Kehidupan, Hanya Untuk Sementara

Kehidupan, Hanya Untuk Sementara 1

Usia 14 tahun adalah usia yang sepantasnya untuk bersenang – senang menikmati indahnya dunia tanpa ada yang menghalangi. Semua kegiatan yang menyenangkan seakan bisa dilakukan, karena usia 14 tahun adalah masa muda untuk mengekspresikan segala hal tentang kemampuan kita. Tetapi ini mungkin tidak berlaku bagi Rani. Baginya diusianya sekarang ini adalah masa untuk berjuang mempertahankan hidup, jika diibaratkan dirinya tersebut antara hidup atau mati. Sudah hampir tiga bulan ia merasakan sakitnya mempertahankan kehidupannya. Ia terkena penyakit kanker darah atau biasa kita kenal dengan “Leukemia.” Ia pun diharuskan untuk melakukan kemoterapi  sebanyak lima kali. Namun, Rani baru melakukan kemoterapi sebanyak dua kali. Sehingga, terasa panjang lagi baginya memepertahankan penyakitnya yang belum juga selesai.

 Rani pun hanya bisa terdiam di kamarnya, karena ia juga harus merasakan rambutnya yang setiap hari semakin berkurang akibat kemoterapi tersebut. Ia pun juga tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena sudah terkena kanker stadium 4.  Cita – citanya yang ingin menjadi dokter pun terhalang.

Penyakit memang merubah segalanya. Dari hal yang paling sederhana hingga berat sekali pun pasti tidak akan bisa dilakukan. Impian seakan hancur begitu saja, orang – orang terdekat pun seakan lelah melihat keadaan tersebut. Orang tua Rani hanya bisa melihat keadaan anaknya sesekali saja, karena mereka sangat sibuk bekerja. Sehingga seperti tidak ada waktu saja untuk anaknya. Terlebih lagi Rani adalah anak tunggal, semakin terasa baginya kesepian yang benar – benar menyiksa dirinya.

Selama menjalani proses pengobatan Rani selalu membuka jendela kamarnya, untuk menikmati udara pagi dan melihat orang – orang yang sedang bermain. Kebetulan kamar Rani berada di atas sehingga ia dengan bebas melihat orang – orang yang sibuk dengan canda tawanya, tanpa ada yang mengetahui kecuali orang tersebut memang menghadap ke atas. “Andai aku bisa seperti mereka, hari – hari pasti dilalui sangat sebentar karena dipenuhi dengan canda tawa,” ujar  Rani dengan nada lemas.

Rani terus memandang ke luar jendela, hingga ia tidak sadar bahwa telah tertidur di kursinya. Namun, tiba –tiba seorang anak laki – laki memanggilnya dengan suara cukup keras, “Hei yang di atas!” dengan teriakan yang cukup keras. “Apa dia masih hidup?” ujar laki – laki tersebut dengan suara berbisik. Laki – laki itu mengulangi memanggil Rani dengan suara yang semakin keras berharap Rani mendengar dan terbangun. Suara yang cukup keras membuat Rani terkejut dan langsung memandang ke luar jendela. “Apa kau memanggilku?” Rani bertanya dengan ragu – ragu. “Iya, aku memanggilmu. bisakah kamu turun? aku sendirian dan sekarang ini aku perlu teman untuk berbicara.” Kata laki – laki tersebut penuh harap. Tanpa memikirkannya lagi Rani langsung turun menghampiri orang yang baru saja ia kenal.

“Hai perkenalkan namaku Andre, usiaku 16 tahun dan namamu siapa?” kata anak laki – laki tersebut memperkenalkan diri. “Namaku Rani.” Rani menjawab dengan ragu – ragu. Walaupun demikian mereka terus berbicara mengenai berbagai hal, mulai dari kehidupan mereka hingga hal yang paling tidak penting pun mereka bicarakan. Rani pun semakin mengerti dengan kehidupan Andre yang hampir sama dengan dirinya, tidak terlalu dipedulikan oleh orang tua karena sibuk dengan pekerjaan. Namun, Andre masih bisa untuk bersekolah. Sedangkan Rani hanya menceritakan kepada Andre tentang kesamaan hidupnya dengan Andre. Ia tidak mau menceritakan tentang penyakit yang hampir membunuhnya.

