi. Tertunduk lesu di sudut kamar yang disaksikan oleh lemari dan kasur.

 Menyusun bagian-bagian dari patahnya harapan pun dilakukan demi memulai hari yang baru. Berharap di hari ini kesedihan tidak mengunjungi diri. Payung kebahagiaan melindungi dari lebatnya kesedihan yang membanjiri perasaan, hasrat pengharapan menguatkan diri dalam melakukan kegiatan di hari yang cerah. Keyakinan terpancarkan dalam segala omongan yang dilantunkan dalam pembicaraan. 

Bila membayangkan tragedi kehidupan, tentunya selalu berkaitan dengan kejadian atau kenangan yang membahagiakan dan menyedihkan. Terkadang sebuah kekuatan dalam diri tidak mampu mengingat tragedi yang pernah dialami, membutuhkan pikiran yang terbuka agar tidak mengalami kembali kesedihan di masa itu. Membutuhkan orang lain untuk mencari perspektif baru sangat dibutuhkan dalam memperbaiki diri. 

Teringat masa itu, sebuah tragedi dapat mengubah hidup seseorang, mengubah keceriaan menjadi kesedihan dalam waktu yang sekejap. Setiap senyuman memberikan makna yang besar, namun apabila terjadi kemurungan yang diungkapkan lewat raut wajah, pasti terjadi sesuatu yang memberikan pengaruh begitu besar. Ketidakpastian selalu menghampiri dalam proses kehidupan. 

Seketika tragedi dapat mengubah arti kehidupan yang sesungguhnya, pikiran pun terjerumus dalam sebuah kotak ketidakpastian. Ruang lingkup yang selalu menyetujui untuk bersedih, depresi yang menyerang secara brutal. Kegelisahan mengubah pola pikir dalam melakukan sesuatu, tak hentinya khawatir yang dirasakan selalu meneror untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Trauma yang dirasakan dapat menghentikan kemajuan dari kehidupan seseorang, langkah yang penuh keberanian pun terhentikan begitu saja, mengingat kesalahan yang pernah dilakukan. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk melangkah maju melewati tragedi yang pernah dilalui. Ketakutan terhadap masa lalu yang mempengaruhi masa depan akan selalu menghantui diri manusia. 

Remehnya manusia dalam menerima kesempatan dari kehidupan terlihat dalam mereka memperlakukan hidup mereka sendiri. Kurangnya bersyukur atas pemberian nafas hidup pun dilakukan demi kesenangan yang sementara, memang di dunia ini tidak ada yang abadi. Manusia selalu mengeluh atas kesulitan yang mereka hadapi, sepertinya mereka telah mengalami kejemuan.

Mengabdikan hidup dalam rutinitas yang perlahan menghilangkan jiwa dari bumi, selalu berharap pada upah yang tak seberapa. Bila hidup ini penuh dengan canda tawa, lalu mengapa manusia lebih memilih membunuh diri sendiri? Sepertinya tragedi tidak membawa manusia untuk mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya. Tidak ada sebuah tantangan yang melebihi kemampuan manusia, hanyalah diri ini yang membatasi kemampuan. 

Membangun kehidupan layaknya membangun piramida, rela diperbudak demi kekayaan yang sementara. Kehidupan tak selalu berjalan dengan mulus, namun penuh dengan tragedi yang merisaukan. Ironisnya melihat manusia tertunduk di bawah ketiak penguasa. Penguasa yang memiliki seluruh dunia menarik perhatian manusia untuk mencapai segala keinginannya. Namun, tragedi yang datang secara mengejutkan dapat menghentikan keinginan manusia. 

Keinginan manusia yang tak terkendali memberikan rasa ketidakpuasan dalam memiliki sesuatu. Kemunculan perasaan egois yang memfasilitasi usaha manusia untuk mendapatkan keinginan. Terbutakan oleh persaingan dalam diri untuk mencapai sesuatu, melupakan nalar dan melupakan nasihat. Apabila terjadi tragedi yang mengejutkan, perjuangan hanyalah sebuah usaha yang sia-sia. 

Kekecewaan hadir dalam hati apabila usaha yang dilakukan gagal di tengah jalan, inilah sebuah kenyataan yang pahit dalam hidup. Mengurung diri dan memulai menyalahkan diri sendiri pun dilakukan demi penyesalan yang tiada akhir. Setiap ucapan yang melambangkan kekecewaan pun terdengar dalam hatinya, menyalahkan dunia dan semesta atas tragedi yang terjadi dalam hidupnya. 

Mata yang peluh dan asin, perlahan jiwa terhapus angin, air mata yang bercucuran hanya bisa menyesal dalam hati. Amarah yang terpendam pun segera dilepaskan, rasa lega pun jadi penghargaan atas penyesalan yang dilaluinya. Pengkhianatan dijadikan makanan sehari-hari. Mati rasa yang dirasakan pada saat berhubungan dengan orang baru, munculnya spekulasi yang negatif. 

Kala itu, petang hari telah menemani, terik panas telah digantikan dengan gerimis yang merusuh. Munculnya dilema dalam melanjutkan perjalanan pun memberikan keraguan yang membawa ke dalam penyesalan. Seketika angin pun mengajak ribut, menghalang pemandangan mata dalam perjalanan, kekuatan angin menaklukan beberapa pohon dalam waktu yang bersamaan. 

Saat itu berteduh adalah pilihan yang tepat, demi menyelamatkan diri dari marabahaya. Kebodohan dalam pengambilan keputusan pun dirasakan, rasa ini berubah menjadi penyesalan. Air hujan yang membasahi diri ini tak cukup untuk menutup rasa penyesalan, Penyesalan membawa perasaan untuk kembali pulang kerumah. Namun, apa daya perjalanan sudah setengah jalan. 

Sembari mengeringkan diri, terlintas dalam pikiran sebuah penyesalan yang mulai mempertanyakan keputusan saat itu, perasaan bersalah yang membawakan maut mulai menyalahkan diri sendiri. Keraguan pun mempengaruhi jalan pikiran disaat bertemu dengan kawan di sebuah kafe. Namun, kembali teringat untuk menenangkan diri dalam memutuskan sesuatu. 

Reda hujan mulai terasa, kembali memulai perjalanan pun dilakukan. Kemacetan pun terlihat akibat pohon tumbang. Penuhnya mobil dan motor yang ingin untuk memutar balik demi mencari jalan yang lancar pun dilakukan, masyarakat yang saling bergotong royong untuk membuka jalan demi kelancaran raya. Tragedi membuahkan hasil yang mengademkan hati, tidak hanya merasakan pedihnya kehujanan. 

Bila membayangkan tragedi hanyalah kesulitan, selama ini pandangan kita salah. Tragedi memberikan arti penting dalam kehidupan, rasanya terdapat pelangi sehabis hujan itu benar adanya. Tidak semua hal dari tragedi bersifat penderitaan, kebahagiaan pun dapat dirasakan apabila kita siap untuk menghadapi dan menerimanya sebagai pelajaran. Buat tragedi menjadi batu loncatan dalam kehidupan. 

Melangkah lebih tinggi berawal dari menerima tragedi sebagai ujian semata, keberanian akan muncul dalam menghadapi tragedi. Terang akan menghampiri sehabis kegelapan yang membutakan mata, segala jawaban akan terlaksanakan setelah terbisu dalam permasalahan yang memenuhi pikiran. Tragedi memberikan kekuatan dalam diri, terkadang pengorbanan dibutuhkan dalam kehidupan ini. Masalahnya, apakah anda rela untuk berkorban demi kehidupan anda?


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dyingwitness

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap