Kebingungan dari Seorang Pemuda


Kebingungan dari Seorang Pemuda 1

Kebingungan terpancar dari wajah seorang pemuda. Pemuda itu merupakan pekerja kantoran di kota tersebut. Dalam pikirannya terus bertanya-tanya. Kemanakah yang setiap hari dilihatnya di halaman toko sebelah kantornya? Sekitar 2 menit dia tidak bergeming dan terus memandangi halaman toko itu.

Terdengar klakson dari motor lainnya membuat pemuda tersebut tersentak dari lamunannya. Pemuda tersebut kemudian membelokkan motor bebek kesayangannya ke dalam kantor sambil terus melirik ke halaman toko tersebut. Dia masih penasaran kemanakah yang setiap hari dilihatnya.

Sambil memarkirkan motornya, pemuda tersebut kembali memikirkan kemana yang setiap hari yang dilihatnya di depan toko tersebut. Kemudian dia berjalan dari parkiran menuju masuk ke dalam kantor. Pemuda ini berpapasan dengan temannya ketika dia baru sebentar berjalan. Sambil menyapa, dia bertanya perihal kebingungannya di pagi ini.

“Halo selamat pagi. Bagaimana kabarnya hari ini?” sapa pemuda tersebut.

“Baik. Kamu bagaimana kabarnya hari ini. Terlihat seperti lesu dan kebingungan?” jawab temannya.

“Oh, aku juga baik kok keadaannya. Hanya agak bingung sedikit.” Dia mulai berkata soal kebingungannya.

“Loh pagi-pagi sudah bingung. Bagaimana kamu ini?” jawab temannya.

“Namanya orang bingung kan gak mengenal jam mas.” Kata pemuda tersebut.

“Oh iya juga ya. Kenapa kamu bingung mas? Masalah pekerjaan yang membuat kamu bingung?” tanya temannya.

“Tidak mas.” Jawabnya dengan singkat.

“Terus tentang apa?” tanya temannya lagi.

“Tidak terlalu penting sih mas masalah kebingunganku ini.” Dia berpikir untuk tidak membicarakan kebingungannya kepada temannya.

“Lah, bagaimana kamu ini? Tidak usah sungkan untuk bercerita. Siapa tahu aku bisa bantu. Eh, tunggu dulu. Bukan mau pinjam uang kan?” temannya semakin penasaran akan kebingungan pemuda tersebut. Temannya mengira pemuda tersebut akan meminjam uang.

“Ya ampun mas. Kok langsung menuduh seperti itu. Kalau mau minjamin tidak apa-apa.” Dia menjawab pertanyaan temannya.

“Bukan begitu. Saya juga lagi butuh uang soalnya.” Kata temannya lagi.

“Bukan masalah uang. Ini kebingungan yang lain loh mas.” Pemuda itu kembali menjawab temannya.

“Iya, Bingungnya kamu itu kenapa toh?” temannya semakin penasaran dengan kebingungan pemuda tersebut.

“Yakin mas mau mendengarkan kebingunganku yang tidak terlalu penting?” pemuda tersebut masih belum menjelaskan secara langsung.

“Waduh kamu ini. Lama sekali mau cerita. Tidak apa-apa mau itu penting atau tidak penting. Silahkan ceritakan saja bosku.” Temannya mulai merasa kesal dengan pemuda tersebut.

“Baiklah mas kalau begitu. Siap ya mendengarkan.” Dia masih belum langsung menjelaskan.

“Aku duluan ya masuk ke kantor.” Temannya sangat kesal sehingga ingin meninggalkan pemuda tersebut.

“Ha ha ha. Maaf mas aku bercanda loh.” Pemuda tersebut berusaha menenangkan temannya.

“Kamu dari tadi loh mau cerita saja kok lama sekali.” Kata temannya.

“Siap bosku, sekarang langsung kuceritakan.” Pemuda itu mulai menjelaskan.