Hari semakin sore, Rani dan Andre seakan tidak ingat dengan waktu karena keasyikan menceritakan hidup mereka. “Aku pulang dulu ya, udah sore ni. Oh iya, besok aku jemput kamu lagi ya, tapi siang aja ya soalnya pagi aku mau ke sekolah. Oke?” ujar Andre. “Oke Andre.” Ujar Rani dengan semangat.

Mereka kembali ke rumah masing – masing dengan membawa kebahagiaan, karena telah menemukan teman yang dengan setia mendengarkan segala keluh kesah. Namun, disisi lain mereka masih menyimpan kekecewaan yang cukup berat akibat orang tua mereka sibuk dengan pekerjaan. Orang tua Rani dan Andre sama – sama bekerja menjadi arsitek. Mereka hanya memiliki waktu di pagi hari untuk berbicara dengan anak – anaknya, karena jarak antara rumah dengan tempat kerja tersebut cukup jauh mengharuskan orang tua mereka pulang malam hari.

Di pagi harinya, “Rani bangun lagi, ini udah pagi. Ibu dan Ayah mau berangkat kerja, kita sarapan dulu ya.” Ujar Ibu dengan suara lembut. Rani pun hanya bisa mengangguk, dan segera mencuci muka agar terlihat segar. “Nanti Ibu dan Ayah usahakan pulang cepat, kamu ingat kan hari ini?” ujar Ibu. “Ya bu aku ingat,” ujar Rani lemas. Sebenarnya Rani hari ini harus di kemoterapi, ini adalah kemoterapi yang ke 3 kalinya. Harapannya ia ingin selesai dengan segala hal tentang pengobatan ini dan tentunya ia sangat bosan melihat rumah sakit. Baginya, perawat maupun dokter di sana pasti sudah bosan dengan pasiennya yang bernama “Rani” yang tidak pernah absen dari rumah sakit. Ia pun menjadi terkenal di rumah sakit tersebut karena terlalu sering mengobati penyakitnya.

Setelah beberapa lama, akhirnya Ibu dan Ayah pergi bekerja. Seperti biasanya Rani ditinggalkan sendiri di rumah ditemani dengan kursi yang seakan siap dengan keluh kesah kehidupannya. Rani dengan cepat membuka jendela kamarnya, ia sudah tidak sabar melihat keadaan di luar rumahnya walau hanya melihat dari jendela kamarnya. “Oh iya aku kan ada janji dengan Andre, tapi itu kan siang. Ini aja masih pagi, bisa – bisa aku ketiduran nunggu Andre. Hufft.” Ujar Rani. “Kalau diliat – liat Andre itu ganteng juga ya, kayak artis korea aja. Kulitnya putih, tinggi, tampan. Ah mukjizat dari mana ini datang, ini merupakan suatu keajaiban yang tidak terduga. Terima kasih Ya Allah.” Ujar Rani di dalam hati, menghibur diri.

Akhirnya setelah lama menunggu, Andre pun datang. Belum sempat Andre memanggil, Rani sudah lari untuk menemui teman barunya itu. “Hai, bagaimana cepat kan aku lari?” tanya Rani dengan napas yang belum teratur.”Ya boleh lah, bagaimana kalau kegiatan kita hari ini lomba lari? Siapa yang kalah harus gendong yang menang?” ujar Andre. “Baiklah, siapa takut.” kata Rani dengan semangat. Rani seakan – akan lupa dengan penyakitnya, terlebih lagi hari ini ia harus dikemoterapi. Tentunya ia harus menjaga kesehatannya agar tetap stabil, tetapi nyatanya ia tidak mempedulikan hal itu.

1, 2, 3 lariiii. Suara teriakan Andre memulai perlombaan. Mereka hanya berlari di sekitar rumah Rani yang tentunya jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, karena kondisi fisik Rani yang tidak memungkinkan, ia mulai merasakan pusing dan mual. “Andre aku tak tahan lagi, aku kalah deh.” Ujar Rani menerima kekalahan. “Ah kamu baru aja sebentar, berarti kamu gendong aku ya….” Ujar Andre.” Kamu curang kok perempuan yang gendong laki – laki, seharusnya kan kebalikannya.” Ujar Rani kesal. “Tapi perjanjian awalnya kan seperti itu, siapa yang kalah maka dia gendong yang menang. Kamu ini gimana sih?” ujar Andre berbalik kesal. “Ya ya aku mengerti aku salah, tapi jangan lama – lama ya aku capek.” Kata Rani menerima kekalahan. “Oke!” jawab Andre dengan penuh semangat.

Dengan tenaga yang tersisa Rani berusaha terlihat sehat. Padahal ia tahu bahwa fisiknya tidak lagi seperti yang dulu, selalu sehat dan bugar. Tetapi, semenjak adanya Andre di sampingnya membuat semangat itu seakan bangkit seperti yang dulu. “Ayo dong Rani bawa aku jalan – jalan, kalau perlu kita pergi ke sebuah desa dan kita dengan puas bercanda tawa di sana. Hahahaha aku terlalu banyak menghayal ya?” ujar Andre yang sedang keasyikan digendong oleh Rani. ”Ah udah dulu ya capek ni Andre, aku mau istirahat. Besok aja ya kita lanjutkan, aku juga ada janji dengan orang tuaku.” Kata Rani sambil menurunkan Andre dari punggungnya dan langsung meninggalkan Andre.

Andre pun menjadi kebingungan melihat Rani. Ia pun baru sadar bahwa ia masih tahap awal perkenalannya dengan Rani, namun entah mengapa Andre merasa ia seperti sudah kenal lama dengan Rani dan menganggap seperti sahabat ataupun lebih ah sudahlah. “Seharusnya aku harus pahami dia dulu, baru aku bisa bertindak. Kalau seperti ini aku jadi tidak enak sama Rani. Baiklah besok aku akan datang lagi ke rumahnya dan minta maaf dengan kejadian yang tadi.” Ujar Andre di dalam hati dan pergi meninggalkan rumah Rani. ”Kalau diliat – liat Rani itu cantik juga ya, apa aku punya perasaan lebih. Eh inikah namanya cinta? Apa aku jatuh cinta? Ah sudahlah aku bingung….” Ujar Andre sambil menggaruk – garukkan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Waktu pun berjalan begitu cepat, hingga akhirnya Ibu dan Ayah Rani pulang. Dengan tergesa – gesa Ibu lari menemui anaknya, memastikan anaknya dalam keadaan baik – baik saja. Namun betapa terkejutnya Ibu, bagaikan tertimpa badai yang cukup kuat. Ibu langsung terduduk di lantai seakan – akan masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Untuk berbicara atau pun memanggil suaminya saja ia merasa tidak sanggup. Entah bagaimana kejadiannya, Rani sudah terbaring lemah di lantai kamarnya.

“Rani, Rani, bangun nak….” Ujar Ibu sambil menangis. Mendengar ada suara tangisan di kamar Rani, Ayah dengan cepat menghampiri. “Rani, kenapa kamu nak?” Ujar Ayah terkejut melihat keadaan anaknya. “Ibu, mengapa tidak bilang dari tadi? Kenapa Rani nya? Mengapa bisa seperti ini?” tanya Ayah. Ibu tidak mau menjawab apa pun, ia hanya terdiam dan masih menangis seperti orang yang tidak tahu arah kehidupan. Ayah yang dari tadi menunggu jawaban dari Ibu yang tidak kunjung dijawab, akhirnya dengan cepat menggendong Rani untuk dibawa ke rumah sakit. ”Jangan diratapi saja, kita bawa Raninya ke rumah sakit.” Ujar Ayah. Ibu pun hanya mengangguk menjawab saran dari Ayah.  

Di rumah sakit Ibu dan Ayah hanya bisa terdiam, karena keadaan Rani sudah semakin parah. Dokter mengatakan bahwa Rani koma, dan umurnya hanya tinggal menghitung hari. Kemoterapi yang ke 3 pun gagal dilakukan. Semua impian untuk kembali pulih pun seakan kandas begitu saja. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi, selain mukjizat dari Allah semata.

Keesokan harinya, di pagi yang cerah Ayah pulang ke rumah untuk mengambil barang – barang yang akan diperlukan di rumah sakit. Tetapi ketika Ayah sampai di rumah, ada seorang anak laki – laki yang berteriak memanggil nama Rani. Namun, Ayah sangat kebingungan kenapa ia memanggil tepat menghadap kamarnya Rani? Ia seakan tahu semua tentang Rani. Tanpa berpikir panjang lagi, Ayah langsung menghampiri anak laki – laki tersebut.

“Hmm, lagi cari Rani ya?” tanya Ayah kepada anak laki – laki tersebut. “Ini Ayahnya Rani? Perkenalkan Om nama saya Andre. Saya teman barunya Rani. Raninya dimana ya Om? Soalnya dari tadi saya panggil tidak keluar juga, dan juga biasanya dia selalu membuka jendela kamarnya. Tetapi kali ini mengapa ia tutup? Apa ada masalah Om?” tanya Andre panjang lebar. “Teman barunya Rani ya. Sebenarnya Rani tidak ada di rumah, seharusnya semalam itu ia harus dikemoterapi. Tetapi entah mengapa ia sudah terbaring lemah di lantai kamarnya, jadi ia sekarang dirawat di rumah sakit. Sabar dulu ya Andre, doakan aja biar Raninya cepat sembuh dan bisa bercanda tawa lagi dengan kamu.”        Ujar Ayah.

Mendengar hal itu, Andre semakin gelisah dan memutuskan untuk lari menuju rumah sakit. Belum sempat ia berlari cukup jauh, tiba – tiba ia tertabrak oleh mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuh Andre terpental hingga ke semak – semak. Tubuh yang dari awal bersih akan hal yang tidak inginkan, sekarang menjadi darah yang terus mengalir tanpa henti.

Ayah Rani yang tujuan awalnya untuk mengambil barang yang diperlukan, kini harus rela berganti dengan Andre yang sudah berlumuran darah. Dibantu dengan orang – orang sekitar, Andre akhirnya dapat dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil Ayahnya Rani. Namun, takdir tidak bisa mengalahkan segalanya. Andre tidak dapat ditolong lagi.

Tidak ada yang perlu disesalkan, jika dari awal tidak mempedulikan. Namun, inilah yang terjadi di setiap orang, yang tidak mengerti akan kebahagiaan hidupnya kelak bersama orang yang mereka sayangi. Sama seperti orang tua Andre yang menyesal tidak terlalu mengurus anaknya dan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sekarang ini hanya tersisa kesedihan yang berkepanjangan dan terlebih lagi Andre adalah anak satu – satunya.

Selesai sudah hari itu proses pemakaman Andre. Ibunya Rani tidak bisa hadir dalam proses pemakaman Andre karena harus menjaga Rani yang sudah 2 hari koma. Namun Ayahnya bersedia menghadiri proses pemakaman sampai dengan selesai. Semenjak kepergian Andre untuk selamanya, Ayahnya Rani menjadi lebih mengerti apa saja kewajiban orang tua dalam membimbing anak agar ia tidak terlalu merasa terbebani dalam menjalani hidup. Ayahnya semakin sadar bahwa anaknya ini adalah titipan dari Allah yang harus dijaga dengan sebaiknya – baiknya.

Hari – hari dilewati dengan penuh teka – teki kehidupan. Rani belum juga sadar dari komanya. Entah kapan ia akan sadar, dan bisa menjalankan rutinitas seperti biasa. Ibunya tertidur karena sudah lelah dari pagi hingga malam menjaga Rani, sedangkan Ayah yang awalnya antusias ingin menjaga kini akhirnya tertidur juga.

Tetapi tanpa mereka sadari, jantung Rani berhenti berdetak. Perawat yang awalnya masuk untuk mengecek keadaan Rani, kini berganti dengan kepanikan. Mereka mempredeksi Rani akan meninggal besok harinya, itu adalah prediksi dokter namun tidak pada kehendak Yang Maha Kuasa. Perawat langsung membangunkan Ayah dan Ibunya Rani. “Ibu, Pak. Bangun bangun.” Ujar perawat itu dengan gelisah. Sebelumnya ia memanggil temannya agar memastikan pasiennya tersebut masih bisa bertahan atau tidak.

“Ayolah, anak saya masih bisa hidup. Dia tidak mungkin meninggal, tolong lakukan sesuatu.” Ujar Ibu kepada semua perawat yang sedang berada di ruangan, sambil menangis. “Ibu alat pendeteksi detak jantung ini tidak rusak, ia bertugas dengan semestinya. Ibu ini adalah takdir dari yang di atas, yang tidak bisa kita tolak. Jadi, Ibu dan Bapak terima segala keputusan yang di atas, jika Ibu dan Bapak sabar dan terima pasti ada hikmahnya dibalik kejadian ini.” Ujar salah satu perawat tersebut menasehati dan berusaha menahan air matanya yang dari tadi jatuh.”

Akhirnya dengan berat hati Ayah dan Ibu menerima anaknya pergi untuk selama – lamanya. Sekarang yang tersisa hanyalah kenangan yang akan selalu diingat dalam kondisi apapun. Mengingat Rani adalah anak satu – satunya yang pastinya harus dijaga. Namun, semenjak penyakitnya mulai memuncak, kasih sayang orang tua pun gagal ia dapatkan karena orang tuanya sibuk bekerja. Waktu seakan habis begitu saja, seperti tidak ada keterangan yang jelas dalam menghadapi kehidupan. Semua kandas dan berakhir dengan penyesalan yang selalu hadir di ujung kehidupan.

Hari ini adalah hari Jumat, di mana Rani dikuburkan di tempat pemakaman umum. Banyak yang hadir dalam proses pemakaman termasuk perawat dan dokter yang dengan setia menjaganya sewaktu ia koma di rumah sakit. Tidak terlalu banyak hal yang dibicarakan untuk saat ini, karena semua yang hadir berada dalam kesedihan yang sangat mendalam. Begitu juga setelah proses pemakaman, masih banyak yang berdatangan untuk sekadar memberi semangat kepada Ibu dan Ayahnya Rani.

Semenjak kepergian Rani, Ayah dan Ibu semakin dekat dengan tetangga. Terkadang mereka sampai tidak ingat waktu lagi karena keasyikan berbicara dengan tetangga sekitar. Tetapi mereka pastinya tidak akan lupa dengan pekerjaan mereka. Entah mengapa Ibu jadi teringat dengan kata – kata perawat tersebut, bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir dan pasti tidak bisa ditolak. Jika sabar dalam menjalani pasti akan ada hikmahnya dibalik semua itu. Kini Ibu dan Ayahnya Rani telah membuktikannya, tetangga yang dari dulu tidak pernah mereka pedulikan karena sibuk dengan pekerjaan sekarang menjadi kebiasaan mereka yang harus dilakukan untuk kepedulian sosial mereka. Serta, tentunya mereka selalu mendoakan anaknya, Rani. “Tenang disana Rani. Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ujar Ibu.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti