Kehadiran Romansa dan Realita di Ibukota


Kehadiran Romansa dan Realita di Ibukota 1

Keindahan ibukota yang dirasakan memberikan sejuta impian dan cita-cita kepada setiap insan, memandangi tingginya pencakar langit yang menyangga perekonomian negara, kebiasaan yang bermandikan keringat dan kebosanan. Pemandangan yang melukiskan usaha dalam mewujudkan kemerdekaan secara finansial dan kebebasan membawa ke dalam pencobaan yang harus dihadapi setiap harinya.  

Hari-hari yang dilalui selalu mempertanyakan keyakinan untuk mewujudkan mimpi, tenggelam dalam kebimbangan yang harus dipendam dalam hati. Mengenakan dasi dan kerah putih dalam ruangan yang berisikan keramaian, jalur Jakarta-Bogor pun harus dilalui. Mahalnya kebutuhan tak memberikan penghiburan sebab anak dan istri tidak makan dari reputasi. Realita tak semudah membalik telapak tangan. 

Kekhawatiran di jam makan siang pun tercurahkan dalam sebatang rokok yang dibakar, asap yang menghampiri muka menjadi teman di kala hancur diri ini. Kehidupan yang selalu menuntut demi sebuah istilah yang dinamakan kemajuan, namun realitanya berbanding terbalik, hanya memuaskan ego dari kebenaran yang semu. Waktu yang selalu menjadi teman pengingat, tak bisa berganti peran menjadi penolong hidup. 

Kegagalan sudah menantikan kehadiran manusia untuk bertemu sapa, kegagalan membawa manusia ke dalam siksaan abadi nan mematikan. Pengorbanan diri dilakukan untuk memulai langkah demi pencapaian yang tidak pasti, keluar dari zona nyaman. Bertaruh dengan kehidupan dengan modal keberanian pasti membawakan perasaan ketakutan, badan dan mental pun siap untuk dijadikan sebagai korban.

Tipu daya yang dilakukan merupakan inti terpenting dalam mencapai keberhasilan di ibukota. Berpura-pura hanyalah alat pancingan raksasa korporasi kepada masyarakat. Mereka layaknya nelayan sedang memancing ikan di laut, hanya perusahaan memancing dengan hal yang diingini oleh semua orang, yakni upah. Tak peduli seberapa besar atau kecil, mereka menginginkan uang untuk menggapai keinginannya, perbudakan modern terjadi di ibukota. 

Arena pertandingan kehidupan yang ditawarkan oleh ibukota menghasilkan begitu banyak korban yang berjatuhan karena kalah bersaing. Lidah yang memangsa dengan penuh tipu daya layaknya seekor ular, menghilangkan takdir seseorang dalam sekali patukan. Kepalsuan merupakan kunci kesuksesan dalam menggapai impian. Bila tidak memiliki kemampuan ini, maka harus ucapkan selamat tinggal pada impian. 

Perbanyak senyum palsu sebagai topeng untuk menerima kehadiran orang lain, meski hati yang menderu keras dalam kebencian. Kota yang menyaksikan segala tipu daya dengan kekuatan kemewahan. Manusia selalu menyegarkan hati dan mata dengan menyaksikan keindahan dan kemewahan, harga setinggi langit demi mendapatkan penghormatan dari langit. Apa daya keuangan hanya mampu membeli dari tanah abang. 

Ibukota menjadi latar kisah romansa yang diyakini begitu indah nan bahagia, sebuah romansa modern yang mengikuti perkembangan zaman. Dua manusia sedang kasmaran di perhentian lampu merah, membangun kisah romansa di tengah hiruk pikuk jalanan ibu kota. Perbedaan kasta memberikan kebahagiaan tersendiri dalam membangun kisah romansa, keramaian pun menyaksikan kisah mereka. 

Kebahagiaan yang menggelora dari pasangan tersebut membawa ke jenjang yang lebih tinggi, keyakinan mengutarakan untuk menjadi satu daging. Namun, realita yang sesungguhnya tak seindah yang diperkirakan oleh beberapa manusia. Kehancuran diri manusia berawal dari gagalnya kisah romansa, realita ibu kota merupakan salah satu faktor kegagalan kisah romansa. 

Kenyataannya mengatakan bahwa manusia memiliki ketakutan untuk bertemu orang baru, kenyataan tersebut diyakini oleh beberapa manusia. Perbedaan kasta merupakan ketakutan terbesar yang harus dihadapi oleh manusia. Dari rapinya cara berpakaian hingga mewahnya tempat tinggal yang ia miliki, menandakan adanya kesenjangan sosial. Ketakutan tersebut menghadirkan tembok penghalang dalam menciptakan hubungan baru.

Kesetiaan yang hadir dalam kisah romansa seseorang pun patut dipertanyakan, apakah kesetiaan sebanding dengan materi yang diberikan? Beberapa orang meyakini kesetiaan mampu dibeli dengan materi yang sepadan. Omongan ini terkesan remeh dan candaan, namun kenyataan berbicara seperti ini. Bila semuanya bisa dibeli dengan materi, maka masih adakah kesetian hadir di ibukota?

Kemewahan ibukota tidak selalu menyediakan kelengkapan dari keinginan manusia karena kemewahan hanya bisa dirasakan oleh beberapa kalangan saja. Rupanya, kesetiaan tidak disediakan oleh kelengkapan ibukota, hal ini hanyalah kemustahilan belaka. Ibukota hanya memberikan keraguan yang membawa seseorang untuk patut mempertanyakan kesetiaan seseorang.  

Materialis yang dijadikan sebagai tolak ukur kehidupan membawa kehancuran bagi harapan sesama. Mirisnya kisah romansa yang didasari oleh uang akan berlalu sangat cepat. Perjuangan seseorang dalam menghadapi teriknya matahari akan tergantikan oleh seseorang yang datang memberikan kemewahan baginya. Ini merupakan sebuah fakta yang pahit dari kisah romansa ibukota, namun hal ini benar adanya.

Jantung nusantara memusatkan pikiran ke dalam kemewahan yang memberikan harapan akan kepastian kehidupan. Padahal, ibukota memburu keluguan dari orang terpencil yang memiliki impian yang besar. Mengenakan jas rapi dan sepatu mengkilap, memasuki kawasan sudirman dengan perasaan elegan, itulah harapan orang-orang akan ibukota. Faktanya, kebusukan juga berasal dari kemewahan.

Roman manusia ibukota dengan manusia dari daerah terpencil juga tidak jauh berbeda, hanya penilaian dari lingkungan yang menjadikan berbeda. Kehangatan hanyalah pemanis belaka, kekayaan merupakan tujuan hidup manusia di ibukota. Mimpi yang terbelenggu merubah perilaku manusia menjadi dingin. Kepasrahan pun dirasakan setiap hari. Yang penting, bisa makan setiap hari. 

Kemewahan tidak menutup kebusukan yang mengikuti dari penawaran ibukota, fasilitas yang dapat memenuhi mimpi dan keinginan manusia pun berisi kepalsuan. Realita mengatakan hidup di ibukota selalu bertemu manusia yang mengenakan topeng karena kita tidak tahu membedakan kepalsuan dengan kebenaran. Rasanya tujuan basa-basi agar mendapatkan keuntungan, seperti kisah romansa ibukota yang memiliki tujuan untuk menguntungkan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dyingwitness

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap