Kecintaan akan Sapi di India dalam Pandangan Sosial-Ekonomi

Kecintaan akan Sapi di India dalam Pandangan Sosial-Ekonomi 1

Pernahkah kalian berpikir bahwa bencana kelaparan yang sering melanda jutaan orang di India akan bisa teratasi jika saja mereka mau memakan daging sapi ? Inilah yang sering menjadi perdebatan bagi para pakar di Barat, mulai dari pakar ekonomi sampai agribisnis semua mempertanyakan mengenai fenomena tersebut. Selama ini sebagian anggapan yang beredar terkait mengapa orang India yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan sapi terkait dengan kepercayaan mereka yang menggangap bahwa sapi, terutama sapi betina adalah suci karena merupakan lambang dari kehidupan, sehingga tidak ada penistaan yang lebih tinggi daripada penistaan jika membunuh sapi. Namun apakah larangan memakan sapi hanyalah sebatas kepatuhan terhadap larangan agama ? ataukah terdapat penyebab lain yang lebih praktis atas fenomena tersebut ? 

Marvin Harris dalam salah satu bukunya yang berjudul Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir mencoba menjawab dan menjelaskan, bahwa sebenarnya ada penjelasan logis mengenai kesakralan sapi dalam masyarakat Hindu di India dan bagaimana hewan tersebut dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat India.

Sapi dan Konflik

Ribuan orang terlibat dalam festival melempar kotoran sapi di India Selatan
Ribuan orang terlibat dalam festival melempar kotoran sapi di India Selatan

Pemujaan terhadap sapi pada masyarakat India pada umumnya adalah hal yang biasa karena mayoritas masyarakat yang beragama Hindu, namun kecintaan terhadap sapi ini terkadang sampai pada tahap ekstrem dimana terkadang hal ini memunculkan konflik berdarah antar berbagai golongan masyarakat. Sebagai negara besar dengan berbagai suku dan agama, konflik seringkali terjadi, dan konflik akibat pemujaan berlebihan terhadap sapi bukanlah suatu hal yang dapat diremehkan. Konflik semacam ini pada umumnya terjadi antara komunitas muslim dan kelompok ekstremis Hindu, dimana terdapat perbedaan besar pada keduanya, yang antara lain karena di orang Muslim yang haram memakan babi tetapi menyantap sapi, dianggap oleh para ekstremis Hindu tersebut sebagai pembantai sapi. Sebelum Pakistan terbentuk sebagai negara terpisah, konflik seperti ini rawan terjadi, seperti pada tahun 1917 dimana konflik tersebut menyebabkan 30 orang tewas dan 170 desa dibakar. 

Tidak hanya terjadi antara orang-orang Hindu dan komunitas Muslim, tetapi kekacauan yang ditimbulkan oleh adanya praktik kecintaan sapi yang berlebihan ini juga turut meramaikan dinamika panggung perpolitikan di India, dimana pertentangan banyak  terjadi antara Partai Kongres yang berkuasa dengan fraksi-fraksi ekstremis pemuja sapi. Salah satu kerusuhan terbesar yang pernah terjadi adalah protes yang terjadi pada 7 November 1966 dimana  gerombolan massa sebanyak 120.000 orang yang dipimpin oleh sekelompok pertapa suci yang telanjang, bergerak ke arah Gedung Parlemen untuk memprotes penyembelihan terhadap sapi. Protes yang awalnya damai ini berakkhir dengan ricuh yang membuat 8 orang terbunuh dan sejumlah 48 orang terluka, namun protes tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. Segera setelah itu gerakan puasa yang dilakukan oleh kalangan orang suci di bagian utara segera dilakukan dipimpin oleh Presiden Komite Kampanye Perlindungan Sapi. 

Sapi sebagai Pembawa Berkah Bagi Masyarakat Golongan Bawah

Seorang wanita meminta berkat pada seekor sapi di jalan
Seorang wanita meminta berkat pada seekor sapi di jalan

Kecintaan terhadap sapi tidak selalu berakhir dengan buruk, bahkan dalam banyak cara hewan yang satu ini telah banyak mengubah wajah masyarakat India baik mereka yang tinggal di perkotaan maupun yang ada di desa. Seperti misalnya panti jompo yang didirikan oleh badan pemerintah yang digunakan para pemiliki sapi untuk menempatkan sapi mereka yang sudah tua dan rentan. Sementara itu banyak pos polisi yang di kota yang banyak menampung sapi-sapi yang nyasar dan merawatnya hingga sehat kembali.  

Di desa kecintaan terhadap tercermin dari bagaimana para petani memperlakukan sapi mereka, dimana banyak dari para petani tersebut yang menganggap sapi tersebut sebagai anggota keluarganya bahkan dalam event-event tertentu sapi tersebut didandani dan kelahiran anak sapi dirayakan dengan cara mengundang pemuka agama dan para tetangga. Di luar kecintaan akan sapi tersebut, sebenarnya sapi memainkan peranan yang besar atas keberlangsungan para penduduk desa. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa sebagian sapi yang diternakkan di India adalah sapi zebu. Berbeda dengan sapi perahan yang banyak diternakkan di Amerika , sapi zebu tidak diternakkan untuk diambil susunya, sapi ini dikenal luas menjadi andalan para petani dikarenakan memiliki ketahanan fisik yang luar biasa, dimana sapi-sapi tersebut dapat bertahan  hidup dalam kemarau panjang hanya dengan berbekal sedikit makanan dan air selain juga berguna sebagai alat tranportasi darat di desa.

Sapi yang berkeliaran bebas di jalan merupakan pemandangan biasa di kota-kota India 
Sapi yang berkeliaran bebas di jalan merupakan pemandangan biasa di kota-kota India 

Pemanfaatan sapi zebu tidak terbatas pada tenaganya yang sangat berguna dalam membajak sawah, tetapi kotoran dari hewan tersebut juga terbukti memiliki banyak kegunaan selain menjadi pupuk, yaitu sebagai bahan bakar untuk memasak. Membayangkan kotoran sapi di dapur mungkin dapat membuat kita kehilangan selera makan, namun pemandangan seperti ini lazim ditemui. Biasanya anak-anak akan pergi mengikuti para sapi lalu pulang dengan seonggok kotoran, kotoran tersebut lalu dikeringkan sehingga nantinya dapat digunakan untuk membakar. Sebagai bahan bakar memasak, kotoran sapi sangat cocok dengan urusan rumah tangga ibu-ibu di pedesaan India, karena api yang dihasilkan dari kotoran sapi ini cenderung awet dan lambat, sehingga makanan yang ditinggalkan berjam-jam karena para ibu tersebut memiliki segudang kegiatan tidak akan cepat gosong. Fungsi lain dari kotoran sapi adalah jika dicampur dengan air maka dapat menjadi adonan yang dapat digunakan sebagai bahan membuat lantai. Nantinya lantai yang terbuat dari adonan kotoran yang dibiarkan sampai mengering tersebut dapat menjaga debu tetap di lantai sehingga mudah untuk disapu bersih.

Yang menarik adalah dalam kondisi ekstrem seperti kemarau berkepanjangan sampai hujan tidak turun bermusim-musim, para petani tersebut sebenarnya sangat tergoda untuk memakan sapi-sapi mereka. Namun dengan memakan sapi mereka sendiri, sebenarnya petani tersebut telah memastikan bahwa datangnya ajal justru semakin mendekat dikarenakan pada saat nanti musim hujan akhirnya datang mereka tidak dapat lagi membajak sawah, dan walaupun mereka bisa menyewa sapi pada pemilik sapi lainnya itu berarti ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. 

Dalam hal ini kecintaan akan sapi sejatinya dapat dipandang sebagai bentuk resistensi penduduk desa di India dalam rangka bertahan hidup melawan kesulitan ekonomi dan kondisi alam yang ekstrem. Dimana efisiensi dari ternak tersebut terletak bukan karena produk yang dihasilkan melainkan pada sifat penduduk desa yang begitu utilitarian, yang tidak mensia-siakan tetapi justru memanfaatkan setiap bagian dari hewan ternak tersebut secara maksimal. Sifat boros dan menyiakan sebenarnya muncul dalam pertanian modern ala Barat, seperti misalnya kotoran sapi dalam peternakan sapi perah modern hanya berakhir menjadi limbah yang justru mencemari sungai. Dengan begitu modernisasi pertanian maupun industri besar berenergi tinggi bukanlah jawaban yang tepat dalam meningkatkan “efisiensi” pada pertanian tradisional yang sangat bergantung pada sapi di India.

Referensi :

Harris, Marvin. 2019. Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir. Tangerang Selatan : Marjin Kiri

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Wicked Minds