“Ya cepatlah cerita. Keburu pulang kerja lagi nanti kita ini.” Dengan tidak sabra temannya menyuruh pemuda tersebut segera cerita.

“Begini mas. Di samping kantor kita ini kan ada toko.” Pemuda tersebut mulai menjelaskan.

“Terus emang kenapa? Mau kamu beli tokonya?” potong temannya.

“Lah mas ini bagaimana sih. Kan aku belum selesai bercerita langsung dipotong.” Pemuda tersebut protes karena penjelasannya dipotong oleh temannya.

“Maaf mas. Aku hanya agak kesal karena kamu lama sekali cerita dari tadi.” Kata temannya sambil menahan kesal.

“Nah dipotong begini kan makin lama jadinya ceritanya.” Kata pemuda tersebut.

“Iya iya maaf. Silahkan dilanjutkan kembali ceritanya bosku. Tidak pakai lama ya.” Kata temannya.

“Tadi sampai mana ya aku cerita mas?” tanya pemuda tersebut.

“Baru juga mulai cerita.” Jawab temannya.

“Oh iya ya masih pembukaan tadi ceritanya.” Kata pemuda itu lagi

“Iya cepatlah cerita.” Sambil menahan emosi, temannya mempersilahkan pemuda itu cerita.

“Ok siap bosku. Jangan dipotong lagi ya.” Pemuda itu benar-benar menguji kesabaran temannya.

“Siap bosku. Sudah hampir lima menit loh ini. Segeralah mulai cerita yang lengkapnya.” Dengan nada kesal, temannya menyuruh pemuda tersebut segera cerita.

“Ini mau cerita lengkap loh mas.” Kata pemuda itu.

“Ok silahkan.” Temannya mempersilahkan pemuda itu untuk cerita yang lengkap.

“Jadi begini mas. Di samping kantor kita ini kan ada toko. Nah mas merasa ada yang aneh gak di halaman tokonya hari ini?” pemuda itu mulai menjelaskan dan menanyakan ke temannya soal kebingungannya.

“Aneh bagaimana ya maksudnya? Sepertinya biasa saja tokonya begitu saja dari kemarin-kemarin.” Jawab temannya.

“Coba nanti diperhatikan lagi lebih teliti mas apa keanehannya.” Kata pemuda itu kepada temannya.

“Ok siap. Emangnya apa yang aneh ya?” tanya temannya dengan penasaran.

“Di depan toko itu kan setiap hari ada boneka balon yang joget-joget kalau ditiup angin. Nah itu yang buat aku bingung. Hari ini mengapa tidak ada ya?” Pemuda itu bertanya soal kebingungannya.

“Ya ampun kamu bingung hanya soal boneka balon joget yang tidak ada dihalaman toko itu?” dengan sangat kesal temannya mendengar pertanyaan pemuda tersebut.

“Iya mas.” Jawab pemuda itu dengan santai.

“Seandainya aku atasan kamu pasti sudah kuberikan surat peringatan kepadamu.” Temannya sangat marah sekarang.

“Loh kenapa mas?” tanya pemuda itu dengan wajah bingung.

“Buang-buang waktu hanya menceritakan hal yang tidak penting.” Kata temannya sambil bersiap untuk meninggalkan pemuda tersebut.

“Tadi kan sudah saya informasikan kebingungan saya tiak terlalu penting. Mas penasaran dengan cerita caya. Jadi saya ceritakan kepada mas.” Kata pemuda itu. Dia sama sekali tidak menunjukkan perasaan bersalah atas pertanyaannya yang membuat temannya marah.

Teman pemuda itu kemudian membalikkan badan dan tidak mau berbicara lagi. Dengan menyimpan rasa kesal karena percakapan tidak penting di pagi hari dia berjalan cepat masuk ke dalam kantor. Tinggallah pemuda itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pemuda itu semakin kebingungan sekarang.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ian Bangun

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap